DetikNews
Jumat 29 Juli 2016, 17:08 WIB

Menjelajahi Perpustakaan Rahasia di Suriah

BBC Magazine - detikNews
Menjelajahi Perpustakaan Rahasia di Suriah Perpustakaan rahasia di Damaskus, Suriah.
Darayya -
perpustakaan rahasia suriah

Perpustakaan rahasia di Damaskus, Suriah.

Ketika suatu tempat dikepung selama bertahun-tahun dan banyak orang kelaparan, Anda mungkin berpikir tak ada yang tertarik membaca buku.

Tapi, para pecinta buku 'bertekad' menyimpan kumpulan buku di perpustakaan bawah tanah di Suriah. Buku-buku itu telah mereka 'selamatkan' dari bangunan-bangunan rusak karena bom.

Para pembaca buku itu harus berhati-hati menghindari granat dan peluru demi pergi ke perpustakaan.

Perpustakaan rahasia ini berada di bawah bangunan yang rusak karena bom. Ruangan besar yang diterangi lampu temaram ini merupakan tempat untuk belajar, memberikan harapan dan inspirasi bagi warga Darayya, salah satu kota satelit di Damaskus, Suriah.

"Kami merasa bahwa membuat perpustakaan baru sangat penting, agar kami dapat melanjutkan pendidikan. Kami memilih ruang bawah tanah sehingga dapat mencegah kerusakan dari lemparan granat dan bom seperti bangunan-bangunan lainnya," kata salah satu pendiri perpustakaan, Anas Ahmad, mantan mahasiswa teknik sipil.

Pengepungan di Darayya oleh pemerintah dan tentara pro-Assad dimulai empat tahun lalu. Sejak itu Anas dan relawan lainnya, yang dulunya mahasiswa, sudah mengumpulkan lebih dari 14.000 buku dari berbagai topik.

Dalam waktu yang sama, lebih dari 2.000 orang yang kebanyakan warga sipil terbunuh. Namun, peristiwa tersebut tidak mengurungkan niat Anas dan teman-temannya mencari materi-materi bacaan di jalanan untuk mengisi rak-rak di perpustakaan.

"Dalam banyak kasus, kami menemukan buku-buku dari rumah-rumah yang rusak karena bom atau peluru meriam. Mayoritas tempat-tempat ini dekat dengan garda depan sehingga sangat berbahaya untuk mencari buku-buku itu dari sana," kata Anas.

"Kami harus melalui bangunan-bangunan yang telah dibom untuk bersembunyi dari bidikan penembak-jitu. Kami harus ekstra berhati-hati karena penembak jitu terkadang mengamati kita, melihat gerak-gerik kita," sambungnya.

Awalnya, niat Anas dan kawan-kawannya yang mempertaruhkan nyawa ini terkesan 'gila', tapi Anas menyebutkan tindakan mereka ini dapat membantu sekali bagi komunitas.

Relawan yang bekerja di rumah sakit menggunakan buku-buku di perpustakaan untuk merawat pasien. Guru-guru tak terlatih dapat belajar bagaimana caranya mempersiapkan kelas, dan dokter-dokter gigi juga menggunakan bacaan di perpustakaan.

perpustakaan rahasia suriah

Pendiri perpustakaan, Anas Ahmad, bersama kawan-kawannya mempertaruhkan nyawa demi mengumpulkan buku.

Sekitar 8.000 dari 80.000 warga Darayya sudah melarikan diri. Tapi sekarang, tak seorangpun yang bisa pergi.

Ledakan bom dan granat terjadi hampir setiap hari sehingga sangat mustahil bagi wartawan untuk masuk Darayya.

Karena alasan tersebut, wartawan BBC Mike Thomson mewawancarai mereka lewat Skype, percakapan mereka berkali-kali terpotong oleh suara-suara ledakan yang keras bahkan sampai merusak pengeras suara di studio BBC.

Lokasi perpustakaan ini dirahasiakan karena Anas dan pengguna perpustakaan takut jika nantinya menjadi target penyerang Darayya, jika mereka tahu letaknya.

Perpustakaan itu dianggap terlalu berbahaya untuk anak-anak. Salah satu anak perempuan, Islam, mengatakan dia menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam ruangan, bermain game, dan membaca buku untuk membantu dia melupakan rasa lapar.

Ada juga seorang anak, Amjad, berusia 14 tahun, mengunjungi perpustakaan setiap hari karena dia tinggal di dekat perpustakaan. Baginya lebih aman berada di ruang bawah tanah dan karena antusiasmenya terhadap 'gudang baca' ini maka dia diberi gelar 'wakil pustakawan'.

perpustakaan rahasia suriah, omar

Omar, pejuang dari Tentara Pembebasan Suriah sedang membaca buku sambil bertugas.

Wartawan BBC, Mike Thomson, menanyai salah satu pengguna perpustakaan, Abdulbaset Alahmar, "Bukankah lebih masuk akal jika pengguna perpustakaan menghabiskan waktunya mencari makanan daripada membaca buku?"

"Saya percaya otak seperti otot, dan membaca tentunya membuat otak saya lebih kuat. Otak saya yang mendapat pencerahan juga bisa 'memberi makan' jiwa saya," jawabnya.

Ternyata, pejuang bersenjata kelompok Tentara Pembebasan Suriah yang bertugas mempertahankan kota itu adalah juga penggemar buku.

Salah satu pejuang dan pengguna perpustakaan itu adalah Omar, dia berujar "Buku-buku bisa memotivasi kita untuk terus menjalani hidup, kami membaca bagaimana orang-orang pada masa lalu yang berpaling dari suatu negara tertentu, tapi mereka masih bisa bertahan hidup."

Setiap kali dia di garda depan, dia membawa kumpulan buku dari perpustakaan. Di sana dia berjaga-jaga dengan membawa senapan dan membaca buku. Biasanya dia membaca enam hingga tujuh jam pada saat bertugas.




(nwk/nwk)
bbc
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed