DetikNews
Senin 25 Februari 2019, 16:28 WIB

Gajah-gajah Remaja Saling Bunuh di Afrika karena Butuh Figur Ayah

BBC Karangan Khas - detikNews
Gajah-gajah Remaja Saling Bunuh di Afrika karena Butuh Figur Ayah
Johannesburg -

Remaja yang keras kepala bisa menakutkan, terlebih lagi jika tingginya dua setengah meter dan berbobot enam ton. Geng gajah ini mengacaukan taman nasional dan membunuhi para badak.

Ketika Gus Van Dyk masih menjadi ahli ekologi di Taman Nasional Pilanesberg, Afrika Selatan, ia khawatir dengan adanya serangkaian serangan terhadap badak di taman itu.

BBC Earth Podcast memberitakan penemuan bangkai badak yang telah dimutilasi dengan parah. Jumlahnya lebih dari 50 ekor, dengan luka di bagian atas bahu dan leher, yang memberi kesan dilakukan oleh gajah.

Serangan gajah pada badak bukan tidak diketahui, dan situasi ketika mereka berdesak-desakan di lubang air cukup umum terjadi, tetapi volume serangan ini tidak biasa.

Penyelidikan lebih lanjut oleh Van Dyk mengungkapkan bahwa para tersangka adalah sekelompok gajah jantan remaja (masa remajanya sama dengan kita, berusia antara 12 dan 20 tahun) yang jelas mengalami agresi yang meningkat.

Geng gajah di luar kendali ini, antara 15 dan 18 individual, tampaknya sedang mengalami "musth".

"Musth" adalah kondisi unik gajah, yang hanya terjadi pada pejantan muda, biasanya berusia 20-an, yang dibanjiri dengan hormon reproduksi.

Mereka menyombongkan diri, membuat diri mereka terlihat lebih tinggi, dan meneteskan cairan berbau sangat kuat dari kelenjar temporal di kedua sisi kepala mereka, serta mengeluarkan urin secara konstan dari penis mereka.

Ini pada dasarnya adalah usaha mereka mengatakan "ini loh saya, saya bugar dan sehat dan mencari pasangan", serta promosi dalam urutan kekuasaan gajah.

Bagian yang menakutkan adalah, karena keinginan untuk kawinnya menjadi berlebihan, gajah jantan menjadi sangat agresif hingga dua jantan di fase musth akan bertarung sampai mati, saling menjatuhkan sehingga mereka dapat menikam korban mereka dengan gading mereka.

Biasanya, situasi bisa terkendali karena ketika seekor gajah musth bertemu dengan gajah jantan yang lebih besar, ia segera keluar dari fase musth karena ia tahu testosteronnya tidak dapat bersaing.

Jantan muda mungkin hanya dalam musth selama beberapa hari. Seiring bertambahnya usia, periode musth-nya bertambah hingga saat dia berusia empat puluhan, dia bisa mengatasinya dan periode musth-nya bisa berminggu-minggu.

Tapi dalam kasus ini, pelakunya adalah gajah di akhir masa remaja, tanpa pengalaman bertindak sebagai jantan dalam kelompok sosial besar.

Van Dyk mengidentifikasi kemungkinan penyebabnya; pada akhir 1970-an, Taman Nasional Pilanesberg telah diisi dengan gajah dari taman nasional lainnya, seperti Kruger.

Gajah-gajah jantan besar sangat sulit diangkut, sehingga yang dikirim adalah yang jantan, betina, dan bayi.

Akibatnya, tidak ada gajah jantan yang lebih tua untuk mendorong geng gajah remaja ini keluar dari musth.

Lonjakan besar testosteron membuat mereka kewalahan dan mendorong mereka ke perilaku agresif.

Van Dyk menyadari bahwa musth adalah kunci untuk menghentikan geng nakal ini, jadi keputusannya adalah mengendalikannya secara artifisial, mengebiri para jantan muda atau menemukan solusi alami.

Jawabannya, menurutnya, adalah menempatkan penyetop musth alami, yaitu dengan memperkenalkan gajah jantan besar.

Dia benar. Ketika enam gajah besar diperkenalkan dari Taman Nasional Kruger, yang menjulang tinggi melebihi tinggi para remaja, maka dalam beberapa jam, para preman remaja keluar dari musth.

Tidak ada lagi badak yang terbunuh sejak itu oleh gajah jantan muda yang mengamuk.

Kisah musth ini digunakan dalam sebuah makalah akademis Amerika sebagai contoh tentang pentingnya masyarakat yang stabil dan figur ayah dalam masa remaja manusia, untuk memberikan batasan bagi para remaja pria.

Para jantan muda yang masuk ke geng gajah ini tidak memiliki pola perilaku sosial yang baik. Mereka berada di bawah kendali hormon mereka yang mengamuk, yang itu membuat mereka terpapar para risiko besar, seperti juga risiko besar bagi satwa yang kebetulan ada di sekitar mereka.

Kisah gajah di Pilanesberg berakhir bahagia, dan mungkin kita bisa belajar darinya.

Anda bisa membaca artikel aslinya Teenage elephants need a father figure dan artikel lainnya di BBC Earth




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed