detikNews
Sabtu 09 Maret 2019, 10:49 WIB

'Laki-laki Bunga', Sisi Lain Arab Saudi yang Tak Banyak Diketahui

BBC Karangan Khas - detikNews
Laki-laki Bunga, Sisi Lain Arab Saudi yang Tak Banyak Diketahui
Riyadh -

Ini adalah kesempatan berswafoto yang keren dalam situasi yang tidak gampang.

Berbagai kendaraan jelajah lari kencang di sisi pegunungan nan hijau, dan kursi belakang mereka dipenuhi keluarga-keluarga Saudi dan para turis dari Semenanjung Arab lainnya.

Ketika kendaraan itu melewati kabut dingin, para penumpang memilih menepi untuk mencari kamera dan dompet.

Pintu-pintu jeep terbuka lebar ketika mereka mendekati aneka kios yang menjual madu, buah-buahan dan - benda paling diminati - mahkota bunga bermekaran warna merah dan oranye.

Para turis itu lantas berpose di depan kamera dengan karangan bunga di atas kepala mereka, lalu senyum terbaik mereka pun berkembang, untuk kemudian dipamerkan di media sosial mereka.

Aneka mahkota bunga, yang dijajakan di banyak tempat di seluruh provinsi 'Asir, tak hanya menjadi umpan bagi wisatawan, lalu uangnya dipamerkan kepada teman-temannya di kampung halamannya.

Hiasan kepala yang disusun dengan rumit ini merupakan tradisi dari apa yang disebut 'Laki-laki Bunga': anggota suku Qahtan yang mempertahankan praktik mengenakan bunga dan tanaman hijau demi keindahan dan kesehatan. Dan saat ini, mereka menjualnya kepada para turis di wilayah tersebut.

Saat ini, kebanyakan terkonsentrasi di Semenanjung Arab bagian selatan, penduduk Qahtan disebut sebagai produk tatanan sosial tertua di daerah tersebut.

Mereka mengklaim dirinya sebagai keturunan Ismail, putra Ibrahim, seperti yang tercatat dalam kitab suci.

Julukan bunga yang disematkan kepada kaum pria Arab Saudi itu berasal dari fakta bahwa banyak pria Qahtan memahkotai kepalanya dengan rangkaian tanaman herba, bunga dan rerumputan yang dihias dengan rumit.

Menurut Thierry Mauger, seorang peneliti, susunan mahkota bunga ini disukai kaum muda suku setempat sebagai unjuk keindahan: mereka menggabungkan sebanyak mungkin bunga warna-warni, seperti marigold dan melati.

Para pria setengah baya dan yang lebih tua, sebaliknya, memiliki suasana yang lebih suram, membuat karangan bunga dengan didominasi tanaman serba hijau seperti daun kemangi liar.

Beberapa orang memakainya untuk tujuan estetika, sementara lainnya menghiasi dirinya di acara-acara khusus seperti hari raya besar umat Muslim.

Lainnya akan mengenakan karangan bunga itu saat jatuh sakit, dengan memilih tumbuhan dan tanaman hijau sebagai obat penyembuh.

Tetapi mahkota bunga bukan satu-satunya elemen yang menunjukkan perbedaan kelompok suku ini dari kebudayaan Arab dominan, yang dipopulerkan oleh para elit pemerintah, yang kebanyakan berasal dari wilayah Najd dan Hijaz.

Wilayah tempat tinggal Lelaki Bunga, 'Asir, berlokasi di atas sebuah dataran tinggi dengan curah hujan yang tinggi ketimbang daerah lainnya.

Pada bulan Mei dan Juni, suhu udara di kota-kota pedalaman negara itu dapat mencapai maksimal 30 derajat Celcius, tetapi provinsi 'Asir, sekitar 900 kilometer barat daya ibu kota Riyadh, siap menyambut wisatawan yang belum siap diterpa angin dingin dan badai yang sesekali menerjang.

Terletak di wilayah tertinggi di Saudi, kawasan itu dipenuhi teras-teras hasil pertanian yang digali di sisi gunung oleh warga setempat yang bertani gandum, kopi dan buah-buahan berskala kecil.

Keberadaan kelompok suku Qahtan tidak terlepas dari perjalanan sejarah mereka yang sulit.

Dalam bahasa Arab, 'Asir memiliki arti 'susah' dan inilah tantangan kaum yang tinggal terpencil di tebing-tebing perbukitan yang kejam.

Istilah 'Asir, menurut legenda rakyat setempat, tidak terlepas dari kisah sejumlah keluarga Qahtan yang melarikan diri ke wilayah ini dari kawasan dataran rendah untuk menyelamatkan diri dari pasukan penyerbu Ottoman, yang menguasai wilayah itu lebih dari 350 tahun yang lalu.

Setelah 'Asir dikuasai pasukan yang loyal kepada Keluarga Saud, wilayah itu dimasukkan dalam negara Saudi pada tahun 1932.

Tinggal dalam kelompok kecil-kecil dan berusaha mengatur pemerintahannya secara mandiri di kawasan pegunungan, sebagian besar desa-desa Qahtan nyaris tidak dapat diakses sampai akhir abad ke 20.

Pemukiman Habala (berasal dari bahasa Arab yang berarti 'tambang'), misalnya, hanya dapat dicapai dengan menggunakan rangkaian pegangan tangan dan tangga tali.

Pembangunan kereta gantung pada tahun 1990an oleh pemerintah Saudi meningkatkan akses ke daerah terpencil, tetapi muncul pula dilema terkait integrasi suku-suku ini ke dalam identitas nasional serta apakah kebudayaan unik mereka dapat bertahan dari ancaman modernisasi.

Namun, meski banyak kendala, banyak kebiasaan Lelaki Bunga yang memang masih bertahan.

Bahkan, praktik-praktik yang tadinya mulai dilupakan kini berfungsi sebagai penarik wisatawan ke wilayah tersebut.

Di restoran-restoran kecil yang menghiasi jalur Jabal Sawda, puncak tertinggi di kawasan Arab Saudi, para pelayan Qahtan berhiaskan bunga-bunga bermekaran yang cerah membawa nampan-nampan panas berisi daging kambing dan nasi untuk penduduk lokal dan para pendatang.

Para pemandu wisata di Habala menyambut para tamu dengan mengenakan kain warna warni yang berjuntai di pinggang.

Dibandingkan dengan pakaian serba kaku yang dikenakan para perempuan di wilayah yang lebih kering dan panas di Saudi, kaum perempuan Qahtan secara tradisional mengenakan gaya potongan rapat yang membuat mereka tetap hangat ketika suhunya turun.

Walaupun mereka tidak mengenakan hiasan kepala dari bunga, penampilan jilbab dan jubah mereka menampilkan sulaman geometris yang rumit dan jumbai meriah dengan warna kuning, biru dan merah cerah.

Bepergian ke wilayah itu, Anda bakal mengagumi bangunan-bangunan dari lumpur dan batu, seperti kembali ke masa 200 tahun silam, yang tampak seperti pencakar langit kecil yang terbuat dari tanah.

Rumah-rumah ini dibangun sesuai aturan yang dikelompokkan sesuai latar suku, mengingatkan pada pemukiman di kota Sana'a atau Shibam di Yaman, yang menunjukkan bahwa budaya bersama antara kedua negara mendahului penetapan perbatasan modern.

Para pengunjung yang ingin tahu harus memanjangkan leher untuk mendapatkan panorama indah di menara pengawas, yang meski tidak digunakan lagi, menjulang di atas wilayah pemukiman.

Bangunan-bangunan ini memiliki detail arsitektur yang rumit dan memungkinkan rumah-rumah tahan terhadap tantangan iklim di 'Asir: sistem pembuangan yang mencegah curah hujan menumpuk di atap; kepadatan batu bata untuk menyebarkan retensi termal dan akustik; dan beberapa rumah, jendela kecil dan perbatasan biru cerah, dua elemen yang dipercaya dapat mengusir nyamuk dan roh jahat.

Di bagian dalam rumah-rumah itu sendiri terdapat suguhan visual untuk mereka sendiri.

Dinding interior - terutama di majlis, ruangan yang diperuntukkan untuk menerima tamu - dicat dengan warna biru, hijau, merah dan kuning yang cerah, desain geometris yang mencerminkan pola yang telah menentukan elemen penting dari identitas 'Asir (dan ditulis dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan Unseco pada tahun 2017).

Saat ini, lukisan-lukisan dinding ini mengambil ide dari simbol-simbol arsitektur yang, di masa lalu, memberitahukan para pengunjung tentang para penghuni rumah: pola, bentuk, dan nuansa memberitahukan orang lain tentang usia, jenis kelamin, dan tata rias di masing-masing keluarga.

Dicat ulang setiap tahun selama musim haji, bulan yang ditentukan oleh kalender lunar ketika umat Islam melakukan ziarah ke kota suci Mekkah, dekorasi ini merupakan karya perempuan lokal yang menurunkan bentuk seni secara turun temurun dengan mengundang para kerabat dari segala usia untuk membantu dalam pemeliharaan tahunan.

Tetapi sebagian besar desa-desa kecil terisolasi yang berada di puncak tertinggi ini kosong.

Sebagai bagian dari sebuah proyek untuk menjadikan wilayah itu lebih mudah diakses oleh para turis, pada paruh terakhir abad ke-20 pemerintah Saudi secara paksa telah merelokasi penduduk desa seperti Habala, menempatkan mereka dalam pembangunan yang baru dibangun dengan akses ke infrastruktur, layanan dan sekolah yang lebih baik.

Desa mereka sekarang beroperasi sebagai tempat bagi para wisatawan untuk menjelajahi budaya 'Asir; Lelaki Bunga hanya kembali sementara ke desa leluhur mereka untuk menjadi pemandu, melakukan tarian daerah tradisional dan membangun bisnis mereka di sekitar wisatawan kelas ekonomi.

Di sinilah terletak paradoks wilayah yang kurang terwakili ini: aliran modernisasi yang berjalan lamban menjauh dari cara-cara kehidupan penduduk asli, tetapi meningkatnya minat dari luar membawa serta kemungkinan bertahannya kebiasaan tersebut dari ancaman kepunahan.

Habala, karena bentang alam dan sejarah isolasi yang nyaris total, telah mendapatkan perhatian khusus dari para wisatawan.

Tetapi tidak berarti budaya Qahtan sedang sepenuhnya terkikis. Meskipun banyak Lelaki Bunga saat ini tergantung pada ekonomi pariwisata untuk mendukung keluarga mereka, minat di provinsi ini telah menyebabkan peluang bagi penduduk setempat untuk terlibat dalam pelestarian budaya mereka sendiri.

Setelah bertahun-tahun ekonomi nasional menjadi kaya dengan cadangan minyaknya, Visi Arab Saudi 2030, yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada pendapatan minyak dalam beberapa dekade mendatang, memasukkan rencana untuk memperkuat program budaya dan sektor pariwisata.

Alokasi dana sebanyak hampir $1 milyar dollar telah disisihkan untuk memulihkan situs-situs warisan, termasuk yang ada di 'Asir.

Sementara banyak inisiatif dengan pendekatan top-down seperti yang terdapat pada Vision 2030 hanya berfokus pada pelestarian masa lalu, proyek-proyek dikaitkan dengan penggabungan pengetahuan lokal dengan budaya dan produksi ekonomi.

Pada 2017, organisasi Art Jameel mengajarkan keterampilan yang bermanfaat bagi seniman-seniman lokal untuk mencatat secara digital lukisan dinding tradisional 'Asir, dengan tujuan untuk mengembangkan pembuatan lukisan itu di tingkat komunitas yang akan mendukung seni dan kerajinan tangan tradisional.

Begitu juga, Dar Al-Hekma University di Jeddah yang mempelopori proyek pada tahun 2014 yang berjudul Reinventing 'Asir dengan menggunakan media, sains, seni dan teknologi untuk mendorong pelestarian arsitektur secara bersamaan dengan mendukung seni kontemporer, pembangunan lokal yang berkelanjutan dan pertanian.

"Karena orang-orang 'Asir selalu bangga tinggal di tanah terpencil dan membangun rumah-rumah mereka secara mandiri," seperti tertulis di pernyataan misi proyek tersebut. "Sebenarnya mereka berada di garis depan tentang apa yang dianggap tren mutakhir secara global.

Ketika malam tiba dan bis-bis wisatawan kembali ke hotel terdekat, desa-desa di pegunungan seperti Habala kembali sunyi.

Sulit melestarikan mahkota bunga Anda sekalinya Anda meninggalkan 'Asir: setelah beberapa hari, bunga-bunga yang mekar mengering dan mengelupas bahkan hanya karena sentuhan paling ringan, lalu basil dan melati kehilangan aroma mereka.

Meski banyak kesuksesan terbaru ekonomi 'Asir akhir-akhir ini hanya berfokus pada pelestarian sejarah lokal, mudah-mudahan inisiatif baru ini yang bertujuan untuk membawa penduduk lokal ke dalam proses pengambilan keputusan yang akan memungkinkan 'Asir menjadi tempat budaya yang unik di masa lalu, serta memiliki masa depan berkembang.

"Faktanya adalah bahwa apapun identitas aslinya muncul dari keduanya: masa lalu dan masa depan, kenangan dan penemuan," kata Anna Klingmann, kepala departemen arsitektur di Dar Al-Hekma University.

"Jika kami memprioritaskan salah satu dari yang lainnya, mengabaikan salah satunya, baik itu kenangan atau penemuan, masa depan atau masa lalu, sebagian dari identitas kita terluka."

Anda dapat membaca artikel ini di The 'Flower Men' of Saudi Arabia dan artikel serupa lainnya di BBC Travel.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com