DetikNews
Senin 13 November 2017, 18:27 WIB

Protes Aung San Suu Kyi, Bob Geldof Kembalikan Penghargaan

BBC World - detikNews
Protes Aung San Suu Kyi, Bob Geldof Kembalikan Penghargaan Musisi dan aktivis Irlandia Bob Geldof mengatakan bahwa dia merasa 'malu' memiliki penghargaan yang sama dengan Suu Kyi. (EPA)
Dublin - Musikus Irlandia penggagas konserLiveAid yang legendaris, BobGeldof, akan mengembalikan penghargaanFreedom oftheCity ofDublin sebagai protes atas pemimpin Myanmar AungSanSuuKyi, yang juga dianugerahi penghargaan tersebut.

Geldof mengatakan "keterkaitan Suu Kyi dengan kota kita adalah hal yang memalukan".

Suu Kyi mendapat kecaman luas dari berbagai penjuru dunia atas sikapnya yang cenderung pasif dalam menangani berbagai tudingan pembersihan etnis terhadap warga Muslim Rohingya Myanmar.

Lebih dari setengah juta warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh menyusul kekerasan yang terjadi baru-baru ini.

Geldof adalah musisi dan penggagas Live Aid, konser raksasa pada tahun 1985 yang melibatkan para pemusik top dunia untuk menggalang dana untuk membantu para korban kelaparan di Afrika.

Dalam sebuah pernyataan, Geldof mengatakan: "Hubungan (Suu Kyi) dengan kota kita membuat kita malu. Kita dulu menghormatinya, dan sekarang dia begitu mengerikan sikapnya dan mempermalukan kita."

Dia menyerahkan kembali penghargaan tersebut di Balai Kota Dublin, ibukota Irlandia pada Senin pagi (13/11) ini.

Aung San Suu Kyi Aung San Suu Kyi mendapat kecaman luas atas tanggapannya terhadap kekejaman yang terjadi di Myanmar. (EPA)

Suu Kyi mendapat kecaman dari para pemimpin internasional dan kelompok-kelompok hak asasi manusia karena enggan mengakui kekerasan militer negerinya, yang oleh PBB disebut "contoh buku teks tentang pembersihan etnis".

Pada hari Sabtu, kelompok musik U2 yang juga berasal dari Irlandia juga mengkritik Suu Kyi, mendesaknya untuk mengambil sikap lebih tegas menentang kekerasan yang diduga dilakukan oleh pasukan keamanan.

Dalam sebuah pernyataan di situs band tersebut, mereka menyebutkan bahwa kegagalannya dalam mengatasi krisis tersebut "mulai terlihat seperti sebuah kesengajaan".

"Jadi, kami katakan sekarang apa yang kami ingin nyatakan kepadanya: kekerasan dan teror yang diarahkan kepada orang-orang Rohingya merupakan kekejaman sangat mengerikan dan harus dihentikan."

Bulan lalu, Dewan Kota Oxford mencabut penghargaan Freedom of the City untuk Suu Kyi, yang dianugerahkan pada tahun 1997.

Pemimpin Dewan Kota Oxford Bob Price, mengakui bahwa ini merupakan "langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya" di kota itu.

Orang-orang "sangat terguncang" oleh situasi di Myanmar, katanya. Dia menambahkan sikap Suu Kyi yang tidak mengeluarkan sepatah kata tentang kekerasan yang dilaporkan di negaranya merupakan hal yang "luar biasa."

St Hugh's College di Universitas Oxford, tempat Suu Kyi mempelajari politik, pun sudah mencopot foto Aung san Suu Kyi dari dinding kampus.

Kekerasan di Rakhine meletus pada tanggal 25 Agustus ketika gerilyawan Rohingya menyerang pos-pos keamanan di negara bagian Myanmar, Rakhine, yang kemudian memicu tindakan keras militer.

Puluhan orang tewas dan muncul tudingan bahwa mereka militer membakar desa-desa Rohingya dan warga Rohingya diusir.

Militer Myanmar berdalih bahwa mereka sekadar menumpas militan Rohingya, dan menyangkal telah memburu warga sipil.




(ita/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed