detikNews
Jumat 21 Juni 2019, 02:42 WIB

Lawatan Pertama Xi Jinping ke Korut: Mengapa Terjadi Sekarang?

BBC World - detikNews
Lawatan Pertama Xi Jinping ke Korut: Mengapa Terjadi Sekarang? Presiden China Xi Jinping bertemu pemimpin Korut Kim Jong-Un di Pyongyang (AFP)
Pyongyang - PresidenChinaXiJinping berada di Korea Utara untuk bertemu dengan Kim Jong-un. Lawatan kepala negara China ke Korea Utara ini merupakan yang pertama sejak tahun 2005.

Keduanya pernah bertemu di China sebanyak empat kali. Mereka kali ini dijadwalkan untuk membicarakan mengenai macetnya perundingan program nuklir Korea Utara, selain persoalan-persoalan ekonomi.

China sangat penting bagi Korea Utara, sebagai mitra dagang utama mereka.

Kunjungan Xi ini terjadi seminggu sebelum pertemuan tingkat tinggi G20 di Jepang, di mana ia dijadwalkan untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Ini juga merupakan pertemuan pertama Xi dengan Kim Jong-un, sesudah Kim bertemu dengan Trump di Hanoi bulan Februari lalu - yang berakhir tanpa kesepakatan mengenai program pelucutan nuklir Korea Utara.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un sedang memberi arahan terkait rencana pengembangan nuklir.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un sedang memberi arahan terkait rencana pengembangan nuklir. (Reuters)

Mengapa sekarang?

Lawatan Xi Jinping ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh pemimpin China ke Korea Utara dalam 14 tahun terakhir, dan merupakan yang pertama kali juga dilakukan oleh Xi sejak ia berkuasa tahun 2012.

Ini juga dipandang sebagai pendorong bagi posisi Kim yang sedang mengalami masalah untuk memelihara momentum sesudah aktivitas diplomatik yang tidak pasti tahun lalu.

Tak terhindarkan, kedua pemimpin akan membicarakan mengenai perundingan nuklir yang macet dan kegagalan pertemuan Kim dengan Trump di Hanoi.

Para pengamat mengatakan Xi berminat mengetahui apa yang terjadi dalam pertemuan di Hanoi itu dan apakah ada cara memecahkan kebuntuan tersebut.

Informasi ini mungkin bisa ia bagikan kepada Trump saat pertemuan di Jepang minggu depan.

Sekalipun lawatan ini baru dipastikan minggu ini, editor situs analisis 38 North, Jenny Town, mengatakan bahwa tidak mengherankan pertemuan terjadi sekarang, saat kedua negara memperingati 70 tahun hubungan diplomatik mereka.

Town menyatakan kemungkinan ada "nilai simbolis" bahwa lawatan itu dilakukan menjelang pertemuan G20, tetapi hal itu "bonus saja, dan bukan faktor penentu" dalam memutuskan waktu kunjungan.

Apa yang diinginkan oleh China?

Tujuan utama China adalah stabilitas di Korea Utara dan kerja sama ekonomi, serta memastikan bahwa mereka masih merupakan pihak yang penting dalam negosiasi program nuklir Korea Utara.

Kedua negara komunis ini merupakan sekutu lama. Namun hubungan mereka sempat memburuk beberapa dekade terakhir, terutama karena program nuklir Pyongyang dipandang secara kritis oleh Beijing.

Tanggal 12 Juni 2018, Kim Jong-un dan Donald Trump bertemu untuk pertamakalinya di Capella Hotel di Pulau Sentosa Singapura.
Bulan Juni 2018, Kim Jong-un dan Donald Trump bertemu untuk pertama kalinya. (AFP)

Surat kabar resmi China Daily mengatakan hari Rabu (19/06) bahwa kunjungan itu memungkinkan kedua pemimpin untuk "menyepakati beberapa proyek kerja sama yang konkret".

Dalam tajuk rencana surat kabar Korea Utara Rodong Sinmun, Xi menyatakan dukungan terhadap perundingan nuklir Korea Utara dengan menyatakan, "China mendukung Korea Utara untuk menjaga arah yang tepat dalam memecahkan persoalan semenanjung Korea secara politis".

Apa yang diinginkan Korea Utara?

Lawatan ini memberi kepastian bagi Kim Jong-un bahwa ia masih memiliki dukungan dari China, sekalipun hubungan kedua negara sedang mengalami kesulitan.

Menurut Jenny Town, "Korea Utara ingin tetap mempertahankan mitra mereka, sekalipun tidak banyak kepercayaan dan niat baik di antara keduanya".

Prajurit Korea Utara membawa simbol nuklir dalam parade.
Korea Utara bangga pada program nuklir mereka, dan sulit bagi mereka menghentikannya begitu saja. (Getty Images)

Perekonomian Korea Utara sedang mengalami kesulitan akibat sanksi internasional yang diterapkan lantaran mereka terus melakukan ujicoba peluru kendali dan nuklir.

China, yang merupakan mitra dagang terbesar Korea Utara, mendukung sanksi tersebut, tapi telah mengindikasikan perlunya pelonggaran sanksi sebagai insentif bagi Korea Utara agar bersedia melakukan pelucutan program nuklir mereka.

"China telah menjadi tujuan utama ekspor Korea Utara, seperti mineral, ikan, tekstil, dan juga tenaga kerja," kata analis Korea Utara, Peter Ward kepada BBC.

Secara tradisional, Beijing merupakan importir utama produk industri dan barang rumah tangga Korea Utara. Di bawah sanksi ekonomi sekarang ini, perdagangan ini terhenti.

"China lebih suka jika terjadi pelonggaran sanksi di area-area tersebut," kata Peter Ward. "Mereka ingin memastikan ekonomi Korea Utara tumbuh secara memadai dan Korea Utara tak merasa butuh untuk melakukan ujicoba rudal antar benua dan senjata nuklir lagi".

Namun sanksi ekonomi itu tampaknya tidak akan dicabut dalam waktu dekat, dan tak ada yang bisa dilakukan oleh China sekarang ini.




(dkp/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed