Jawa Tengah Kembali Dilirik Investor Amerika, Siap Garap Sampah Solo Raya
Bangun Indonesia

Ayo, tingkatkan partisipasi kita dalam pembangunan bangsa dan wujudkan impian Indonesia yang lebih baik!

Jawa Tengah Kembali Dilirik Investor Amerika, Siap Garap Sampah Solo Raya

Hana Nushratu
Senin, 03 Agu 2026 15:31 WIB
Jawa Tengah Kembali Dilirik Investor Amerika, Siap Garap Sampah Solo Raya
Foto: Pemprov Jateng
Jakarta - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi kembali membuka peluang investasi asing untuk mempercepat penyelesaian persoalan sampah di wilayahnya.

Kali ini, sebuah perusahaan pengolahan limbah asal Amerika Serikat (AS) Energy Three International (E3i) yang berencana investasi di wilayah aglomerasi Solo Raya.

Luthfi menjelaskan pengolahan sampah di wilayah Solo Raya masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Sejauh ini sudah ada kesepakatan untuk pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Namun masih menyisakan permasalahan untuk mengolah timbulan sampah lama yang volumenya sangat besar.

"Saya senang sekali ada investor dari Amerika Serikat yang akan masuk. Ini kalau bisa harus terealisasi dan bisa menyelesaikan permasalahan sampah di Solo Raya," kata Luthfi, dalam keterangan tertulis, Senin (3/8/2026).

Hal tersebut ia sampaikan saat menerima kunjungan dari perwakilan E3i Medhat Omran, di kantornya, Senin (3/8).

Sebagai informasi, di Kawasan Solo Raya menghasilkan sekitar 2.944,55 ton sampah per hari, namun jumlah itu belum mampu tertangani semua.

Oleh karena itu, Jateng sedang mendorong pengembangan fasilitas Waste to Fuel di Kawasan Solo Raya dengan kapasitas sekitar 1.000 ton per hari. Kapasitas itu dapat melayani Boyolali, Surakarta, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten.

"Sudah ada beberapa daerah aglomerasi yang MoU pengolahan sampah, seperti Kota Semarang dan Kendal yang sudah dengan Danantara," ujar Luthfi.

"Lalu Solo Raya juga, tapi itu untuk sampah baru, sampah lama masih dicarikan investor," sambungnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jateng Heru Djatmika menjelaskan kebijakan dari Luthfi adalah Jateng zero sampah pada 2028.

Investor dari AS yang akan masuk tersebut kemudian diarahkan ke wilayah Solo Raya. Meliputi Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, dan Karanganyar.

"Solo Raya itu sampahnya di atas 1.000 ton per hari. Investor ini masuk untuk waste to fuel," jelas Heru.

"Nanti tempatnya di Boyolali, sudah ada lahan 20 hektare dari kebutuhan 25 hektare," sambungnya.

Perwakilan E3i ASEAN Medhat Omran mengatakan pihaknya merupakan perusahaan investasi pengolahan limbah menjadi biofuel dan energi.

Rencananya, akan membawa proyek ke Solo Raya untuk mengurangi limbah atau sampah di wilayah tersebut.

"Semoga proyek ini dapat terwujud di sini, yang akan bermanfaat bagi masyarakat dan negara. Kita menggunakan teknologi baru dengan zero emission," kata Omran.

"Jadi, ini ramah lingkungan," sambungnya.

Melalui proyek dan investasi perusahaan pengolahan limbah yang akan didirikan di Solo Raya, ke depan akan menempatkan Indonesia dan wilayah Jateng di peta dunia untuk energi hijau.

Proyek tersebut diperkirakan akan mempekerjakan hampir 300 orang.

"Kita juga berharap dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar fasilitas yang akan kita bangun, sehingga proyek ini akan bermanfaat bagi semua orang dalam banyak hal," pungkasnya.

Simak juga Video: Cara Solo Atasi Sampah: Masukkan Kurikulum hingga Bentuk Satgas Semesta

(akd/ega)

Berita selengkapnya tentang Kunjungi
Berita Terkait