Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meninjau langsung lokasi terparah di Dukuh Solondoko, Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur, Selasa (7/4). Ia menegaskan penanganan banjir tidak bisa dilakukan sendiri.
"Sudah kita asesmen. Tinggal kita petakan lagi secara detail, kita hitung kebutuhannya apa saja. Penanganannya tidak bisa sendiri, harus bersama-sama antara kabupaten, provinsi, dan juga pemerintah pusat," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).
Untuk mempercepat pemulihan, Pemprov Jateng menggandeng berbagai pihak. Sumber pendanaan berasal dari pemerintah provinsi, pusat, kabupaten, Baznas, hingga PMI. Tenaga perbaikan pun akan melibatkan relawan dari organisasi kemasyarakatan.
"Tadi kami sudah komunikasi dengan Ansor. InsyaAllah Banser dari Jawa Tengah dan kabupaten akan membantu tenaga untuk perbaikan rumah warga," jelas Taj Yasin.
Sejumlah bantuan juga mulai disalurkan, antara lain program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) sebanyak 7 unit, 127 paket sembako dari Baznas Jateng, serta bantuan senilai Rp 10.065.500 dari PMI Jateng.
Warga terdampak mulai merasakan kehadiran bantuan. Ma'arif (39), salah satu korban, mengaku kondisi perlahan membaik.
"Alhamdulillah bantuan sudah mulai terasa. Dari nasi bungkus, listrik sudah nyala, air bersih juga ada, sampai pembersihan lumpur," ujarnya.
Namun kerusakan yang dialami warga terbilang parah. Rumah Ma'arif rusak sekitar 40 persen, sementara rumah orang tuanya hanyut tanpa sisa beserta sebagian besar isinya.
"Kalau rumah kayu seperti kami, satu unit bisa sekitar Rp 80 juta. Itu belum isinya," tambahnya.
Selain perbaikan rumah, warga masih membutuhkan bantuan pencarian puing bangunan yang tertimbun lumpur.
Dari 5.148 jiwa terdampak, sebanyak 2.867 jiwa sempat mengungsi. Kini pengungsi tersisa 12 jiwa di Madin Sindon. Meski sebagian wilayah sudah surut, satu titik tanggul yang belum sepenuhnya tertutup sempat kembali melimpas dan menggenangi Dukuh Solondoko. Perbaikan darurat langsung dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan air.
Taj Yasin menegaskan pemerintah tidak ingin kejadian serupa terus berulang. Pembenahan sistem pengendalian banjir akan menjadi fokus utama ke depan.
"Yang paling utama adalah memastikan banjir ini tidak terjadi lagi. Itu yang sedang kita siapkan penanganannya secara menyeluruh," pungkasnya.
(anl/ega)










































