DetikNews
Kamis 12 Juli 2018, 10:41 WIB

China Protes Kabel Bawah Laut Australia-PNG-Kepulauan Solomon

Australia Plus ABC - detikNews
China Protes Kabel Bawah Laut Australia-PNG-Kepulauan Solomon
Beijing -

Para kepala pemerintahan Australia, Kepulauan Solomon dan Papua Nugini sepakat untuk memulai pembangunan kabel internet bawah laut yang menghubungkan ketiga negara. Namun langkah ini dituding sebagai upaya Australia membendung pengaruh China di Pasifik.

PM Malcolm Turnbull bersama PM Peter O'Neill dari PNG dan Rick Houenipwela dari Kepulauan Solomon kemarin di Brisbane menyetujui MoU bagi dimulainya proyek tersebut.

Australia menghabiskan hampir $ 137 juta untuk proyek ini yang digambarkan PM Turnbull sebagai cara yang sangat praktis menyalurkan bantuan luar negeri.

"Kami menyalurkan miliaran dolar per tahun untuk bantuan luar negeri. Ini cara yang sangat praktis untuk berinvestasi dalam pertumbuhan ekonomi para tetangga kita di Pasifik," katanya.

Di tahun 2016 pemerintah Kepulauan Solomon menandatangani perjanjian dengan raksasa telekomunikasi China Huawei untuk pembangunan kabel bawah laut ke Australia.

Namun pemerintah Australia khawatir jika Huawei diizinkan menyambungkan kabel internetnya ke infrastruktur telekomunikasi Australia.

Alasan yang diungkapkan yaitu meskipun Huawei perusahaan independen, namun tetap berkaitan dengan Pemerintah China sehingga berpotensi sebagai ancaman bagi infrastruktur Australia.

Tahun lalu pejabat senior Australia menyampaikan keberatannya kepada pemerintah Kepulauan Solomon. Pejabat itu menegaskan Canberra tak mungkin membiarkan Huawei mendapatkan "titik pendaratan" bagi kabel-kabelnya di daratan Australia.

Pemerintah Australia lantas mengumumkan dukungannya bagi pembangunan kabel ke PNG. Bahkan belakangan mengatakan akan membayar pula sebagian besar biaya pembangunan kabel ke Kepulauan Solomon.

Pada Juni lalu, perusahaan Australia, Vocus, dinyatakan sebagai pemenang kontrak senilai $ 136,6 juta untuk mengelola pembangunan kabel bawah laut sepanjang 4.000 kilometer.

Para pengamat yakin keputusan Australia bukan semata terkait isu keamanan. Disebutkan bahwa hal ini juga untuk melawan pengaruh China yang menggunakan utang dan hibah untuk proyek-proyek infrastruktur di kawasan.

Chinaperingatkan Australia

Dimulai proyek kabel bawah laut ini terjadinya di tengah kritikan China terhadap Australia yang dianggapnya berusaha membendung pengaruh Beijing di Pasifik.

Dalam editorialnya, surat kabar pemerintah China Global Times mengatakan "Kebangkitan China adalah tren yang tak dapat diubah".

Setiap upaya menahan pertumbuhan negara itu, katanya, bertentangan dengan tren zaman.

Surat kabar itu menanggapi laporan bahwa Australia dan Selandia Baru akan menandatangani perjanjian keamanan baru dengan negara-negara Pasifik akhir tahun mendatang untuk mengatasi pengaruh China.

Pakta keamanan yang dikenal sebagai Biketawa Plus kini dibahas oleh anggota Forum Kepulauan Pasifik, didasarkan atas Deklarasi Biketawa tahun 2000 yang mengatur tanggapan kolektif terhadap krisis seperti bencana alam dan kerusuhan.

Global Times memperingatkan akan terjadi "kesalahan strategis" jika perjanjian keamanan baru itu ditujukan untuk China.

"Daripada terlalu mengkhawatirkan kebangkitan China, Australia dan Selandia Baru seharusnya jangan menyesatkan kawasan ini mengenai peran China," katanya.

Negara-negara di kawasan, katanya, harus menyadari konsekuensi dari tindakan tersebut.

"Kawasan ini akan mengalami lebih banyak kerugian jika membendung China," kata Global Times.

China juga mengecam Pernyataan Kebijakan Pertahanan Strategis Selandia Baru yang menyebutkan Cina menentang tatanan internasional yang ada.

Juru bicara Kemenlu China Hua Chunying pekan ini mendesak Selandia Baru "memperbaiki kata-kata dan tindakannya yang keliru serta lebih berkontribusi bagi saling percaya dan kerjasama antara kedua negara".

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Australia.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed