DetikNews
Selasa 16 Januari 2018, 08:25 WIB

Australia Kekurangan Tenaga Kerja Pemetik Buah

Australia Plus ABC - detikNews
Australia Kekurangan Tenaga Kerja Pemetik Buah
Victoria -

Musim panen sejumlah buah-buahan sudah dimulai, namun para petani di Australia sedang mengalami kekurangan tenaga bantuan dan mereka kebingungan kemana perginya para pekerja musiman.

Petani buah di negara bagian Victoria bisa kekurangan hingga 3.000 pekerja musiman untuk memanen buah.

Mike Crisera dari organisasi Fruit Growers Victoria mengatakan situasinya kini mengkhawatirkan.

"Terlebih dengan buah ceri dan buah-buahan berbiji yang tidak bisa kita biarkan di pohon dalam waktu lama," kata Mike.

Ia mengatakan sulit berapa jumlah kekurangan tenaga kerja secara pastinya, tetapi kekurangan tersebut sangatlah signifikan.

"Menurut saya di daerah ini kekurangan hingga dua sampai tiga ribu orang."

Mike mengatakan para petani mencari tenaga kerja lewat program tenaga kerja musiman yang dikelola pemerintah federal untuk membantu kekurangan tenaga di masa depan.

Buah-buahan dibiarkan membusuk

Di negara bagian Tasmania, satu peternakan berry telah menghubungi organisasi Fruit Growers Tasmania untuk mencari lebih banyak tenaga kerja, setelah mereka terpaksa membiarkan ratusan ton buah membusuk karena tidak cukup banyak pemetik yang tersedia.

Phil Pike, manajer pengembangan bisnis di Fruit Growers Tasmania, mengatakan para petani di Tasmania tidaklah sendirian mengalami kekurangan tenaga kerja ini.

"Kami mendengar kesulitan ini dialami di seluruh negara bagian," kata Phil.

Pajak Backpacker menjadi masalah
Sejumlah orang sedang memanen buah melon yang besar
Pekerja pemetik melon di Queensland (Eliza Rogers)


"Kami dan para petani senior mengira pajak bagi backpacker dan reputasi yang rusak [jadi penyebabnya]," ujar Phil.

Pajak tersebut diperkenalkan oleh pemerintah federal Australia pada awal tahun 2017 dan degan besarnya pajak bagi pemegang visa jenis working holiday sebesar 15 persen dari penghasilan pertama.

"Ketika pemegang visa pergi setelah dua tahun, yang terjadi di akhir tahun 2017, akankah jumlah pemegang visa tahun pertama 2018-2019 datang? Pada tahap ini mereka tidak ada."

Dia mengatakan angka sebenarnya sulit dilacak karena pergerakan pekerja musiman sangatlah cepat.

"Kami tahu, rata-rata, ada sekitar 6.000 pekerja yang dibutuhkan setiap tahun tapi kami punya budidaya baru dan melakukan ekspansi besar-besaran."

"Saya berani mengatakan, jika pada akhir musim ini kita mengumpulkan pekerja, maka kebutuhan akan pekerja musiman akan lebih tinggi daripada yang tersedia."

Dave Jennings dulunya adalah petani stroberi dari Cygnet yang kehilangan ratusan ton buah karena kekurangan pekerja musiman.

Meskipun sudah mengiklankan lowongan kerja di situs Tasmanian Agriculture Jobs pada pekan ini, ia mengatakan tanggapan tidak mencapai kebutuhan di saat panen.

"Pada tahap ini, mungkin sudah terlambat bagi kita. Di bulan November dan awal Desember kita kehilangan 300 ton buah yang dibiarkan membusuk," katanya.

Memperluas peluang bagi para backpacker

Dave juga percaya semakin banyak jumlah pekerjaan yang tersedia juga jadi penyebab masalah ini.

"Tenaga kerja hanya menyebar terlalu sedikit," katanya.

"Setiap petani di luar sana tahu persis apa masalahnya tapi tidak ada diantara mereka yang mengatasi masalahnya."

Dave mengatakan memperpanjang visa working holiday sampai tiga tahun dan memperluas kesempatan bagi backpacker sama seperti Program Pekerja Musiman yang menarik para pekerja dari Kepulauan Pasifik, bisa membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja saat panen.

Berita ini disadur dari laporan aslinya dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca disini.




(nvc/nvc)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed