DetikNews
Rabu 21 Maret 2018, 14:39 WIB

Alumni Australia Ciptakan Pemantau Gas Beracun Gunung Berapi

Australia Plus ABC - detikNews
Alumni Australia Ciptakan Pemantau Gas Beracun Gunung Berapi
Jakarta -

Tim riset Politeknik Negeri Madiun (PNM) berhasil menciptakan dan memasang alat pemantau gas beracun di dekat kawah Gunung Kelud. Alat berbasis internet ini nantinya bisa membantu dalam mitigasi bencana terkait gunung berapi.

Para peneliti terdiri atas Nur Asyik Hidayatullah, alumni Victoria University di Melbourne; Dirvi Eko Juliando dosen Teknik Komputer Kontrol, Ardi Catur Kurniawan, alumni Teknik Komputer Kontrol PNM; Yohan Intan Kusuma, teknisi; dan Kholis Nur Faizin, dosen Mesin Otomotif.

Alat ini mampu memonitor gas beracun karbon monoksida (CO) atau karbondiokasida (CO2 ) di gunung berapi. Aplikasi berbasis internet ini dinamakan Volcanic Gas Online Monitoring System based on Internet of Things (VIOT). Dengan alat tersebut, aktivitas gas di gunung berapi bisa dipantau apakah berbahaya bagi makhluk hidup atau tidak.

Gas CO dan CO2 itu tidak tampak dan tidak berbau. Sehingga sangat susah di deteksi oleh pancaindera karena menyatu dalam udara. Berbeda dengan gas sulfur yang masih ada baunya.

"Apabila Gas CO/CO2 tersebut dihirup makhluk hidup maka bisa mengakibatkan kematian sebagaimana yang terjadi pada tragedi sinila di gunung dieng wonosobo pada tahun 1979. Total 149 orang tewas waktu itu. Kami tidak ingin peristiwa itu terulang lagi," kata Ketua Tim VIOT PNM Nur Asyik Hidayatullah.

Bisa dimonitor setiap saat

Alat buatan tim riset tersebut memakai jaringan wireless sensor network (WSN) atau jaringan sensor nirkabel yang memanfaatkan energi surya. Tim riset PNM dibantu oleh tim Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Indonesia telah menguji dan memasang alat monitoring tersebut di depan kawah Gunung Kelud, Kediri, bulan lalu.

"Pemantauan VIOT dilalukan secara langsung dan realtime melalui website dan keseluruhan data diakuisisi secara online dan disimpan ke dalam database," jelas Nur Asyik kepada wartawan ABC Australia Farid M. Ibrahim, Rabu (21/3/2018).

Dia menjelaskan, VIOT menerapkan sistem WSN sehingga data yang diperoleh melalui node yang tersebar akan ditransmisikan ke gateway melalui jaringan radio untuk diupload ke server website yang tersedia.

Meski membawa piranti seberat lebih dari 10 kilogram di medan yang terjal, dengan kondisi hujan dan cuaca berkabut dengan jarak pandang 10 sampai 15 meter, alat tersebut akhirnya terpasang dan mampu mengirimkan data tingkat konsentrasi gas secara langsung dan terus-menerus.

Sesuai hasil monitoring, untuk Gunung Kelud Kediri saat ini masih dalam status aman, karena konsentrasi gas beracun di kawah masih berada di bawah level 400 part per millions (ppm). Namun jika level gas sudah di atas ambang batas tersebut maka akan sangat berbahaya untuk makhluk hidup.

viot1.JPG
Nur Asyik Hidayatullah (kanan) dan timnya berhasil memasang alat Volcanic Gas Online Monitoring System based on Internet of Things (VIOT) di dekat kawah Gunung Kelud. (Foto: istimewa)

VIOT mampu menginformasikan data secara real time dan mendeteksi keadaan lingkungan di sekitarnya. Yakni aktivitas gas di gunung berapi khususnya keberadaan gas beracun CO/CO2. Kemudian dikomunikasikan melalui internet melalui aplikasi yang bisa diakses oleh masyarakat luas kapanpun dan dimanapun.

"Rencananya alat ini akan kami kembangkan lebih lanjut tingkat keandalannya untuk menguji kadar gas beracun di Gunung Dieng atau Merapi. Agar masyarakat dan wisatawan aman dalam beraktivitas baik bertani maupun pendakian," imbuh Nur Asyik yang menyelesaikan S-2 di Victoria Univeristy tahun 2009.

Selain sensor gas, dosen teknik listrik ini menyebutkan VIOT juga bisa tambahkan sensor suhu, sensor seismik dan beberapa sensor lainnya sesuai dengan kebutuhan PVMGB.

"Alat ini sangat bermanfaat untuk sistem peringatan dini dan mitigasi dampak dari bencana gunung berapi, khususnya mengetahui status gas beracun," katanya.

Masyarakat bisa mengakses situs monitoring tersebut di http://viot.research.pnm.ac.id/ untuk mengetahui status terkini kadar gas beracun di Gunung Kelud apakah levelnya dalam status aman atau bahaya.

"Apabila statusnya aman maka warna node 1 & node 2 akan berwarna hijau, namun sebaliknya, jika statusnya bahaya maka warna node 1 & node 2 akan berubah menjadi merah," jelas Nur Asyik.

Melalui node 1 dan node 2, VIOT juga mampu menyajikan data log kadar gas CO baik harian, mingguan dan tahunan dalam bentuk tabel dan grafik.

Riset ini didanai oleh Pemerintah Australia melalui Alumni Grant Scheme (Skema Dana Hibah Alumni) yang diadministrasikan oleh Australia Award in Indonesia (AAI).




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed