DetikNews
Jumat 23 Februari 2018, 12:03 WIB

Australia Konfirmasi Data Intelijen Israel Terkait Rencana Teror

Australia Plus ABC - detikNews
Australia Konfirmasi Data Intelijen Israel Terkait Rencana Teror
Canberra -

Menteri Dalam Negeri Australia, Peter Dutton, mengonfirmasi, Angkatan Pertahanan Israel telah memberikan informasi intelijen penting yang mengungkap dugaan rencana untuk menjatuhkan sebuah pesawat penumpang dengan sebuah bom yang tersembunyi di alat penggiling daging.

Pada hari Rabu(21/2/2018) malam, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengklaim bahwa informasi intelijen yang dikumpulkan oleh unit elit 8.200 militernya telah memainkan peran kunci dalam mencegah serangan terhadap penerbangan Etihad dari Sydney ke Abu Dhabi pada tanggal 15 Juli 2017.

"Hari ini, kami mengungkapkan bahwa dinas intelijen Israel mencegah penembakan sebuah pesawat Australia," kata Netanyahu dalam sebuah konferensi para pemimpin Yahudi Amerika.

"Dan saya bisa memberitahu Anda bahwa ini adalah salah satu dari banyak tindakan yang telah kami lakukan untuk mencegah terorisme di seluruh dunia."

Namun pernyataan Netanyahu bertentangan dengan pernyataan resmi dari Kepolisian Federal Australia (AFP), yang menyatakan bahwa mereka menerima petunjuk intelijen 11 hari setelah dugaan sel teror tersebut mencoba menyelundupkan bom ke penerbangan Etihad.

Pada bulan Agustus 2017, wakil komisaris AFP Michael Phelan mengonfirmasi bahwa bom rakitan tersebut tidak pernah berhasil melewati pemeriksaan masuk maskapai karena melampaui batas berat bagasi.

Pada saat itu, pihak berwenang Australia meyakinkan kembali masyarakat bahwa bom dalam bentuk alat penggiling daging tersebut tidak akan berhasil melewati keamanan bandara, dan mereka telah menguji sebuah bom tiruan yang terdeteksi oleh petugas keamanan sebelum barang tersebut dimuat ke pesawat.

Pejabat intelijen Australia menerima informasi intelijen asing pada tanggal 26 Juli, dan baru kemudian mengetahui tentang dugaan rencana serangan bom penggiling daging yang kemudian memicu polisi menggerebek lima properti di Sydney dan menangkap empat orang pada tanggal 29 Juli.

Mereka juga mengungkap sejumlah rencana dan komponen bom hidrogen sulfida yang oleh terduga sel teroris tersebut direncanakan akan menyasar jaringan transportasi umum Sydney.

Terlepas dari ketidakkonsistenan pernyataan Netanyahu, Menteri Dutton dengan cepat memuji hubungan antara badan intelijen Israel dan Australia.

"Penerbangan Etihad ini hampir meledak di langit dan akan mengakibatkan ratusan orang kehilangan nyawa mereka," katanya kepada stasiun radio Sydney 2GB.

"Kami sangat berterima kasih atas bantuan yang diberikan Israel dalam hal ini dan kami masih memiliki hubungan yang sangat erat dengan mereka dan banyak mitra lainnya."

Petugas polisi Federal dan Negara Bagian terlihat di lokasi kejahatan di Surry Hills.
Petugas polisi Federal dan Negara Bagian terlihat di lokasi kejahatan di Surry Hills. (AAP: Sam Mooy)


Tak ada yang tahu bom dikirim lewat udara

Sejumlah sumber di kalangan penegak hukum mengatakan kepada ABC bahwa mereka telah lama menduga informasi awal intelijen terkait rencana serangan teroris ini memang berasal dari Israel tapi melewati sejumlah saluran lain sebelum sampai di tangan pihak berwenang Australia.

Pakar anti-terorisme Greg Barton, dari Universitas Deakin, mengatakan bahwa itu mungkin akurat.

"Asumsinya di Australia adalah bahwa petunjuk intelijen yang diberikan datang melalui Markas Besar Komunikasi Pemerintah Inggris (GCHQ) dan MI6," sebutnya.

"Tapi tentu saja sejumlah badan intelijen bekerja sama dalam hal-hal mendesak seperti ini, jadi kemungkinan itu adalah operasi gabungan."

Profesor Barton mengatakan bahwa unit intelijen militer 8200 Israel adalah agen yang sangat canggih yang menyadap apa yang disebut sinyal intelijen, seperti komunikasi telepon dan internet.

Ia juga mengatakan bahwa kemungkinan Israel memiliki operasi intelijen yang bekerja di Suriah dan Irak yang bisa menyusup ke kelompok Negara Islam Suriah Irak atau ISIS.

Namun ia mengatakan bahwa data intelijen apapun yang ditemukan oleh unit 8200 mungkin "data mentah" dan masih perlu diverifikasi dan dianalisis oleh otoritas intelijen Australia sebelum bisa ditindaklanjuti.

"Selama periode mendapatkan data intelijen dan melakukan penangkapan, mereka [pihak berwenang Australia] harus mengidentifikasi targetnya ... mereka harus menempatkan mereka di bawah pengawasan dan kemudian bergerak secepat mungkin," kata Profesor Barton.

Khaled Khayat (kiri) dan Mahmoud Khayat ditahan polisi.
Khaled Khayat (kiri) dan Mahmoud Khayat ditahan polisi. (Supplied)


"Mereka menggambarkan operasi pada saat itu melibatkan pekerjaan yang cukup banyak dan analitik dan itu memberi mereka informasi penting, namun kemudian mereka harus mengolahnya lebih jauh sebelum mereka tahu ke mana harus pergi dan siapa yang akan ditangkap."

"Tampaknya tidak ada yang tahu tentang bom alat penggiling daging itu dikirimkan melalui angkutan udara Turki keluar dari Turki pada bulan Juli dan kemudian dirakit dan berusaha untuk diangkut ke penerbangan pada tanggal 15 Juli."

"Dan hanya keberuntungan belaka bahwa rencana serangan teror bom ini tidak berlanjut lebih jauh."

Salah satu dari keempat pria yang ditangkap dibebaskan tanpa tuduhan.

Khaled Merhi, 40 tahun, didakwa melakukan pelanggaran yang tidak terkait yakni memiliki Taser (alat kejut elektrik) secara tidak sah.

Khaled Khayat, 49 tahun, dan Mahmoud Khayat, 32 tahun, sedang menunggu persidangan dengan tuduhan melakukan tindakan persiapan atau perencanaan untuk melakukan aksi teroris.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed