DetikNews
Kamis 20 September 2018, 17:23 WIB

Seniman RI Tampilkan 'Anak Jawa Korban Pelukis Gauguin' di London

BBC Magazine - detikNews
Seniman RI Tampilkan Anak Jawa Korban Pelukis Gauguin di London Proyeksi Khairani Barokka, Annah Levitation berdasarkan lukisan Paul Gauguin, Annah la Javanaise. (BBC)
London - Seniman asal Indonesia,KhairaniBarokka, menggelar seni pertunjukan diLondon tentang isu hak anak, buruh, perempuan dandifabel dengan menggunakan lukisanGauguin,Annah laJavanaise.

Dalam pertunjukan yang diberi judul Annah: Nomenclature atau Annah: Proses Penamaan, Khairani Barokka mementaskannya di Institut Seni Kontemporer di London (Institute of Contemporary Arts, ICA) akhir Agustus lalu.

Model, peliharaan, pembantu dan pencuri umur 13 tahun ini menjadi terkenal lewat lukisan Aita tamari vahine Judith te parari atau Annah la Javanaise yang dibuat salah satu seniman besar dunia Paul Gauguin pada sekitar tahun 1893 di Paris, Prancis.

Kontroversi tentang asal-usul, pekerjaan dan tingkah-lakunya ini yang menjadi subyek karya Khairani, yang sedang menyelesaikan studi S3-nya di Goldsmiths, University of London.

"Yang dikatakan mengenai Annah ini semua beda-beda. Ada buku yang bilang dia orang Jawa. Ada yang bilang orang indo, Belanda Jawa. Ada yang bilang orang Polinesia. Ada yang bilang orang India Melayu. Ada yang bilang orang Singhalese. Ada yang bilang keturunan Afrika," kata Khairani kepada Nuraki Aziz untuk BBC News Indonesia.

"Aduh, pokoknya segala macem dibilang tentang perempuan ini. Dan saya lihat kenapa yah? Apa yah? Dan inilah, pertunjukan ini mengenai proses saya mengulik-ulik sejarah Annah ini, siapa sih sebenarnya, kenapa sih semua orang ceritanya tentang dia beda beda. Apa sih hubungannya dengan pelecehan hak perempuan, hak difabel, hak anak yang masih terjadi zaman sekarang," Khairani menjelaskan.

ICA khusus meminta Khairani membuat karya baru berdasarkan disertasinya karena berdasarkan lukisan abad ke-19 itu, seniman penyandang kelainan otot syaraf ini berhasil menyentuh berbagai topik, kata Astrid Korporaal, kurator ICA.

"Dia menggunakannya sebagai semacam titik balik untuk mengkaji sejumlah masalah yang berbeda, yang membuat hal ini menjadi benar-benar menarik. Jadi selain melakukan penyelidikan sejarah karya seni ini dan orang di karya seni itu, dia juga menyentuh topik jender, persetujuan, difabilitas dan kekuatan dunia yang mempersulit kita mengidentifikasi anak perempuan ini," kata Astrid.

Multimedia, multibahasa

Pertunjukan selama kurang 30 menit ini menggunakan berbagai bahasa, di antaranya Inggris, Indonesia dan Jawa, untuk menyampaikan puisi, naskah, nyanyian, dilengkapi dengan layar proyeksi lukisan Gauguin dan berbagai kolase.

Semua hal ini dilakukan agar dapat menampilkan berbagai masalah seperti hak buruh dan anak, misalnya.

"Jadi ada dua proyeksi. Satu di lantai, satu di dinding yang besar sekali. Yang di lantai adalah proyeksi karya visual saya, judul Annah, Levitation. Lukisan Annah la Javanaise tetapi saya ubah-ubah. Dan saya berbaring di situ. Dan kemudian film 15 menit 52 detik yang isinya kolase, foto-foto dari arsip, cuplikan dari berita sekarang. Dari mulai pelecehan hak TKW atau pelecehan hak anak. Karena semua ini nyambung, masih," kata Khairani Barokka.

Apakah pemakaian berbagai media dan bahasa ini membingungkan? Dari puluhan penonton berbagai bangsa di gedung yang tidak jauh dari Istana Buckingham, terdapat dua orang dari dua benua yang berbeda.

"Ketika dia berbicara dalam dialek bahasa Indonesia-nya, saya dapat mengetahui itu berasal dari Indonesia. Tetapi selain itu, tidak, saya sangat tidak tahu cara membedakan kebudayaan yang berbeda," kata seorang penonton dari Korea Selatan.

"Saya pikir format yang dipakai sangat menarik. Saya melihat seni kontemporer Asia Tenggara, pada umumnya format seperti ini, pertunjukan dan ceramah, biasanya Anda temukan pada seniman kontemporer Malaysia dan Singapura," kata penonton dari Inggris, penduduk London.

Pertunjukan Khairani ini diikuti dengan sesi tanya jawab dengan seniman lainnya, Aditi Jaganathan, untuk lebih mendalami Annah: Nomenclature.

Khairani sendiri memandang sebuah karya seni yang baik memang harus menimbulkan perbincangan dan interpretasi masing-masing orang tidaklah harus sama.

"Begitu pertunjukan atau karya sudah keluar di dunia, itu bukan urusan saya bagaimana orang memahaminya masing-masing. Dan itulah tujuannya seni, untuk membuat orang berdebat, untuk membuat orang berdiskusi membicarakannya. Ini pemahamannya menurut saya begini, oh menurut saya begini."

"Saya tidak ingin didaktik. Saya tidak ingin mengatakan, ini karya saya, pesan harus begini," kata Khairani yang juga sudah menulis sejumlah buku ini.

Karya seni yang baik harus memicu pembicaraan, perbincangan dan silang pendapat, kata Khairani (kiri).
Karya seni yang baik harus memicu pembicaraan, perbincangan dan silang pendapat, kata Khairani (kiri). (BBC)


Seniman dunia

Selain di ICA, Khairani sudah beberapa kali mementaskan karyanya di sejumlah acara seni bergengsi, termasuk Edinburgh Fringe di Skotlandia, Inggris salah satu festival seni terbesar di dunia.

Karya seni Indonesia memang dipandang memainkan peran di panggung dunia, hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya seniman yang ikut dalam berbagai acara skala dunia.

"Sudah pasti akan dan memang sudah seharusnya. Saya pikir ini adalah saat yang menarik bagi Indonesia. Ada paviliun Indonesia di Venesia yang dibuka pada tahun 2013, ada Jakarta Biennale, ada museum baru untuk seni kontemporer. Saya pikir ini adalah waktu yang tepat bagi perkembangan hal ini," kata Astrid.

"Dimana kita tidak hanya melihat sejenis peng-eksotis-an impor seni Indonesia dan citra tunggal tertentu yang ditampilkan, tetapi pertukaran yang sebenarnya antara Indonesia dan negara-negara lain," Astrid Korporaal dari ICA menjelaskan lebih jauh.

Sementara Khairani sendiri memandang Indonesia kaya akan berbagai bakat karena keberagaman yang ada sehingga jelas seharusnya memang Indonesia bisa lebih berperan di dunia.

"Kami sangat punya tempat karena yang berbakat di Indonesia banyak banget di berbagai macam kesenian. Dan kami mempunyai sejarah budaya yang luar biasa kaya. Dan saya senang sekali melihat bagaimana seniman-seniman kontemporer mengulik budaya itu dan membuatnya menjadi pemahaman modern atau malah kembali ke unsurnya," Khairani menegaskan.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed