DetikNews
Selasa 16 Januari 2018, 08:42 WIB

Sempat Dicabut, Larangan Wanita Beli Alkohol Diterapkan Lagi di Sri Lanka

BBC Magazine - detikNews
Sempat Dicabut, Larangan Wanita Beli Alkohol Diterapkan Lagi di Sri Lanka Perempuan Sri Lanka dilarang membeli alkohol berdasarkan UU tahun 1995 lalu. (Foto adalah ilustrasi umum/PA )
Kolombo - Undang-undang yang memberikan hak bagi perempuan SriLanka untuk membeli alkohol sama seperti kaum pria sudah dicabut oleh PresidenMaithripalaSirisena.

Dalam sebuah acara di depan umum di ibu kota Kolombo, dia menyatakan sudah memerintahkan mencabut perubahan UU tersebut, yang juga memberi izin kepada perempuan untuk bekerja di bar tanpa izin.

Presiden Sirisena mengaku bahwa pemberlakuan perubahan UU diketahuinya dari berita-berita di koran.

Pemerintah Rabu (10/01) lalu mengumumkan perubahan UU tahun 1995 lalu setelah menyepakati bahwa peraturan itu bersifat diskriminatif atas perempuan.

Langkah pencabutan perubahan ini dikritik karena presiden dianggap tidak melihat ketimpangan gender sebagai hal yang serius.

Sri Lanka, Presiden Maithripala Sirisena
Presiden Maithripala Sirisena dituduh 'memiliki standar ganda' terkait perempuan oleh sejumlah pengguna Twitter. (AFP)


"Ini bukan hukum kolot yang seksis tapi tentang sistem kolot yang seksis dengan undang-undang hanya merupakan salah satu alat tambahan untuk mengendalikan," komentar seorang penulis blog Sri Lanka di Twitter.

Seorang pengguna Twitter lainnya mempertanyakan logika dari perempuan yang boleh minum alkohol tapi tak boleh membelinya.

Apa artinya perubahan UU itu?


Walau UU yang lama tidak diterapkan dengan ketat, banyak perempuan Sri Lanka menyambut baik perubahan UU yang sebelumnya melarang mereka membeli alkohol.

Dengan perubahan tersebut -yang ternyata hanya bertahan beberapa hari saja- maka perempuan yang berusia 18 tahun ke atas secara sah boleh membeli alkohol untuk pertama kalinya dalam waktu 60 tahun.

Masa penjualan alkohol, dari 09.00 hingga 21.00, juga diperpanjang menjadi 08.00 hingga 22.00.

Kenapa presiden campur tangan?


Para pemimpin biksu di negara yang mayoritas penduduknya beragama Budha ini mengkritik pencabutan larangan dengan alasan menghancurkan budaya keluarga Sri Lanka karena akan membuat lebih banyak perempuan yang kecanduan alkohol.




Dengan mengaku telah mendengar kritik-kritik atas upaya pemerintah tersebut, Presiden Sirisena mengatakan di depan umum bahwa dia sudah menginstruksikan pemerintah untuk menarik perubahan yang mencabut larangan itu.

Keputusan ini sebenarnya tidak mengejutkan karena dia menggelar kampanye antialkohol dan pernah memperingatkan bahwa konsumsi alkohol di kalangan perempuan Sri Lanka meningkat.

Bagaimanapun para pengamat menduga bahwa pembatalan perubahan UU yang ditempuh secara mendadak memperlihatkan ada perbedaan di kalangan pemerintah koalisi.




Kenapa presiden dituduh munafik?


Presiden Sirisena mendorong agar perempuan di Sri Lanka berperan lebih aktif di poltik dan membanggakan bahwa tahun lalu pemerintah sudah mengambil langkah-langkah bahwa lebih banyak perempuan akan berpartisipasi di pemilihan umum mendatang.

Namun tampaknya dia dituduh menerapkan standar ganda dengan pandangannya atas perempuan dan alkohol, yang memicu kemarahan dari beberapa pengguna Twitter.

Berapa banyak perempuan Sri Lanka minum alkohol?


Menurut Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2014, sekitar 85% perempuan Sri Lanka tidak pernah minum alkohol sementara di kalangan pria mencapai 56,9%.

Tak sampai 0,1% perempuan di atas usia 15 tahun yang rentan terhadap kecanduan alkohol dibanding 8% di kalangan pria dalam kelompok usia yang sama.

Sebagian besar perempuan Sri Lanka tidak minum alkohol karena berpendapat bahwa hal itu tidak sesuai dengan budaya Sri Lanka, seperti dilaporkan wartawan BBC Azzam Ameen.


(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed