DetikNews
Senin 14 Mei 2018, 14:22 WIB

Pengamat Australia Khawatir Ada Pola Serangan Teror Baru di Indonesia

Australia Plus ABC - detikNews
Pengamat Australia Khawatir Ada Pola Serangan Teror Baru di Indonesia
Canberra -

Seorang pengamat Australia, Profesor Greg Barton mengatakan aksi pengeboman yang terjadi di Surabaya dalam dua hari terakhir, Minggu dan Senin (13-14/5/2018) adalah sebuah mimpi buruk bagi Indonesia sekaligus meninggalkan pertanyaan apakah model aksi serupa, dengan menggunakan keluarga dan kelompok yang memiliki hubungan darah, akan berulang?

Seorang pria berbicara di televisi
Greg Barton pakar terorisme dan globalisasi dari Deakin University, Indonesia (ABC News Breakfast)

Profesor Barton, yang juga Kepala Kajian Politik Islam Global di Institut Kewarganegaraan dan Globalisasi Deakin University, mengatakan pelakunya adalah kelompok-kelompok yang 'self-contained', atau cukup menyendiri, tanpa memiliki banyak jaringan luas.

"Mereka secara sengaja tidak mengkomunikasikan misi mereka dengan kelompoknya lainnya, dan secara sengaja pula agar tidak bisa dideteksi polisi," ujar Profesor Barton saat berbincang dengan Erwin Renaldi dari ABC di Melbourne.

Ia menyamakan aksi kelompok ini sama dengan kelompok yang melakukan serangan di Paris, 13 November 2015.

"Mereka terisolasi, tidak menggunakan komunikasi digital, saya rasa mereka bertemu secara tatap muka saat saling bertukar catatan, inilah yang dikhawatirkan dari mereka yang kembali dari Suriah dan Irak."

Menurutnya 'kelompok-kelompok kecil' ini menolak untuk menggunakan jejaring sosial misalnya untuk menyampaikan rencana mereka, agar bisa melakukannya tanpa terdeteksi.

Ia mencontohkan cara kerja kelompok kecil ini lewat aksi yang terjadi di dalam penjara Markas Komando (Mako) Brimob kelapa Dua, Depok, Jawa Barat awal pekan lalu (8/5).

Menurut Profesor Barton, Detasemen Khusus (Densus 88) sebenarnya sudah memiliki sejumlah kesuksesan untuk menginterupsi aksi pelaku teror sebelum melancarkan serangan.

"Tapi kelompok ini dengan sengaja melakukannya 'lay low' [mencoba tidak menarik perhatian] agar tidak terlacak," tambahnya.

Desakan bagi DPR untuk segera putuskan Revisi UU Terorisme

Profesor Barton menyatakan ada banyak kesimpangsiuran berapa jumlah pasti pejuang asing yang telah kembali ke Indonesia.

"Tapi yang jelas adalah hukum di Indonesia tidak membuat mereka ilegal untuk pergi ke Suriah atau Irak, atau bahkan tidak membuat ilegal bagi mereka yang berpergian ke kawasan konflik."

"Yang lebih ekstrim, mereka yang dilaporkan terlibat dalam kejahatan dengan kelompok Islamic State tidak mendapat hukuman apa-apa di Indonesia."

Ia berpendapat Australia memiliki peraturan terkait pejuang asing yang menganggap tindak kejahatan untuk berpergian ke negara-negara yang dilarang, seperti Suriah.

"Tapi saya rasa mungkin pendekatan ini bukanlah yang terbaik di dunia, karena setiap negara memiliki pendekatan tersendiri sesuai sejarahnya."

"Yang terpenting adalah pemerintah Indonesia segera mengeluarkan Perpu Anti Terorisme."

Profesor Barton juga mengutip apa yang dikatakan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra, yang pernah mengatakan adanya tarik menarik di kalangan DPR sehingga tidak rampungnya revisi UU Terorisme. Dan hal inilah yang memberikan 'angin segar' bagi para teroris karena menganggap adanya pembelaan dan pemberian restu.

Pejuang asing yang kembali memiliki 'karisma' Seorang anggota militer kelompok IS di atas tank di provinsi Raqqa
Kelompok yang menamakan diri Negara Islam telah menarik warga negara lain untuk bergabung dengan janji palsu. (Reuters: Stringer)

Profesor Barton menambahkan adanya ancaman kepada Indonesia dari para pejuang asing yang kembali tidak bisa lagi dipungkiri atau menganggap mereka akan menjadi 'pasif'.

Terlebih setelah mereka yang kembali dianggap memiliki 'status' tertentu setelah pernah dianggap memiliki pengalaman di medan perang, seperti Suriah atau Marawi.

"'Splinter Cell' [sel teroris] dipimpin dan direkrut oleh orang-orang yang berkarisma, tapi Densus sudah cukup baik menghadapi pemimpin karismatik dan mencegah serangan yang ada," katanya.

"Tapi sekarang individu pejuang-pejuang asing memiliki karisma juga, dan telah kembali setelah secara langsung dengan kelompok Islamic State dan mereka tahu cara mempersiapkan secara psikologis, pelatihan, merekrut, dan melancarkan serangan sendiri-sendiri."

"Ada di antara beberapa mereka menyampaikan kebencian terhadap Indonesia dan kepada mereka yang tidak memiliki pandangan sama, juga pada kaum minoritas, bahkan juga kepada sesama Muslim sendiri, sehingga ada potensi menjadi individu-individu radikal yang mendapat arahan atau terinspirasi untuk meluncurkan serangan."


Tonton video 20Detik tentang "Polrestabes Surabaya Diguncang Bom"

[Gambas:Video 20detik]


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed