DetikNews
Selasa 09 April 2019, 02:09 WIB

Ketika Mongolia Merayakan -40 Celcius di Atas Es Danau Khvsgl

BBC Karangan Khas - detikNews
Ketika Mongolia Merayakan -40 Celcius di Atas Es Danau Khvsgl Warga Mongolia berdiri di atas danau yang beku (Foto: BBC Karangan Khas)
Jakarta -

Setahun sekali, warga Mongolia dari beraneka provinsi, suku dan kepercayaan berkumpul di atas es Danau Khvsgl untuk merayakan alam mereka

Bentangan langit biru

Meninggalkan lalu lintas yang macet di Ulaanbaatar, tempat tinggal sekitar setengah dari tiga juta warga Mongolia, rasanya seperti perjalanan ke planet lain. Di pinggiran ibu kota Mongolia, perumahan dan pabrik segera berganti dengan bentang alam seperti di bulan, yang sepi membentang hingga ke cakrawala.

Tanah Langit Biru Abadi, julukan Mongolia, hampir tak berawan sepanjang tahun. Tapi sinar matahari yang berlimpah ini bisa menipu. Sebagian besar lanskap Mongolia yang kasar terdiri atas dataran luas tertutup rumput yang disebut stepa.

Tanpa pohon atau struktur buatan manusia, stepa memberi jalan pada angin kencang yang menyapu seluruh negeri. Cuaca bisa sangat berbahaya, khususnya pada musim dingin ketika angin Siberia dari utara membawa udara yang sangat dingin dan suhu seringkali turun di bawah -40C.

Diselimuti es

Terletak di Mongolia Utara dekat perbatasan Rusia, Danau Khvsgl adalah danau air tawar terbesar di negara itu, membentang sepanjang 2.620 km persegi dan titik terdalamnya 244 meter.

Perairannya yang bagai kristal membuatnya dijuluki "mutiara biru Mongolia", meskipun setidaknya selama enam bulan dalam setahun danau itu terbungkus beberapa meter es yang cukup kuat untuk menampung manusia, ternak, dan bahkan kendaraan.

Sebelum memulai hari mereka di atas es, penduduk Khvsgl memanjat ke atas batu suci untuk menghormati roh danau. Setelah roh Danau Khvsgl ditenangkan, es pun dianggap aman untuk diinjak.

Benda yang hidup dan bernafas

Dalam keheningan pagi hari, udara di sini dipenuhi dengan suara letupan dan retakan. Permukaan Danau Khvsgl memang nampak membeku secara permanen, tetapi esnya adalah makhluk hidup yang bernafas.

Saat meleleh pada suhu hari yang lebih hangat, selimut es mengembang, menyebabkan tekanan retak di permukaan yang membeku begitu matahari terbenam, membentuk pola seperti jaring yang rumit. (Kredit: Yulia Denisyuk)

Cara hidup kuno

Mongolia kira-kira seukuran Eropa Barat, dengan penduduk hampir 130 kali lebih sedikit. Itu menjadikannya negara dengan populasi paling sedikit di dunia. Kehidupan di luar daerah perkotaan tetap nyaris seperti berabad-abad yang lalu ketika kuda-kuda liar berkeliaran di padang rumput yang tak ada habisnya.

Industri pertambangan tembaga, batu bara, dan logam mulia yang terus tumbuh telah mengubah ekonomi selama beberapa dekade terakhir, tetapi pertanian dan penggembalaan tetap menjadi landasan kehidupan Mongolia.

Keluarga stepa mengandalkan ternak untuk pendapatan, transportasi, makanan, dan kelangsungan hidup mereka.

Kecerdasan yang luar biasa

Banyak keluarga penggembala menjalani gaya hidup semi nomaden, mengarahkan kawanan kuda atau rusa mereka ke padang rumput yang subur sambil tetap dekat dengan desa untuk perawatan kesehatan dan kebutuhan masyarakat lainnya.

Dengan angin yang bertiup sepanjang musim dingin, penggembala menempatkan diri di area yang tenang di lembah atau dekat bukit sepanjang musim.

Cara hidup yang berpindah tidak akan mungkin tanpa ger, rumah portabel nomaden Mongolia.

Bentuknya yang melingkar membantu melindungi ger dari angin terus menerus dan menghangatkannya secara merata dengan panas dari tungku pembakaran kayu, pusat fisik dan spiritual rumah.

Ger ini dirancang sedemikian rupa sehingga lima orang dapat mendirikannya dalam waktu sekitar satu jam. Ini memungkinkan keluarga untuk berpindah secepat dan sesering yang diperlukan ternak mereka.

Perjuangan bersama

Kuda, khususnya, adalah bagian yang tak terhapuskan dari identitas Mongolia. Tanpa pagar dan kandang untuk menahan mereka, kuda domestik hidup dalam kawanan, bergerak bebas dari padang rumput ke padang rumput.

Pada bulan-bulan musim dingin yang sulit, kelangsungan hidup binatang menyita banyak pikiran.

Perjuangan itu kiat sulit ketika dzud. Dzud adalah kondisi saat musim panas sangat kering, diikuti musim dingin yang membeku, sehingga mengurangi lahan lahan yang dapat diolah.

Dulu dzud adalah kejadian sekali dalam satu dekade, tapi dalam beberapa tahun terakhir frekuensi dan keparahannya meningkat.

Datang bersama

Terlepas dari kesulitan yang mereka hadapi, orang-orang menemukan cara untuk menghormati bulan-bulan musim dingin dan merayakan kelangsungan hidup mereka. Setiap bulan Maret ketika musim semi mendekat, orang Mongolia dari seluruh penjuru negeri pergi ke Danau Khvsgl untuk menghadiri Festival Es Khvsgl.

Pergi ke danau itu bukanlah hal yang mudah. Hanya ada sedikit jalan beraspal. Sebagian besar jarak dilalui melalui jalur bergelombang tanpa rambu-rambu untuk memandu jalan.

Dibekali dengan termos tsai - campuran air, susu, teh hitam atau hijau dan sedikit garam - dan sekantong khuushuur segar (sejenis pastry daging), keluarga berkumpul di atas es setebal bermeter-meter untuk merayakan akhir dari bagian paling menantang tahun ini.

Hiburan tradisional

Festival ini menjadi populer di kalangan turis dalam beberapa tahun terakhir. Selama dua hari, para peserta dapat mengamati dan berpartisipasi dalam hiburan tradisional Mongolia.

Pada hari pertama festival, kereta luncur yang ditarik kuda berlarian melintasi danau yang beku dan para tamu berlomba dalam permainan tradisional seperti tarik tambang dan memanah. Hari kedua adalah kompetisi besar seperti balapan kereta kuda dan ukiran pahatan es.

Saat untuk merayakan

Berasal dari berbagai provinsi, suku, kelompok etnis, dan kepercayaan agama, pengunjung tinggal tenda di dalam dan di sekitar danau. Mereka berkumpul bersama untuk merayakan rasa hormat yang mendalam pada alam yang menyatukan mereka.

Meskipun menghadapi kesulitan selama bulan-bulan musim dingin, suasana perayaan ini menyenangkan.

Pada malam hari, sebelum shaman memanggil hadirin ke api upacara, peserta berkumpul di sekitar meja yang penuh dengan makanan ringan seperti aaruul (dadih keju kering) dan boortsogs (roti goreng).

Banyak tsai diminum dan mangkuk susu kuda betina yang difermentasi, airag, diedarkan dalam lingkaran. Saat malam di luar semakin dingin, di dalam ger, suasana terasa hangat.

Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di Mongolia's epic celebration at 40 C di laman BBC Travel




(haf/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed