DetikNews
Selasa 20 Februari 2018, 13:51 WIB

Ribuan Warga Australia Adukan Kasus Penipuan Bitcoin

Australia Plus ABC - detikNews
Ribuan Warga Australia Adukan Kasus Penipuan Bitcoin
Canberra -

Angka baru menunjukkan lebih dari 1.200 orang Australia mengadu kepada pengawas konsumen nasional tentang penipuan investasi mata uang kripto tahun lalu.

Program televisi milik ABC, 7.30 telah mendapatkan angka terbaru dari komisi pengawas konsumen dan penipuan di Australia, atau ACCC. Komisi tersebut telah menerima 1.289 keluhan terkait bitcoin pada tahun 2017, dengan kerugian yang dilaporkan sebesar $1,2 juta atau lebih dari Rp 12 miliar.

Badan pengatur perusahaan, Australian Securities and Investments Commission (ASIC), sebelumnya telah mengeluarkan peringatan kepada calon investor.

"Ini adalah produk yang cukup spekulatif dan harganya cukup tinggi," kata John Price, Komisaris ASIC kepada program 7.30.

"Beberapa dari produk ini adalah penipuan yang sudah kami dokumentasikan, jadi tolong jangan berinvestasi kecuali Anda bersedia kehilangan sebagian atau seluruh uang Anda."

Pasar transaksi yang tidak diatur

Salah satu investor, Akram Bekzada, mengatakan bahwa ia dirugikan setelah menggunakan jasa Igot, perusahaan pembelian dan penjualan mata uang kripto.

Pada tahun 2014 ia berinvestasi senilai $20.000, atau lebih dari Rp 200 juta untuk membeli bitcoin lewat Igot.

Ketika harga bitcoin turun dan dia memutuskan untuk menjualnya, transaksi tidak bisa dilakukan.

"Tidak ada yang mau uangnya diambil, jadi ya, rasanya tidak enak sekali," katanya.

Akram mengatakan dia dan puluhan investor lainnya telah mengejar uang mereka sejak saat itu, tapi dengan hanya sedikit bantuan dari pihak berwenang.

"Semua berharap banyak pada pihak berwenang Australia," katanya.

"Salah satu daya tarik Igot adalah mereka entitas asli Australia, inilah cara mereka beriklan, bagaimana mereka mendapatkan banyak kepercayaan dari orang-orang."

"Banyak pelanggan tercengang mengapa tidak ada yang bisa dilakukan."

Di dunia maya sepertinya perusahaan Igot memiliki nama baru, yakni Bitlio, meski seorang pengacara untuk Bitlio mengatakan pada program 7.30 bahwa perusahaannya tidak sama.

7.30 tidak mendapatkan komentar dari Igot soal pemberitaan ini.

Bitlio mengatakan bahwa pihaknya pernah menawarkan untuk mentransfer mata uang kripto dari Igot ke token online yang dapat diperdagangkan di bursa Bitlio, namun beberapa pelanggan Igot telah gagal mengubah kepemilikan mereka.

Mereka juga mengatakan 90 persen pelanggan Igot kini telah mengalihkan kepemilikan mereka ke Bitlio, dan Bitlio telah menangani pelanggan Igot.

Peraturan yang terhambat Bitcoin pada awalnya tidak memiliki nilai hingga pernah mencapai Rp 200 juta per kepingnya di tahun 2017.
Bitcoin pada awalnya tidak memiliki nilai hingga pernah mencapai Rp 200 juta per kepingnya di tahun 2017. (Reuters: Jim Urquhart)

Ketidakjelasan soal transaksi seperti ini yang mendorong adanya reformasi legislatif untuk transaksi kriptocurrency.

Mulai bulan April mendatang, transaksi kripto harus terdaftar di badan intelijen finansial Australia AUSTRAC, dan melaporkan pelanggan serta transaksi yang mereka lakukan.

Menteri Keamanan Cyber Australia yang baru, Angus Taylor, menyambut baik langkah tersebut.

"Kami memiliki banyak kerja sama dari sejumlah mata uang kripto karena mereka tahu mereka harus sah, mereka tahu mereka perlu menjadi bagian dari sistem keuangan kami, dan mereka tahu mereka tidak akan memfasilitasi kegiatan ilegal dan kriminal," katanya.

Sementara itu, hampir 10 tahun setelah penemuan bitcoin, Taylor mengatakan pada program 7.30 bahwa Australia masih berada terdepan.

"Kita sudah melakukannya lebih awal, lebih awal dari banyak negara lain di seluruh dunia," katanya.

"Jelas mata uang kripto berkembang, dan pemerintah sudah tepat membuat kerangka peraturan dengan fokus khusus pada aktivitas kriminal."

Brad Brown dari AUSTRAC mengatakan masih ada ancaman kripto yang digunakan untuk membiayai kejahatan terorganisir dan terorisme.

"Pasti ada resiko dari mata uang digital yang disalahgunakan untuk pencucian uang, pendanaan terorisme dan kejahatan berat lainnya di Australia," katanya pada 7.30.

Investor Bitcoin James Cole, ahli pemograman komputer yang juga investor Bitcoin.
James Cole, ahli pemograman komputer yang juga investor Bitcoin. (ABC News: Claire Osborne)

Volatilitas harga saham saat ini belum seberapa dibandingkan naik turunnya nilai mata uang kripto di pasaran.

Bitcoin telah kehilangan sekitar setengah dari nilainya selama bulan lalu, tahun lalu masih naik 878 persen, dan masih ada pembicaraan terus-menerus soal kemungkinan gelembung bitcoin akan pecah.

Pemrogram komputer James Cole baru-baru ini menjual bisnis start up miliknya di sektor perangkat lunak, dan kini berjualan mata uang kripto.

Ia mulai berinvestasi beberapa ribu dolar pada tahun 2013 dan melihat portofolionya meningkat hampir $200.000, lebih dari Rp 2 miliar.

Tapi pada bulan Januari, pasar mata uang kripto jatuh.

"Saya kehilangan sekitar $110.000, lebih dari Rp 1,1 miliar dari portfolio saya dalam waktu 24 jam," kata James.

"Tentu bukan hal yang menggembirakan saat bangun di pagi hari."

Nilai investasinya masih unggul dan kerugiannya saat ini baru ada di atas kertas. Tapi dengan naik turunnya harga dengan sangat tajam baru-baru ini mendorong investor bitcoin lainnya untuk menjual.

Toby Halligan adalah salah satu investor Bitcoin asal Australia
Toby Halligan adalah salah satu investor Bitcoin asal Australia (ABC New: Vince Tucci)

"Sudah pasti ada saat di mana saya melakukan kesalahan," kata Toby Halligan, investor lain yang juga seorang komedian dan DJ dan pertama kali beli mata uang kripto di tahun 2013.

"Ada saat di mana saya menghasilkan $1.200 [sekitar Rp 12 juta] selama satu jam dan sangat senang, dan kemudian saya kehilangan $1.500 [sekitar Rp 15 juta] selama setengah jam."

Toby menjual sebagian besar koin kriptonya beberapa minggu yang lalu.

"Saya pikir Anda akan lebih ingat kerugian dari pada keuntungan. Anda ingat keputusan buruk Anda lebih dari keputusan baik, dan fluktuasi seperti itu melelahkan," ujar Toby pada 7.30.

Masih bingung soalbitcoin?

Bitcoin adalah mata uang kripto yang paling banyak dikenal.

Saat pertama kali diperjualbelikan di tahun 2009, mata uang sama sekali tak bernilai harganya, tapi puncaknya pada tahun 2017 lalu di mana sempat bernilai $20.000, atau lebih dari Rp 200 juta.

Mata uang kripto hanya tersedia di dunia maya dan menggunakan data digital untuk merekam semua transaksi dan untuk meyakinkan keamanannya.

Semua transaksi dicek oleh pengguna lainnya, yang dikenal dengan sebutan bitcoin miners.

Keseluruhan prosesnya tidak terpusat dan tidak melibatkan bank.

"Potensinya, saya rasa, sangat besar," ujar James.

"Koin yang ada saat ini mungkin bisa atau tidak bertahan dalam jangka panjang, tapi ini benar-benar menyenangkan bagi saya [ini] sebuah cara baru untuk menyimpan nilai dan kepemilikan."

Simak laporannya dalam bahasa Inggris disini.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed