DetikNews
Selasa 12 Juni 2018, 11:32 WIB

Warga Singapura Bangga dengan Pertemuan Trump-Kim

Australia Plus ABC - detikNews
Warga Singapura Bangga dengan Pertemuan Trump-Kim
Singapura -

"Menurutmu, apakah pemimpin Korea Utara itu tulus?"

Saya keluar dari taksi setelah mengunjungi Pulau Sentosa untuk merekam suasana Capella Hotel, tempat pertemuan puncak antara Kim Jong-un dan Donald Trump akan diadakan.

Supir taksi mengajukan pertanyaan ini, sama dengan yang ada dalam pikiran banyak orang di seluruh dunia.

Warga Singapura, yang pekan ini diserbu ribuan awak media dari berbagai negara, tampaknya bersyukur karena negara mereka terpilih menjadi tuan rumah. Mereka pun tertarik seperti apa hasil pertemuan itu.

"Ini eksposur yang bagus untuk negara kami. Kami berharap akan berakhir dengan resolusi damai," kata seorang warga setempat, Jason Lim.

Warga lainnya Helen Lee mengatakan pertemuan ini akan menaikkan nama Singapura di mata dunia.

"Kami negara yang sangat kecil dan semua orang akan mengenal kami," katanya.

Sebelumnya seorang supir taksi lain memberi tahu saya bahwa Trump sedang dalam perjalanan.

"Saya melihat dia pergi dari Kanada. Jam berapa dia tiba?" ujarnya. Presiden AS itu mendarat di Singapura pada Minggu malam.

Setiap taksi menyalakan radionya, berbagai stasiun radio melaporkan pertemuan ini, pernyataan Trump dan Kim, serta pertemuan mereka secara terpisah dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.

Di saat Trump dan Kim menginap hanya beberapa ratus meter satu sama lain, kehidupan warga di negara kota ini berjalan normal.

Yang berbeda hanyalah kehadiran polisi dalam jumlah besar tinggi dan pembatasan lalu lintas.

Berbagai rekaman menunjukkan berbagai lokasi penting termasuk hotel tempat menginap kedua pemimpin, tempat pertemuan dan Istana Palace.

Anggota Korps Pers Gedung Putih, termasuk dari ABC Australia, menginap di satu hotel, dilayani dengan bus antar-jemput.

Ribuan awak media internasional lainnya telah berkumpul di fasilitas dekat rute F1 Singapura.

Mengenai pertanyaan supir taksi itu, tetap menjadi salah satu yang dipikirkan para wartawan dan pengamat menjelang pertemuan yang sangat penting ini.

Korea Utara sebelumnya telah menyetujui denuklirisasi, terutama di bawah kerangka kerja yang disetujui oleh Pemerintahan Clinton.

"Perjanjian ini akan membantu mencapai tujuan Amerika yang sudah lama dan vital, mengakhiri ancaman proliferasi nuklir di semenanjung Korea," kata Presiden Bill Clinton pada 1994.

"Perjanjian ini bagus buat Amerika Serikat, bagus buat sekutu kita, dan bagus buta keselamatan seluruh dunia," katanya ketika itu.

Namun kerangka kerja itu buyar ketika George W Bush terpilih jadi presiden.

Perundingan Enam Pihak yang sudah berlangsung bertahun-tahun jadi berantakan karena kegagalan menyetujui bentuk inspeksi.

Hari ini, masalahnya tetap sama, dengan satu fakta penting: Korea Utara sekarang memiliki kemampuan nuklir.

Normalisasi

Surat kabar Korea Utara Rodong Sinmun dalam editorialnya tidak menyebutkan KTT ini secara langsung.

Namun editorial itu menyebutkan "walaupun suatu negara memusuhi kami di masa lalu, sikap kami adalah jika negara ini menghormati otonomi kami, kami akan mencari normalisasi melalui dialog."

Ini sangat berbeda dengan retorika yang biasanya disampaikan Korea Utara mengenai Amerika Serikat.

Kim kini ingin memastikan dan mencapai deklarasi berakhirnya Perang Korea, perjanjian damai, pengurangan pasukan AS di Korea Selatan dan kemajuan ekonomi negaranya melalui pelonggaran sanksi dan bantuan luar negeri.

An older man with grey hair and glasses sits in a covered food-court looking at the camera with a half-smile
Warga Singapura Tony Yeo berharap pertemuan ini membawa perdamaian di kawasan. (ABC News: Zoe Daniel)

Namun sebelum memberikan konsesi apa pun, Trump akan meminta Kim untuk menyetujui denuklirisasi dan bentuk verifikasi dan inspeksi yang diperlukan.

"Saya berharap pertemuan ini bisa membawa perdamaian ke kawasan ini. Kami bangga karena ini pertemuan penting," kata warga setempat, Tony Yeo.

Dilaporkan bahwa masih ada ruang antara definisi AS mengenai Complete, Verifiable, Irreversible, Dismantlement (CVID) dan harapan Korea Utara bahwa denuklirisasi akan mencakup penghapusan aset AS dari wilayah tersebut, dan mungkin lebih dari itu.

Hingga saat ini, Korea Utara menggunakan senjata nuklirnya untuk menjamin masa depan negara itu.

Seperti yang ditanyakan supir taksi itu, semuanya akan ditentukan seberapa tulusnya Kim Jong-un mengubah hal itu demi mendapatkan tempat yang normal dalam tatanan dunia.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Australia.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed