DetikNews
Rabu 21 Februari 2018, 09:02 WIB

Bank di Australia Kurangi 6 Ribu Pegawai Akibat Otomatisasi

Australia Plus ABC - detikNews
Bank di Australia Kurangi 6 Ribu Pegawai Akibat Otomatisasi
Melbourne -

Enam ribu pegawai Bank Nasional Australia (NAB) mulai kehilangan pekerjaan mereka pekan ini, sebagian besar berbasis di Melbourne, akibat penerapan perangkat lunak untuk tugas-tugas perbankan yang semakin kompleks.

Gelombang digital kini melanda sektor perbankan, lembaga keuangan, firma akuntansi dan firma hukum. Jika Anda bekerja kantoran yang berhubungan dengan informasi, Anda akan menghadapinya.

Pengurangan pegawai tersebut mencakup satu dari lima pegawai NAB. Diumumkan pada November 2017, saat bank tersebut menyampaikan laporan laba bersih tahunan sebesar 5,3 miliar dolar.

Dominic Barton, managing partner global firma konsultan McKinsey and Company, menjelaskan "Untuk 60 persen pekerjaan, 30 persen aktivitas itu bisa diotomatisasi."

"Kita tidak menunggu lima tahun, hal itu sudah terjadi sekarang," katanya.

Menurut Barton, otomatisasi dan perangkat lunak untuk analisis informasi dan pengambilan keputusan akan mengubah lanskap bisnis. Pekerjaan yang, sampai saat ini, membutuhkan "pegawai pandai" bergaji besar.

"Jika kita melihat dalam lima sampai tujuh tahun ke depan jumlah pekerjaan yang akan digantikan sangat besar - didorong oleh teknologi dalam pekerjaan bergaji tinggi, bisa terjadi di sektor jasa keuangan, teknologi dan seterusnya," katanya.

"Saya kira kita tidak menyadarai skala dan kecepatan hal ini bisa terjadi," tambah Barton.

Salah satu pegawai NAB yang diberhentikan Peter Chung tahu bagaimana rasanya "diacak" untuk diberhentikan dari posisinya.

Dia diberhentikan enam bulan lalu, meski menyandang banyak gelar sarjana, keterampilan tinggi dan hampir 30 tahun bekerja di perusahaan itu.

"Saya katakan teknologi mengurangi ukuran pekerjaan, isi pekerjaan dan pada akhirnya jumlah pekerjaan yang tersedia," paparnya.

Pergeseran jenis pekerjaan

Masalah kehilangan pekerjaan hanyalah sebagian dari isu.

NAB mengurangi 6.000 staf, namun mempekerjakan 2.000 pegawai pada periode yang sama.

Ketika teknologi mengambil alih pekerjaan, sering dilupakan bahwa hal itu menguntungkan orang lain.

Misalnya, dalam dua dekade terakhir, jumlah teller bank menurun tajam karena kemajuan mesin teller otomatis dan perbankan online.

Namun jumlah profesional keuangan yang sangat terampil meningkat dengan jumlah yang sama.

CEO NAB Andrew Thorburn bulan ini menyatakan simpati kepada pegawai yang diberhentikan, namun melihat permasalahan yang lebih luas.

"Saya kira ini salah satu masalah besar di Australia selama lima sampai 10 tahun ke depan: sifat baru pekerjaan jadi lebih kasual," katanya.

"Internet mengubah banyak hal. Saya kira secara keseluruhan itu sangat baik. Namun ada pergeseran besar jenis pekerjaan di Australia selama 30 sampai 40 tahun terakhir," papar Thorburn.

"Tapi dengan internet, dengan bisnis digital, transformasinya sangat besar," tambahnya.

Bagi jutaan orang Australia yang bekerja kantoran dengan komputer, perubahan bukan akan datang - tapi sudah di sini.

Sekarang terserah pada individu, bisnis dan pemerintah mengelola transisi menuju ekonomi baru. Namun jawabannya mungkin tidak bergantung pada bidang yang disebut sains, teknologi, teknik dan matematika.

Keterampilan masih dibutuhkan

Pakar ilmu sosial Dr Claire Mason dari CSIRO's Data61 mengatakan pekerjaan dengan pertumbuhan tercepat justru menggunakan "keterampilan" gaya lama.

"Masuk akal bila kita pikirkan karena teknologi pada dasarnya mengotomatisasi rutinitas, jenis tugas berdasarkan aturan," katanya.

"Tapi tetap tidak bisa - dalam jangka menengah - mengerjakan fungsi manusia seperti menunjukkan empati, menjadikan seseorang merasa dimengerti, atau tahu bagaimana mendefinisikan masalah yang sangat kompleks," jelas Mason.

Salah satu tantangan terbesar adalah melatih kembali populasi pekerja yang menua untuk pekerjaan yang belum ada.

Peter Chung merasa perusahaan tidak tertarik mempertahankan staf yang ada.

"Saya mendapat kesan bahwa mereka berpikir terlalu sulit untuk melatih pegawai," katanya.

"Sedikit sekali pelatihan secara internal selama 10 tahun terakhir," ujarnya.

Dia tidak sendiri.

Bahkan bos McKinsey and Company, yang berbicara dengan para pemimpin dunia dan menangani sebuah perusahaan dengan jaringan terbesar di dunia, merasakan perlunya mendapatkan mandat baru.

"Kita harus memikirkan bagaimana kita melatih kembali orang berusia 55 tahun," kata Barton.

"Dalam hidupku, saya mencoba hal ini sendiri. Saya 55 dan saya berusaha keras untuk tetap bertahan," katanya.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed