Menko PM-Kepala BPS Puji Upaya Ahmad Luthfi Atasi Kemiskinan di Jateng
Bangun Indonesia

Ayo, tingkatkan partisipasi kita dalam pembangunan bangsa dan wujudkan impian Indonesia yang lebih baik!

Menko PM-Kepala BPS Puji Upaya Ahmad Luthfi Atasi Kemiskinan di Jateng

Inkana Putri
Jumat, 04 Sep 2026 20:55 WIB
Pemprov Jateng
Foto: Dok. Pemprov Jateng
Jakarta - Upaya pengentasan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem yang dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menuai apresiasi dari berbagai pihak. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar menilai upaya yang dilakukan Luthfi sangat progresif.

"Langkah-langkah para bupati, wali kota, dan juga Pak Gubernur tadi sangat progresif, agresif, inovatif, bahkan kreatif dalam menangani semua masalah kemiskinan, khususnya kemiskinan ekstrem," kata Muhaimin dalam keterangannya, Jumat (4/9/2026).

Hal tersebut disampaikannya pada Rapat Koordinasi Daerah Optimalisasi Pelaksanaan Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem di Graha Wisata Niaga, Kota Surakarta, hari ini.

Muhaimin menilai kepemimpinan kepala daerah menjadi penentu keberhasilan kebijakan tersebut. Menurutnya, Gubernur berperan strategis sebagai koordinator tingkat provinsi untuk menyelaraskan program daerah dengan kebijakan nasional, memastikan pemutakhiran data, serta mengoordinasikan para bupati dan wali kota.

Pemerintah telah menargetkan kemiskinan ekstrem dapat ditekan hingga nol persen pada 2026 dan angka kemiskinan turun menjadi lima persen pada 2029. Karena itu, Muhaimin memastikan berbagai inovasi daerah akan didorong melalui program pemerintah pusat dan koordinasi lintas sektor.

"Semua program para bupati dan wali kota tadi akan saya dorong dan bantu melalui koordinasi lintas sektor, sesuai dengan prioritas masing-masing bupati dan wali kota," ungkapnya.

Senada, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengungkapkan penurunan kemiskinan Jawa Tengah berlangsung konsisten. Adapun tingkat kemiskinan yang masih berada di angka 11,8 persen pada 2021 mampu ditekan menjadi 9,21 persen dalam kurun lima tahun.

"Kalau kita lihat kemiskinan di Jawa Tengah, dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan," jelas Amalia.

Sementara itu, Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menjelaskan penurunan kemiskinan di Jawa Tengah tidak tercapai secara instan. Pemprov menerapkan pendekatan collaborative government (pemerintahan kolaboratif) dengan melibatkan pemerintah pusat, kabupaten dan kota, BUMN, BLUD, dunia usaha, perguruan tinggi, serta masyarakat.

Pendekatan tersebut turut mendorong penurunan tingkat kemiskinan Jawa Tengah menjadi 9,21 persen pada Maret 2026. Angka itu turun 0,18 poin dibandingkan September 2025. Penurunan itu menjadikan sekitar 59,39 ribu penduduk keluar dari angka kemiskinan.

Untuk mempercepat penurunan tersebut, Luthfi mengarahkan intervensi menyeluruh terhadap setiap keluarga miskin. Perbaikan rumah diikuti dengan pemeriksaan kondisi kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan kebutuhan perlindungan sosial seluruh anggota keluarga.

"Jadi, masyarakat miskin ekstrem tidak hanya dibantu rumahnya saja. Sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan pekerjaannya kita tangani bersama-sama," jelas Luthfi.

Luthfi menjelaskan melalui kolaborasi berbagai sumber pembiayaan, sekitar 270 ribu rumah tidak layak huni telah ditangani sepanjang 2025. Dari sekitar 1,2 juta keluarga penerima manfaat Program Keluarga Harapan, sebanyak 46.542 keluarga juga telah mengikuti graduasi atau keluar dari jerat kemiskinan.

Luthfi mengungkapkan penguatan kemandirian masyarakat turut ditopang penciptaan lapangan kerja. Realisasi investasi Jawa Tengah pada 2025 mencapai sekitar Rp110 triliun dan menyerap 257 ribu tenaga kerja.

Pemprov Jateng selanjutnya memperkuat intervensi berdasarkan karakteristik wilayah, terutama di pedesaan. Adapun daerah pesisir, kawasan pertanian dan lahan kering, serta wilayah perbukitan mendapatkan penanganan berbeda agar program semakin tepat sasaran.

"Kebijakan kita (harus) bergeser, tidak hanya bantuan sosial, tapi harus kepada pemberdayaan yang berkelanjutan. Di antaranya adalah bagaimana masyarakat kita mempunyai daya saing terkait dengan potensi wilayah masing-masing," kata Luthfi.

Kemudian pada 2026, Pemprov Jawa Tengah telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp2,65 triliun untuk penanganan kemiskinan. (akn/ega)

Berita selengkapnya tentang Kunjungi

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini