detikNews
Selasa 23 Juli 2019, 17:39 WIB

Boris Johnson, Mantan Wali Kota London Difavoritkan Jadi PM Baru Inggris

BBC World - detikNews
Boris Johnson, Mantan Wali Kota London Difavoritkan Jadi PM Baru Inggris
London - Boris Johnson disambut pemrotes yang membawa poster bertuliskan antara lain Demokrasi dan Kedaulatan di depan kantornya di London, Selasa (23/07). Boris Johnson disambut pemrotes yang membawa poster bertuliskan antara lain Demokrasi dan Kedaulatan di depan kantornya di London, Selasa (23/07). (AFP)

Boris Johnson diperkirakan akan terpilih menjadi ketua partai yang memerintah Konservatif yang otomatis menjadi perdana menteri baru Inggris, dalam pemilihan yang akan diumumkan hasilnya Selasa (23/07).

Saat tiba di kantornya Selasa pagi, Johnson dihadang pemrotes yang membawa spanduk bertuliskan "Kebebasan, Independen, Identitas, Demokrasi, Kedaulatan". Ia tak menjawab sepatah pun pertanyaan dari media.

Johnson dan saingannya, Menteri Luar Negeri Jeremy Hunt melakukan perjalanan keliling Inggris untuk memenangkan suara para anggota partai konservatif yang berjumlah 160.000 orang. Pemungutan suara lewat pos ditutup Senin (22/07).

Mantan wali kota London dan menteri luar negeri yang mundur dari pemerintahan Theresa May tahun lalu ini, merupakan favorit untuk menang dengan sejumlah jajak pendapat menempatkannya sebesar 70%.

Menteri Luar Negeri Jeremy Hunt, saingan Johnson tiba di kantor PM Theresa May 10 Downing Street untuk pertemuan kabinet terakhir.Media Menteri Luar Negeri Jeremy Hunt, saingan Johnson tiba di kantor PM Theresa May 10 Downing Street untuk pertemuan kabinet terakhir. (PA)

Bila terpilih, Johnson akan menggantikan May yang mengundurkan diri usulannya terkait Brexit - Inggris keluar dari Uni Eropa- berulang kali gagal diterima parlemen.

Mantan pemimpin Partai Konservatif, William Hague dalam tulisan di Koran Daily Telegraph, memperingatkan Johnson bahwa dia menghadapi tantangan yang paling besar perdana menteri baru sejak Winston Churchill, Perdana Menteri Inggris saat perang dunia kedua sejak 1940-1945.

Ia mendesak Johnson untuk menjadi figur pemersatu yang diharapkan dapat mencegah Inggris Raya pecah.

"Dear Boris, Seluruh Partai Konservatif memperkirakan kamu akan menjadi perdana menteri. Selamat...Anda membawa harapan, bahkan mereka yang tidak memilihmu, bahwa kamu akan membawa negara dan partai bersatu dan berhasil. Namun Anda menghadapi tantangan paling berat untuk masuk ke No 10 (kantor PM Inggris, 10 Downing Street, London) sejak Churchill," tulis Hague.

Johnson sendiri telah berjanji untuk mengatasi isu Brexit dengan atau tanpa perjanjian pada akhir bulan Oktober.

Sejumlah menteri, termasuk Menteri Keuangan, Philip Hammond, mengatakan akan mundur sebagai protes bila Johnson menang, salah satu petunjuk bahwa terjadi perpecahan di internal Partai Konservatif.

Berdasarkan ketentuan, Theresa May akan mengajukan mundur secara resmi kepada Ratu Elizabeth pada Rabu (24/07) dan Johnson akan secara resmi melakukan audisi dengan Ratu di Istana Buckingham.

Perjalanan karir dari wartawan, wali kota, menteri luar negeri

Sejak menjadi wartawan dan redaktur pada majalah Spectator dan kontestan acara TV, Have I Got News For You, Boris Johnson sudah dikenal karena punya pesona unik yang sering tidak terorganisir.

Dalam perjalanan berikutnya ia menjadi anggota parlemen untuk partai Konservatif pada 2001.

Ia dianggap lebih liberal dibandingkan anggota Partai Konservatif lain.

Sebagai wartawan, ia banyak mempertanyakan dicabutnya undang-undang yang mempromosikan hak homoseksualitas oleh pemerintah daerah. Namun sebagai anggota parlemen, ia mengubah arah dan mendukung perkawinan sejenis.

Johnson merupakan tokoh utama yang mengkampanyekan Inggris keluar dari Uni Eropa. Johnson merupakan tokoh utama yang mengkampanyekan Inggris keluar dari Uni Eropa. (Getty Images)

Pada 2008, ia terpilih menjadi wali kota London menggantikan Ken Livingstone dari Partai Buruh. Ia menjadi wali kota sampai tahun 2016, periode terlama yang pernah ia jabat sebagai pemimpin.

Sebagai wali kota London, ia banyak dibicarakan karena capaian dalam mengurangi kejahatan, meningkatkan perumahan dan transportasi.

Johnson juga mendukung kewenangan polisi untuk menggeledah warga guna mengatasi kejahatan. Ia mengatakan saat itu bahwa dirinya akan tetap menjamin peningkatan jumlah personil polisi walaupun ada pemotongan anggaran pemerintah pusat.

Johnson kemudian diangkat menjadi menteri luar negeri oleh perdana menteri baru saat itu, Theresa May pada 2016.

Jabatannya sebagai menteri luar negeri dianggap sebagai pengakuan atas peranannya sebagai salah satu tokoh sentral dalam kampanye Inggris meninggalkan Uni Eropa.

Ia menjadi salah satu tokoh utama dalam kampanye Brexit dalam referendum pada 2016, masalah yang menyebabkan Theresa May mundur.

Selama kisruh bagaimana memformulasikan kesepakatan Brexit, Johnson tetap menekankan Inggris harus keluar dari Uni Eropa pada tanggal 31 Oktober, dengan atau tanpa kesepakatan.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com