DetikNews
Senin 20 Mei 2019, 10:05 WIB

Temukan Medali PD II di Pasar Loak, Pria Ini Lacak Prajurit Sampai ke Rusia

BBC Magazine - detikNews
Temukan Medali PD II di Pasar Loak, Pria Ini Lacak Prajurit Sampai ke Rusia Medali-medali penghargaan yang ditunjukkan oleh Eduardo Cruz. (BBC)
Moskow -

Mungkin Anda tidak mengira jika pria bernama Eduardo Cruz ini adalah seorang penjual perhiasan, bagaimana tidak, sekilas penampilannya seperti seorang diplomat. Mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih lengkap dengan jas hitam di bawah suhu 40C.

Ia mengeluarkan sarung tangan putih dari sakunya - peralatan yang kerap dibawa pedagang perhiasan.

Anda mungkin berpikir topik pembicaraannya seputar seni, mode, atau politik. Tapi itu sesuatu yang sangat berbeda.

Cruz mulai tertarik menggeluti jual beli perhiasan saat melihat seorang pria menjual koleksi benda seperti medali dan lencana di perbatasan AS.

"Hei, kawan, kemarilah- ada koleksi bintang penghargaan yang bagus! Ayo beli, kamu pasti tidak akan menyesal," teriak laki-laki itu kepada Cruz. Itulah kali pertama ia melihat sebuah medali Bintang Merah Soviet.

Sebagai penjual perhiasan, Cruz terkadang menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan mengitari pasar loak setempat - di sana Anda bisa menemukan batu permata asli diantara perhiasan lainnya.

"Saya merasakan kesedihan yang mendalam."

Eduardo Cruz
Eduardo Cruz memperlihatkan koleksi medali-medali penghargaan prajurit Uni Soviet. (BBC)


"Saya membeli medali perang pertama kalinya 16 tahun yang lalu. Saya menemukan medali berbentuk bintang berwarna merah itu diantara tumpukan lencana sherrif. Namun saya langsung menyadari bahwa itu adalah semacam medali militer, karena Anda bisa lihat medali itu terbuat dari logam mulia," ujar Cruz.

Cruz membawa pulang medali yang ia beli dengan harga $100 (atau sekitar Rp 1,4 juta) dan mencari tahu apa yang telah dibelinya. Ternyata medali itu bisa dijual kembali dengan harga lima kali lipat dari harga awal yang ia beli - medali tersebut dianugerahkan kepada seorang prajurit Soviet sebagai bintang kehormatan dalam pertempuran Perang Dunia Kedua.

Cruz, maupun keluarganya memang tidak memiliki kaitan dengan dengan Rusia, Uni Soviet, ataupun Perang Dunia II. Namun ia memutuskan untuk tidak menjual kembali medali tersebut.

"Saat saya mengetahui bahwa lencana tersebut merupakan medali penghargaan militer, saya merasakan kesedihan yang mendalam. Saya memutuskan untuk menemukan prajurit yang dianugerahi medali itu, dan mengembalikannya kepadanya," ujar Cruz.

Namun penelusuran itu tidak semudah yang dibayangkan. Sebagai orang Meksiko, ia sendiri tidak bisa berbahasa Rusia, maka ia mulai mencari orang yang bisa membantunya untuk menemukan pemilik lencana tersebut.

Lantas ia mulai berkeliling dunia untuk menemui orang-orang yang bisa memenuhi keinginannya.

Medali perang Rusia.
Medali perang Rusia. (BBC)


Kini mereka membeli - dengan biaya sendiri - berbagai medali penghargaan yang diberikan kepada para prajurit Soviet selama Perang Dunia II, mencari kerabat mereka dan mengembalikan medali-medali itu kepada mereka.

Mereka menghabiskan uang jutaan rupiah untuk membeli setiap medali, mencari para kerabat mereka selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Tindakan heroik

Mustahil untuk mengungkapkan berapa banyak medali penghargaan Perang Dunia II ini jatuh ke tangan para kolektor benda seni, tentu jumlahnya bisa ribuan.

Selama Perang Dunia II, Uni Soviet telah menganugerahi 12.5 juta penghargaan kepada para prajuritnya, lebih banyak dibanding negara-negara lain.

"Banyak dari medali-medali tersebut dilelang saat dunia dilanda "demam tahun 1990-an" atau tergila-gila dengan benda karya seni. Para veteran perang kerap menjual medali mereka hanya untuk bertahan hidup."

"Menyedihkan: mereka selamat dari perang dan kemudian menjual bintang penghargaan mereka - hanya karena tidak ada yang bisa menghidupinya," kata Igor Nakhodkin , kepala organisasi sukarelawan yang anggotanya membantu menggali medan perang Perang Dunia II untuk mencari para tentara yang gugur.

Kini selama beberapa tahun, ia telah membantu Cruz mengembalikan medali-medali itu ke Rusia.

Cruz di kantornya
Cruz membungkus medali itu dengan hati-hati. (BBC)


"Sayangnya, pencurian medali-medali ini sekarang sudah menjadi hal biasa. Para penipu mendekati veteran-veteran yang berpura-pura menjadi pekerja sosial atau pegawai otoritas perumahan. Ketika salah satu dari mereka berbicara dengan veteran itu, rekannya yang lain mengambil semua medali penghargaan."

"Seperti itulah caranya medali-medali itu jatuh ke tangan para kolektor, dan kemudian dijual kembali di seluruh dunia," tutur Nakhodkin.

Rata-rata, medali penghargaan Order of the Red Star atau Bintang Merah, yang dilengkapi dengan dokumen, laku dijual seharga $ 53,50 (atau sekitar Rp 766 ribu), sedangkan medali Order of Glory atau Order Kemuliaan bisa dijual seharga hingga $69 (atau sekitar Rp 998 ribu).

Adapun medali Order of Lenin, yang terbuat dari emas dan platinum, diperkirakan mencapai harga hingga $1.223 (atau sekitar Rp 17 juta) di pasar gelap.

Harga tertinggi untuk medali Soviet biasanya ditawarkan oleh para kolektor dari AS, China, dan Eropa.

Ada berbagai forum khusus yang diadakan untuk membahas cara mengeluarkan medali-medali itu keluar dari negara-negara bekas Soviet dan masuk ke Eropa Barat tanpa terdeteksi. Setiap tahun petugas bea cukai Rusia menyita sekitar 400 medali penghargaan yang seseorang yang mencoba membawanya di luar negeri secara ilegal.

Namun peredaran medali-medali militer Soviet di balai-balai lelang di Shanghai, Paris dan San Francisco tidak berhenti begitu saja.

Lolos dari peluru penembak jitu Alexander Smirnov
Foto Alexander Smirnov dengan medali penghargaannya. (BBC)


"Lihat, kami menemukan medali ini di tempat lelang di California. Dalam penjelasannya disebutkan bahwa penghargaan itu diberikan kepada seorang prajurit Soviet yang lolos dari peluru yang dilepaskan penembak jitu di kepalanya," kata Cruz, seraya mengeluarkan medali Order of the Patriotic War dengan hati-hati dari kopernya.

Dengan bantuan dari beberapa kenalannya di Rusia, Cruz mengirim permintaan ke Arsip Pusat Kementerian Pertahanan Rusia, tempat data prajurit militer Soviet yang menerima penghargaan disimpan. Ternyata medali itu milik seorang prajurit Tentara Merah bernama Alexander Smirnov.

"Ia mengalami luka serius tertembak selama serangan pada tanggal 23 Agustus 1942. Diagnosisnya berupa luka tembak pada kedua pipi - peluru menembus lurus - dengan rahang patah. Operasi pada lidah dan kehilangan gigi setelah terluka," sebut data itu.

Alexander Smirnov
Tentara Merah Alexander Smirnov sebelum bertempur ke medan perang. (BBC)


Setelah Smirnov terluka, ia dirawat hampir setahun di rumah sakit. Para dokter menyatukan rahangnya kembali dari serpihan demi serpihan.

Pada tahun 1943, ia dipulangkan ke desa Uglevo, di Wilayah Kostroma - 500 km di timur laut Moskow.

Meski menderita luka serius di kepalanya, ia kembali bekerja, mengurus ternaknya.

Keluarga Smirnov
Keluarga Smirnov. (BBC)


Sebelum perang, keluarga Aleksandrov memiliki dua putera; setelah perang, ia dianugerahi lagi empat anak perempuan.

Bintang penghargaan bernama Order of the Patriotic War dianugerahkan kepada Smirnov pada tahun 1950.

"Papka (ayah) selalu memperlakukan medali ini sebagai sesuatu yang sangat istimewa. Ia tidak pernah memberi tahu kami apa pun tentang perang dan hanya memakai medali ini pada hari-hari libur nasional. Kemudian ia melepas semua medali dari jaketnya, kecuali Order. Dan meminta untuk berfoto dengan medali itu," kenang putrinya Galina Rotanova.

Foto Smirnov
Foto Smirnov. (BBC)


Urusan yang belum selesai

Medali penghargaan dari keluargaSmirnov hilang pada akhir 1980-an.Putrinya menduga ada salah satu kerabat yang berkunjung mencuri medali tersebut, namun mereka benar-benar tidak tahu dengan apa yang terjadi.

"Kami menyalahkan salah satu paman kami. Papka biasa memeriksa laci kecil di kabinet tempat ia menyimpan medali. Setelah paman pergi, ia pergi untuk memeriksanya. Dan medali itu sudah tidak ada. Ia hanya berteriak histeris. Kami berusaha menghiburnya. Ia langsung mencurigai paman kami," kenang Galina.

Galina Rotanova
Galina Rotanova - salah satu putri Alexander Smirnov. (BBC)


Namun, kedua putrinya mengaku bahwa mereka tidak pernah melakukan upaya khusus untuk menemukan medali tersebut.

"Kami bahkan tidak melaporkannya ke polisi," kata putri Smirnov, matanya dipenuhi air mata. "Dan siapa yang tahu bagaimana mencarinya di desa kita?"

Alexander Smirnov meninggal pada tahun 1988. Ia tidak pernah melihat medali itu lagi, tetapi sebelum meninggal ia meminta keluarganya untuk menampilkan fotonya yang mengenakan medali di makamnya.

Lebih dari 30 tahun kemudian, di Guadalajara, Meksiko, penjual perhiasan Eduardo Cruz, yang membeli medali itu di sebuah tempat lelang di California, membungkusnya secara hati-hati dengan bungkus gelembung.

Cruz di kantornya
Cruz di kantornya tengah membungkus medali. (BBC)


Cruz mencari kerabat Alexander Smirnov selama tiga bulan. Namun meski telah menemukan keluarganya, pengembalian medali itu tidak mudah.

Selama berbulan-bulan, putrinya Galina Rotanova tidak punya waktu untuk pergi ke kantor notaris untuk mengonfirmasi hubungannya dengan prajurit itu. Saat musim panen tiba di desanya - ia mengerjakan hal lain, dan tentu saja bukan untuk berburu medali perang.

Kemudian pada musim panas tahun 2018, suami Rotanova meninggal dan ia butuh waktu untuk menghibur diri. Lantas kabar tentang medali ayahnya yang telah lama hilang ditemukan di Meksiko, jelas-jelas membuatnya terkejut.

Jika tidak bisa menemui keluarga sang prajurit, atau kerabatnya menolak mengambil lagi medali itu, Cruz akan menyerahkannya ke museum.

Pada Desember 2018, ia menyerahkan lima medali penghargaan tempur kepada Museum Pusat Angkatan Bersenjata Rusia.

Medali Alexander Smirnov bisa saja diserahkan ke museum itu.

Setelah merenung selama empat bulan dan berdiskusi dengan para kerabat serta wartawan, Galina Rotanova membereskan semua dokumen untuk mengirim medali itu kembali ke Rusia.

"Bisakah kamu berjalan ke kuburan dan tidak kedinginan?"

Bersama dengan dokumen-dokumen yang mengonfirmasi hubungan mereka, putri-putri Alexander Smirnov - Galina dan Zoya - mengirim Cruz sebuah dokumen yang disahkan di mana mereka bersumpah untuk melindungi medali ayah mereka dan meneruskannya dari generasi ke generasi sebagai sebuah pusaka.

Paspor Cruz
Medali dan passpor milik Cruz. (BBC)


"Bagi saya, ini adalah tanda kesetiaan mereka. Kami yakin para keluarga di Rusia, mempercayai kehormatan mereka. Kami pikir kami tidak berhak menghakimi apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi. Semua ini ada di tangan Tuhan," kata Cruz.

Ia menatap potret Smirnov dengan penuh minat: "Ia memiliki pandangan yang begitu besar tentangnya - ia selalu tersenyum. Seolah-olah ia tahu bahwa medali itu sedang menuju rumahnya."

Pria asal Meksiko itu menempatkan medali itu di dalam kotak, untuk disampaikan kepada kantor konsulat Rusia di Guadalajara. Medali akan dikirim ke Moskow lewat pos diplomatik, dan kemudian diteruskan oleh kantor pos Rusia.

Desa di Rusia
Desa di Rusia tempat anak-anak Alexander Smirnov menetap. (BBC)


"Apa di Rusia sedang musim dingin? Bisakah kamu berjalan ke kuburan dan tidak membeku?" tanya Cruz yang belum pernah melihat salju selama hidupnya.

"Saya benar-benar berharap putri Alexander pergi ke makamnya dan menunjukkan medali ini kepadanya."

Cruz membungkus medali itu dalam kotak tertutup dan menyerahkannya kepada seorang diplomat Rusia. Sambil tersenyum, ia berlari kembali bekerja di toko perhiasannya.

Ayah sayang, kami membawa kembali medali ini!

Lantai di salah satu gedung kebudayaan di desaPronino dibersihkan untuk menyambut para pejabat kota dan wartawan.

Es-es sepanjang satu meter menggantung di atap gedung itu.

Gedung kebudayaan di desa Pronino.
Gedung kebudayaan di desa Pronino. (BBC)


Sekitar 40 orang telah berkumpul di gedung itu. Sepertinya semua orang di aula itu sedikit canggung dan ingin pulang.

Tapi saat medali itu dikeluarkan dari dalam kotak, suasana berubah.

Tangan Galina Rotanova bergetar ketika ia menerima medali itu. Ia tiba-tiba mulai menangis tersedu-sedu, dipeluk oleh saudara perempuannya, yang berdiri di sebelahnya. Mereka melekatkan medali Order of the Father itu erat-erat ke dada mereka.

Seketika ruangan itu menjadi hening.

Puteri-puteri Alexander Smirnov
Dua putri Alexander Smirnov, Galina dan Zoya, setelah menerima medali itu. (BBC)


"Terima kasih banyak kami ucapkan kepada orang Meksiko ini! Sungguh ajaib bahwa ada orang-orang yang begitu baik dan simpatik di dunia!" kata Zoya Alexandrovna, tidak bisa menahan air matanya.

Sambil menggenggam medali, putri-putri prajurit Tentara Merah itu langsung mengenakan mantel mereka.

20 menit kemudian - dengan kaki yang membenam di salju - mereka berjalan menuju makam ayah mereka.

"Ayah, sayang, kami membawakanmu kembali medali ini! Saat itu ayah menangisi medali yang hilang ini. Semoga jiwamu bisa beristirahat dengan tenang."

Putri-putrinya lantas meletakkan medali itu di kuburannya, menangis lagi dan menatap potret Smirnov dengan penuh kasih.

Smirnov
Potret Smirnov di makamnya. (BBC)


Ketika Cruz menerima foto keluarga pejuang di pemakaman bersalju, ia pun tersenyum.

"Saya sungguh bahagia! Ini memberi saya kekuatan baru. Kami memiliki lima medali lagi yang telah kami selamatkan dalam pekerjaan kami. Kami berharap bisa memberikan ini kepada kerabatnya pada bulan Mei, dan sisanya selama tahun ini, "tambahnya.


(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed