DetikNews
Kamis 22 Maret 2018, 09:37 WIB

Teknologi Laser Akan Digunakan untuk Singkirkan Sampah Luar Angkasa

Australia Plus ABC - detikNews
Teknologi Laser Akan Digunakan untuk Singkirkan Sampah Luar Angkasa Ilustrasi seniman tentang laser yang berbasis di daratan yang bisa digunakan untuk memindahkan puing luar angkasa. (Wikimedia Commons/Fulvio314)
Canberra -

Sampah luar angkasa adalah masalah nyata yang bisa menyebabkan bencana bagi manusia di Bumi. Sekarang para ilmuwan Australia sedang menciptakan laser canggih yang berbasis di daratan untuk menembak sampah itu semuanya.

Poin utama:
• Laser akan bisa melacak puing-puing sampah dan menghentikannya dari bertabrakan dengan cara menggerakkannya
• Dr Greene mengatakan bahwa beberapa satelit hilang akibat sampah ruang angkasa
• Di Eropa, peluru dan jaring luar angkasa dikembangkan untuk menangkap potongan yang lebih besar


Lembaga EOS Space Systems telah membangun dan mengembangkan sistem pelacakan untuk satelit dan sampah luar angkasa di Mount Stromlo di Canberra.

Sampah luar angkasa atau spaces junk adalah berbagai satelit alat peluncurnya yang sudah habis masa berlakunya dan terus melayang di luar angkasa.

CEO perusahaan tersebut Profesor Craig Smith, mengatakan bahwa peneliti telah mengembangkan laser bertekanan foton yang "bisa menggerakkan puing-puing luar angkasa, mengubah orbit mereka."

Langkah pertama bagi ilmuwan adalah menggunakan laser bertenaga rendah untuk mendeteksi dan mengikuti benda-benda yang teridentifikasi di luar angkasa.

"Dengan sistem pelacakan laser, kami melacak objek dan memprediksi tabrakan dengan akurasi tinggi," kata Profesor Smith.

Jika sepotong sampah luar angkasa tampak seperti hendak tabrakan dengan potongan lain, maka laser akan digunakan untuk mengubah orbitnya.

Langkah selanjutnya adalah "meningkatkan daya menjadi laser yang lebih besar dan lebih besar."

"Kemudian kami bisa mulai memindahkannya ke orbit satelit dengan mengurangi kecepatannya sehingga bisa mengubah ketinggian orbit."

"Obyek itu akhirnya menyentuh atmosfer dan atmosfer mengambil alih dan menyeretnya serta membakarnya."

Namun, Profesor Smith mengatakan bahwa para ilmuwan harus memastikan mereka tidak membelah puing menjadi dua, yang kemudian akan menambah jumlah sampah luar angkasa di orbit.

"Masalah sebenarnya adalah Anda membuatnya lebih sulit. Jika mereka menjadi lebih kecil mereka menjadi lebih sulit dan makin sulit untuk dilacak, dan karena itu mereka mulai menjadi tidak terlihat - tetapi juga masih mematikan untuk satelit."


Australia tempat terbaik

Sampah luar angkasa mungkin terdengar tidak berbahaya, tapi film Hollywood 'Gravity' mengingatkan para penonton bioskop bahwa benda ini bisa menjadi pembunuh - terutama jika anda adalah seorang astronot yang berkeliaran di angkasa dan benda itu menghalangi jalan anda.

Benda itu juga bisa menghancurkan satelit, yang banyak di antaranya mengelilingi Bumi.

Dr Ben Greene, ketua Pusat Penelitian Lingkungan Luar Angkasa, mengatakan ada "ratusan ribu sampah luar angkasa dengan ukuran di mana mereka akan mengancam satelit."

"Kami kehilangan beberapa satelit setahun ini karena sampah luar angkasa," kata Greene.

Di bawah skenario terburuk untuk sampah luar angkasa, serangkaian tabrakan bisa membuat orbit dekat Bumi menjadi zona larangan bepergian untuk satelit dan pesawat luar angkasa.

Oleh karena itu, hal yang mendesak untuk mencari cara menyingkirkan sampah antariksa.

Upaya untuk membuat penerbangan luar angkasa kurang berantakan sedang dilakukan, seperti menghilangkan bekas pendorong roket yang saat ini dibuang di luar angkasa.

Di Eropa, tombak dan jaring antariksa sedang dikembangkan untuk menangkap puing-puing yang lebih besar.

Tapi di Australia, fokusnya adalah menggunakan cahaya pekat untuk menyingkirkan sampah luar angkasa dari bahaya.

Dan Dr Greene mengatakan Australia adalah tempat yang jelas untuk memasang teknologi laser.

"Kemungkinan besar akan berasal dari Australia, karena Anda memerlukan platform yang layak untuk digunakan dan Anda memerlukan cuaca yang baik. Dan Australia memiliki keduanya," katanya.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed