DetikNews
Rabu 29 November 2017, 14:34 WIB

Perempuan Australia Ini Ubah Cita-Cita Demi Akhiri Perdagangan Seks

Australia Plus ABC - detikNews
Perempuan Australia Ini Ubah Cita-Cita Demi Akhiri Perdagangan Seks
Canberra -

Di usia 22 tahun, Stephanie Lorenzo mengejar karir korporat. Tapi sebuah kisah pribadi tentang perdagangan seks mengubah haluannya.

Stephanie sedang mengunjungi Kamboja saat ia menemukan buku The Road of Lost Innocence, memoar dari aktivis hak asasi manusia internasional, Somaly Mam.

Ia tak bisa berhenti membacanya.

Dalam buku tersebut, Mam menceritakan kisah tentang dirinya yang dijual dalam perbudakan seksual, dan pekerjaannya dalam membantu perempuan muda lainnya setelah ia lolos dari kengerian eksploitasi itu.

"Yang saya sukai dari buku itu adalah kejujurannya yang total, sangat personal," kata Stephanie.

Membaca cerita Mam memicu keinginan Stephanie untuk mengakhiri perdagangan seks. Setahun kemudian, ia mengadakan tur sepeda amal ke Kamboja dengan sekelompok 20 orang.

"Saya tak merasa terpaksa untuk menyelamatkan dunia, tapi saya bisa melakukan sesuatu," ujar Stephanie.

Tur sepeda itu mengumpulkan dana hampir mendekati $ 100.000 (atau setara Rp 1 miliar) untuk organisasi milik Mam, Agir pour les Femmes en Situation Precaire (AFESIP), yang berarti Bertindak untuk Perempuan dengan Situasi yang Menyedihkan.

Saat di Kamboja, para pesepeda juga bertemu dengan Mam, yang mendapat perhatian media dan selebritis.

"Saya benar-benar sedikit kagum padanya. Saya pikir kebanyakan orang mengatakan hal yang sama," kenang Stephanie.

"Anda bertemu perempuan ini dan Anda ingin membantunya."

Melihat kerja jangka panjang yang dilakukan AFESIP juga meninggalkan jejak tersendiri pada Stephanie.

"Itu adalah rehabilitasi, reintegrasi, pendidikan," sebutnya.

Tur sepeda ke Kamboja yang digelar Project Futures tahun 2010.
Tur sepeda ke Kamboja yang digelar Project Futures tahun 2010. (Supplied: Project Futures)


Di luar tur sepeda

Penggalangan dana lewat tur sepeda itu seharusnya menjadi kegiatan sekali waktu.

"Saya benar-benar berpikir saya akan mengejar karir, dan menjadi CEO sebuah perusahaan periklanan di usia 30 tahun," ujar Stephanie.

Tapi kemampuannya untuk mengumpulkan orang-orang di sekelilingnya membuat Stephanie menyadari bahwa keahliannya adalah memberdayakan orang muda seperti dirinya sendiri.

Ia lalu mendirikan organisasi non-profit Proyek Futures di tahun 2009, dengan misi untuk "melibatkan sebuah generasi" dan "mengakhiri perdagangan seks".

"Saat itu, kegiatan amal tak menarik bagi kaum muda. [Ini] tampak seperti konsep untuk orang-orang dengan kantong dan uang yang tebal," kata Stephanie.

Project Futures mulai menempatkan kegiatan mereka "setara dengan klub malam". Mereka cocok untuk korporat muda, namun sangat berbeda dengan acara amal formal seharga $ 500 (atau setara Rp 5 juta).

"Kami akan memberi Anda pengalaman yang luar biasa ... Anda mendapatkan minuman gratis, band, DJ Tapi Anda melakukan sesuatu untuk tujuan yang hebat," kata Stephanie.

Somaly Mam dan Stephanie Lorenzo di Kamboja.
Somaly Mam dan Stephanie Lorenzo di Kamboja. (Supplied: Project Futures)

Kegiatan awal mereka dihargai sekitar $ 40 (atau setara Rp 400 ribu) -harga tiket yang bisa dijangkau oleh sosok dengan mimpi korporat.

"Margin keuntungan kami tak besar, tapi itu adalah sesuatu," aku Stephanie.

Kelompok tersebut mengambil pendekatan personal untuk mengkomunikasikan isu perdagangan manusia kepada para simpatisannya.

"Mari kita buat mereka mengerti isunya, tapi tak melulu memikirkan kesedihannya," ujar Stephanie.

Organisasi non-profit ini tumbuh bersama lulusan universitas yang dengan cepat menemukan diri mereka mendapat pekerjaan bergaji tinggi. Kegiatan amal menunjukkan keuntungan dan tujuan tidak saling saling terkait secara eksklusif.

"Anda bisa mendapatkan pekerjaan Anda, Anda bisa mendapatkan upah yang bagus sebagai bankir investasi, atau analis di usia 23 tahun. Tapi Anda juga bisa mengejar tujuan hidup anda," kata Stephanie.

Kebohongan?

Project Futures mengembangkan hubungan keuangan jangka panjang dengan organisasi Mam, dan membantu membawanya ke Australia beberapa kali.

Namun pada bulan Mei 2014, majalah Newsweek menerbitkan sebuah artikel di halaman depan yang mempertanyakan cerita Mam.

"Itu menakutkan, karena reputasimu terjebak di dalamnya juga," kata Stephanie.

Perasaannya adalah bahwa Mam mengatakan yang sebenarnya, dan ia tak pernah bertanya kepada aktivis itu secara langsung apakah ia berbohong.

"Jika saya melihat ke belakang, mungkin sebagian dari diri saya menganggap hal itu tak penting, mungkin bagian dari diri saya takut mendengar jawabannya," ungkapnya.

"Tapi, pada akhirnya, saya tak peduli apa jawabannya."

Di samping instingnya, perspektifnya didorong oleh kerja bersama enam tahun sebelumnya.

Stephanie Lorenzo (tengah) mengatakan, lembaga amal itu telah mengumpulkan lebih dari 5 juta dolar (atau setara Rp 50 miliar).
Stephanie Lorenzo (tengah) mengatakan, lembaga amal itu telah mengumpulkan lebih dari 5 juta dolar (atau setara Rp 50 miliar). (Supplied: Project Futures)

Ini adalah kunci bagi keputusan dewan Project Futures untuk membela Mam. Mereka adalah satu dari segelintir orang yang melakukannya.

"Kami pernah ke Kamboja setidaknya dua kali setahun. Kami melakukan pelaporan. Kami telah melakukan semua hal yang dilakukan organisasi amal yang bagus untuk menjamin transparansi mitra mereka," kata Stephanie.

"Saya bersedia mengundurkan diri jika kami tak mendukung Somaly (Mam)."

Liputan media tentang Mam dan organisasinya berlanjut, namun Project Futures juga terus berlanjut, kembali bekerja untuk mengakhiri perdagangan manusia.

Stephanie mengatakan bahwa pertanyaan tentang integritas dari sosok non-profit Kamboja itu bukanlah prioritas.

"Somaly (Mam) akan selalu memiliki tempat di hati saya. Alasan saya tak merasa hancur, dan organisasi ini tak runtuh, adalah bahwa kami tumbuh jauh melampaui hal itu. Ini bukan tentang satu perempuan, ini tentang banyak perempuan," kata Stephanie.

Makin besar dana makin besar risiko

Dari tahun ke tahun, pertumbuhan Project Futures terus berlanjut, dengan lebih dari $ 1 juta (atau setara Rp 10 miliar) yang berhasil dikumpulkan pada tahun 2014-15.

Tapi dengan pemasukan yang meningkat, Stephanie merasa kurang percaya diri dalam keputusannya.

"Saya mulai merasa gugup karena mengambil risiko", akunya.

"Ada begitu banyak tekanan, saya kurang bergairah," ujar Stephanie.

Seorang teman memberi petunjuk bahwa ia mungkin menderita masalah yang familiar dialami pendiri start-up, yakni sindrom pendiri.

"Memulai dan mengukur sebuah organisasi sangat berbeda, dan biasanya membutuhkan dua tipe orang yang berbeda," kata Stephanie.

Ia menambahkan: "Saya rasa, Anda begitu terjebak di dalamnya karena merek, kepribadian Anda dan siapa diri Anda begitu terjalin."

Setelah cukup banyak berefleksi, Stephanie mengundurkan diri sebagai CEO Project Futures pada bulan Maret tahun ini.

Ia mengambil waktu enam bulan untuk mempertimbangkan langkah selanjutnya, dan membiarkan CEO baru yang masuk untuk membawa organisasi nirlaba itu ke arah yang baru.

Sampai saat ini, Project Futures telah mengumpulkan $ 5 juta (atau setara Rp 50 miliar) untuk mengakhiri perdagangan manusia dan perbudakan seksual.

Sementara Stephanie masih ragu-ragu tentang apa langkah berikut bagi dirinya, ia berharap bisa menggabungkan pengetahuan perusahaan dan hati nirlaba yang dimilikinya untuk terus membantu orang lain.

Simak beritanya dalam Bahasa Inggris di sini.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed