DetikNews
Jumat 23 Februari 2018, 12:37 WIB

PM Kamboja Ancam Jika Ada yang Protes Dirinya di Australia

Australia Plus ABC - detikNews
PM Kamboja Ancam Jika Ada yang Protes Dirinya di Australia
Phnom Penh -

Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengancam akan "menindak" mereka yang hendak membakar fotonya dalam pertemuan puncak pemimpin Asia Tenggara di Sydney bulan Maret mendatang.

Ratusan warga Kamboja yang tinggal di Australia diperkirakan akan menggelar demonstrasi mengecam Hun Sen saat datang ke KTT ASEAN-Australia tanggal 17-18 Maret.

"Saya ingin mengingatkan mereka yang berencana mengecam saya, bahwa kunjungan saya adalah sebagai sebuah kehormatan bagi pemerintahan mereka sendiri," kata Hun Sen dalam sebuah pidato.

"Jika mereka membakar patung saya ... saya akan mengejar mereka ke rumah mereka dan menindak mereka."

Tapi para pemrotes malah mengucapkan terima kasih atas idenya.

"Kami tidak berencana untuk membakar patung Hun Sen, tapi dia sendiri yang mengingatkan kami kemarin," kata Va Malina, warga Melbourne asal Kamboja kepada media Phnom Penh Post.

Hong Lim, kelahiran Kamboja yang juga anggota dewan negara bagian Victoria untuk daerah pemilihan Clarinda, mengatakan kepada Post bahwa warga Australia berhak melakukan demonstrasi damai.

"Ironisnya, acara yang akan ia hadiri adalah tentang upaya gabungan Australia dan ASEAN melawan terorisme ... dan teroris Hun Sen mengancam untuk membawa terorisme ke Australia," kata Lim.

'Tidak ada Hun Sen, tidak ada ASEAN'

Hun Sen juga memperingatkan ia akan memboikot KTT ASEAN-Australia atau melakukan veto atas pernyataan bersama apapun, jika ada tekanan dari negara-negara anggota, menurut Phnom Penh Post.

Hun Sen merujuk pada sebuah panggilan telepon pribadi yang tampaknya bocor antara anggota partai oposisi yang kini dilarang, yakni Partai Penyelamatan Nasional Kamboja (CNRP). Partai tersebut mengatakan pemerintah Kamboja akan menghadapi tekanan dari negara-negara Perserikatan Bangsa-Bangsa, Australia dan ASEAN.

"Jika tidak ada Hun Sen, tidak akan ada ASEAN," tulis Phnom Penh Post mengutip pernyataan pekerja garmen di Kamboja.

"Saya hanya akan memberikan alasan bahwa di tahun 2018 saya tidak bisa pergi ke luar negeri karena sibuk dengan pemilihan", yang dijadwalkan pada 29 Juli.

"Ini berarti Australia tidak akan bisa mengadakan pertemuan. Jika tidak ada konsensus itu tidak mungkin."

Kem Sokha, ketua dari oposisi utama Kamboja sudah dipenjara sejak bulan September.
Kem Sokha, ketua dari oposisi utama Kamboja sudah dipenjara sejak bulan September. (Reuters: Samrang Pring)


Tahun lalu, demokrasi Kamboja mengalami kemunduran, dimana Mahkamah Agung Kamboja membubarkan CNRP dan memenjarakan pemimpinnya, Kem Sokha karena tuduhan pengkhianatan.

Ketua Hakim Dith Munty, yang merupakan anggota partai berkuasa senior, mengumumkan sembilan anggota sepakat pada bulan November tahun lalu.

Ia mengatakan 118 anggota partai oposisi juga akan dilarang melakukan politik selama lima tahun ke depan, dan putusan tersebut tidak dapat diajukan banding.

Sementara itu, pembuat film Australia, James Ricketson, dituduh telah melakukan tindakan mata-mata di Kamboja dan menjalani penahanan pra-peradilan sejak penangkapannya pada bulan Juni 2017. Penangkapan ini mendorong Menteri Luar Negeri Julie Bishop, merujuk kepada pemerintah Kamboja, untuk mengungkapkan keprihatinan atas kasus tersebut.

James menghadapi tuduhan mata-mata setelah menerbangkan drone saat terjadi demonstrasi di ibukota Phnom Penh, Juni lalu.

Jika terbukti bersalah, dia bisa dipenjara selama 10 tahun tapi ia membantah tuduhan tersebut.

Pekan lalu, mantan pemimpin oposisi Sam Rainsy mengatakan James menjadi kambing hitam dan penangkapannya sengaja dirancang untuk menakut-nakuti dan menghalangi wartawan asing menulis laporan penting tentang pemerintahan Hun Sen.

Simak laporannya dalam bahasa Inggris disini.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed