DetikNews
Selasa 23 Januari 2018, 05:15 WIB

Penyelundupan Bayi Satwa Makin Membuat Orangutan Terancam Punah

Australia Plus ABC - detikNews
Penyelundupan Bayi Satwa Makin Membuat Orangutan Terancam Punah
Jakarta -

Seorang mantan penyelundup membagikan rahasia tentang bagaimana sejumlah geng menculik bayi orangutan untuk dijual sebagai hewan peliharaan atau simbol status, tindakan yang membuat spesies yang terancam punah ini makin dekat dengan kepunahan.

Erangan yang terdengar menakutkan menghentikan langkah kami.

Sulit untuk menentukan kandang mana yang menjadi muasal dari suara itu. Tapi kemudian sesosok mahluk bertangan seperti manusia berusaha mendekat dan menunjukkan kepada kami ekspresi orangutan yang putus asa dan sedih.

Ia adalah Jono, orangutan dari Kalimantan. Ia telah mendekam di kandang itu sendirian selama 5 tahun terakhir.

Jono ditinggalkan oleh sebuah LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang sempat menjadikannya hewan peliharaan. Ia dulunya bayi orangutan yang lucu tapi makin sulit untuk dipelihara seiring dengan pertambahan usianya.

Kini ia bertubuh besar -orangutan dewasa jantan bisa memiliki berat badan hingga 130 kilogram.

Mata gelap Jono memandang kami dari balik kandang. Bahkan lantai kandangnya terbuat dari besi, untuk memastikan tak perlu dilakukan pembersihan.

Kami pertama kali mendengar Jono ketika meriset tentang penyelundupan orangutan senilai jutaan dolar, sebuah proyek yang membawa kami ke hutan tua Jono di Kalimantan, Sumatra hingga Thailand.

Jono sempat ditinggalkan oleh LSM.
Jono sempat ditinggalkan oleh LSM.

Foreign Correspondent

Butuh berbulan-bulan bagi tim kami untuk mendapatkan izin akses ke pusat penyelamatan hewan yang dikelola pemerintah, yang menampung Jono di Jakarta Barat. Barangkali kesedihan yang jelas dialami Jono mendasari sulitnya akses itu.

Sudah terlambat bagi Jono untuk direhabilitasi ke alam liar.

Nasibnya menandakan kepunahan yang makin mendekat bagi spesies ini, yang berbagi DNA sebesar 97% dengan manusia. Bahkan Pemerintah Indonesia mengakui bahwa kemungkinan orangutan akan punah dari alam liar dalam 50 tahun mendatang.

Perusakan hutan Kalimantan dan Sumatra akibat perkebunan kelapa sawit membuat kepunahan orangutan makin mendekat. Tapi para penyelundup satwa liar, dan orang-orang yang membeli bayi satwa liar sebagai hewan peliharaan justru mempercepat proses ini.

Jono di kebun binatang Yogyakarta
Jono di kebun binatang Yogyakarta.

Foreign Correspondent

Pemintaan selalu ada

Mantan penyelundup orangutan, yang kini bekerja sebagai informan, bercerita tentang bagaimana bayi orangutan diambil dari induknya.

Ia mengklaim, setidaknya 3 bayi diambil dari hutan tiap minggunya dan diselundupkan sebagian besar melalui Thailand ke negara ketiga -khususnya Timur Tengah, di mana kepemilikan pribadi dari hewan tropis yang eksotis adalah simbol status yang tinggi.

Informan itu mengatakan, para penyelundup seringkali menggunakan penerbangan komersil dan menyuap petugas yang korup -informasi yang juga dibenarkan sumber lain.

"Permintaannya selalu ada, mereka selalu menginginkan orangutan," ujar mantan penyelundup itu.

"Tiap pekan, saya setidaknya mengirim 3 orangutan -2 betina dan satu jantan. Permintaannya selalu ada tiap minggu."

Seorang pemburu akan dibayar sekitar 50 dolar (atau setara Rp 500 ribu) untuk mengambil bayi orangutan dari ibunya, yang biasanya ditembak atau dipukul hingga mati.

Harga jual terakhir bisa mencapai puluhan atau ratusan ribu dolar untuk dijadikan hewan peliharaan atau penampil di kebun binatang yang tak beretika.

Orangutan menjadi tontonan di kebun binatang
Orangutan menjadi tontonan di kebun binatang.

Supplied; Scorpion

Ia memberi tahu bagaimana bayi orangutan disembunyikan dalam koper dan diberi guling untuk dipeluk, sebagai pengganti ibu mereka.

Mantan penyelundup itu mengaku, satu pembantaian terakhir membuatnya mundur dari dunia penyelundupan selamanya.

"Saya berkaca dan membayangkan jika itu terjadi pada saya, dipisahkan dari anak saya," tuturnya.

"Setelah itu saya berjanji pada diri sendiri, saya merasa saya sudah memperdagangkan manusia."

"Kini ketika saya melihat bayi orangutan, saya berpikir tentang bayi saya."

Harga jual terakhir orangutan bisa mencapai ratusan ribu dolar.
Harga jual terakhir orangutan bisa mencapai ratusan ribu dolar.

Supplied; Scorpion

Dua bayi dan taksi

Dua bayi orangutan dari Sumatra-lah yang pertama kali menarik perhatian kami terhadap perdagangan ini.

Diselamatkan dalam sebuah razia polisi di Bangkok, mereka menjadi tajuk utama berita sebelum Natal 2016, ketika mereka ditemukan dalam keadaan menempel satu sama lain dalam sebuah keranjang di bagian belakang taksi.

Polisi diberi petunjuk oleh kelompok penyelamat hewan 'Freeland', yang menggunakan Facebook untuk menarik perhatian pembeli yang membayar 3000 dolar Amerika (atau setara Rp 39 juta) sebagai deposit.

Setahun berlalu, Nobita dan Shizuka -dinamai dari karakater dalam serial Doraemon -kini berada di pusat penyelamatan orangutan milik pemerintah di selatan Bangkok, jauh dari hutan asal mereka.

Pengemudi taksi ditahan tapi dibebaskan segera. Tak ada pihak yang dituntut.

Sumber terpercaya mengatakan kepada kami bahwa polisi mengetahui siapa pelakunya, di mana mereka tinggal dan punya bukti rekening bank yang memberatkan mereka -tapi tetap tidak ada penahanan yang dilakukan.

"Itu geng kriminal berdana besar yang sangat terorganisir. Ada mafia di belakangnya," kata Edwin Wiek, pendiri Yayasan Teman Satwa Liar di Thailand.

Nobita dan Shizuka di bagian belakang taxi
Nobita dan Shizuka di bagian belakang taxi.

Supplied; Freeland

Wiek menjalankan beberapa tempat penampungan dan program di Asia Tenggara. Berasal dari Belanda, ia adalah pionir perlindungan satwa liar.

Kembalinya bayi-bayi orangutan ke Sumatra adalah tujuan utamanya, tapi rehabilitasi orangutan sungguh sulit dan mahal. Bahkan jika mereka dikembalikan ke alam liar suatu hari, Wiek khawatir akan nasib mereka.

"Sayangnya, belakangan ini kami menemukan bahwa beberapa orangutan yang dikirim kembali Indonesia karena kami selamatkan dari penangkapan dan perdagangan ilegal berakhir di sejumlah kebun binatang komersil di Indonesia di mana mereka dirawat tanpa sistem apapun, tanpa rencana apapun, hanya untuk kepentingan komersil," jelasnya.

Punah dalam 50 tahun?

Wiratno adalah Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Indonesia dan mengawasi perlindungan orangutan.

Ia adalah seorang realis jika berbicara tentang masa depan spesies, yang hanya hidup di alam liar di dua tempat saja -yakni Kalimantan dan Sumatera, ini.

"Menurut para ahli, mereka mungkin punya 50 tahun," kata Wiratno.

"Sulit untuk melindungi orangutan di alam bebas. Mengingat adanya penduduk dan kota serta infrastruktur baru, sulit menyelamatkan orangutan."

Bagaimana anda bisa membantu?

. Wildlife Friends Foundation Thailand: wfft.org

. Freeland (organisasi perdagangan anti-satwa liar): freeland.org

. Pusat Perlindungan Orangutan: orangutanprotection.com

. Scorpion - Kelompok Pemantau Perdagangan Satwa Liar: scorpionmonitor.org

Tapi beberapa prediksi mengatakan, orangutan bisa saja lenyap dari alam liar bahkan lebih cepat karena kurangnya kemauan politik di Indonesia.

"Pejabat pemerintah di Indonesia tahu betul apa yang sedang terjadi," kata Wiek.

"Mereka tahu siapa pemburunya. Mereka tahu siapa pedagangnya."

"Tanpa bantuan dari pihak berwenang, Anda tidak akan bisa membawa hewan-hewan ini keluar dari negara itu."

Nobita dan Shizuka di Thailand
Nobita dan Shizuka di Thailand.

Foreign Correspondent

Stephen Galster, yang memimpin kelompok Freeland yang membantu menyelamatkan bayi orangutan dari taksi Bangkok, mengatakan bahwa Indonesia perlu menerapkan undang-undangnya dan membuat polisi lebih efektif dalam memerangi perdagangan.

"Kita perlu melihat unit polisi kita, yang berwenang dan memiliki sumber daya, untuk membongkar sindikat ini dan itu belum terjadi," katanya.

"Kita perlu melihat dunia pemberantasan penyelundupan satwa liar berkembang seperti dunia pemberantasan penyelundup narkoba."

"Di mana mereka punya uang, mereka bertindak diam-diam ... keuntungannya sangat tinggi dan risikonya sangat rendah, dan ini adalah ajakan besar untuk korupsi."

Oki di dalam sebuah kandang.
Oki di dalam sebuah kandang.

Foreign Correspondent

Mendapatkan kembali kebebasan

Satu orangutan yang kami temui selama penyelidikan, yakni Oki, mewakili secuil harapan.

Diselamatkan dari kebun binatang universitas di Indonesia oleh Pusat Perlindungan Orangutan (COP), ia menghabiskan hampir 15 tahun di penangkaran

Ia diberi kesempatan langka untuk melakukan rehabilitasi ke alam bebas.

Orang-orang di COP telah mengajarinya memanjat pohon, menemukan buah dan membangun sarang. Ia kembali belajar apa artinya menjadi liar.

COP dan sang pendiri, Hardi Baktiantoro, mengundang kami untuk menyaksikan Oki melakukan perjalanan akhir kembali ke hutan hujan Kalimantan.

Oki di hutan Indonesia
Oki di hutan Indonesia.

Foreign Correspondent

"Bagi Oki, ini adalah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, untuk menjalani hidupnya di alam liar," kata Hardi.

"Ibunya pasti sudah dibunuh, ia menderita - dan sekarang ia akhirnya bisa kembali ke alam liar. Ini adalah pengalaman yang luar biasa baginya."

Dibius dan ditempatkan di sebuah kotak kecil, Oki dibawa ke hutan konservasi Sungai Lesan di Kalimantan, tempat berlindung yang aman baginya.

Kamera kami menangkap momen luar biasa ketika, setelah tujuh tahun berlatih intensif, Oki mendapatkan kembali kebebasannya.

Skip gfycat embed

FireFox NVDA users - To access the following content, press 'M' to enter the iFrame.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.




(nkn/nkn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed