DetikNews
Senin 13 November 2017, 13:51 WIB

Budaya Bantu Orang Tua di Kalangan Komunitas China di Australia

Australia Plus ABC - detikNews
Budaya Bantu Orang Tua di Kalangan Komunitas China di Australia
Melbourne -

Perbuatan ini mungkin kelihatan aneh bagi anak muda Australia, tapi Nicole Xie yang berusia 28 tahun tak berpikir dua kali untuk membagi pendapatan bulanannya dengan orang tuanya.

Dalam sebuah ritual yang masih banyak dipraktekkan di banyak keluarga berlatar belakang China, Xie secara teratur menyisihkan ratusan dolar saat ia menerima gajinya.

Karyawan kredit di Melbourne ini mentransfer $ 600 (atau setara Rp 6 juta) per dua minggu untuk tagihan listrik dan air, iuran lingkungan dan biaya hidup orang tuanya, bahkan setelah pindah dari rumah keluarganya di wilayah Point Cook, negara bagian Victoria, pada bulan Oktober lalu.

Xie berencana untuk membantu orang tuanya secara finansial selama mungkin, untuk membalas dukungan yang ia terima saat masih kanak-kanak.

Praktek mensubsidi gaya hidup orang tua yang menua sangat penting bagi kebudayaan Tionghoa, meski seringkali tak diharapkan oleh orang tua.

Kontribusi anak-anak ini lebih sering terjadi pada rumah tangga berpendapatan rendah sampai menengah ketimbang keluarga kaya.

"Sebagai mahasiswa internasional, orang tua saya telah membayar banyak untuk membawa saya ke tempat saya berada sekarang," kata Xie, yang bermigrasi ke Australia pada tahun 2009.

"Saya pikir, hal yang benar bahwa saya berusaha membuat hidup mereka lebih mudah."

Xie mengatakan bahwa ia mulai memberikan uang kepada orang tuanya setelah ia mulai bekerja dua tahun lalu, dan menghitung jumlah yang ia mampu beri setelah menyisihkan uang untuk kebutuhannya dan sebagian untuk tabungan.

Pookong Kee, direktur Institut Asia di Universitas Melbourne, mengatakan bahwa ada harapan budaya bagi anak-anak asal China untuk merawat orang tua mereka.

Ketika anak-anak mulai bekerja, dan memiliki kapasitas, mereka diharapkan untuk "membalas jasa" yang diberikan orang tua mereka saat mereka masih muda, ujarnya.

Nicole Xie ingin memberi orang tuanya uang karena mereka mendukungnya saat ia masih kecil.
Nicole Xie ingin memberi orang tuanya uang karena mereka mendukungnya saat ia masih kecil. (Supplied: Nicole Xie)


Westernisasi ancam tradisi

Nilai penting dalam masyarakat Tionghoa adalah "kepatuhan yang taat" atau " filial piety" - kewajiban untuk menghormati, mematuhi dan merawat orang tua dan anggota keluarga yang sudah tua.

Sementara beberapa anak memandang bahwa tindakan mendukung orang tua secara finansial sebagai tanggung jawab mereka, sebagian anak lain merasa tertekan untuk melakukan hal yang sama seperti saudara mereka atau untuk risiko kegagalan jika tak memenuhi harapan.

"Ada begitu banyak contoh dalam pengasuhan anak-anak di China, di mana cerita tentang bagaimana anak-anak berbakti menjaga orang tua mereka dikisahkan, jadi ini adalah nilai yang sangat mendarah daging," kata Profesor Kee.

"Tapi dengan modernisasi dan westernisasi, nilai-nilai itu menjadi kurang menonjol."

Profesor Kee mengatakan bahwa memberi uang terkadang lebih merupakan simbol daripada bantuan keuangan riil.

Di Singapura, mengurus orang tua yang sudah lansia adalah bagian dari hukum.

Undang-Undang Pengasuhan Orangtua memungkinkan penduduk Singapura berusia 60 tahun atau lebih, dan siapa yang tak bisa menghidupi diri mereka sendiri, untuk "menuntut perawatan" dari anak-anak mereka jika mereka mampu memberikannya, tapi ada pula yang tidak.

"Orang tua bisa menuntut anak-anak mereka karena kurangnya perhatian, dalam bentuk tunjangan bulanan atau pembayaran sekaligus," kata situs Dewan Perpustakaan Nasional Singapura.

Liana Tran telah menyisihkan uang untuk pensiun orang tuanya selama satu dekade terakhir.
Liana Tran telah menyisihkan uang untuk pensiun orang tuanya selama satu dekade terakhir. (Supplied: Liana Tran)


Lonjakan harga rumah berpengaruh

Setelah lulus dari SMA pada tahun 2007, Liana Tran mulai menabung untuk rumah bagi orang tuanya.

"Saat itu, saya tidak tahu betapa sulitnya membeli rumah di Sydney, tapi saya mulai menabung karena saya mendengar dari sepupu saya bahwa bagian tersulit dalam memiliki rumah adalah memiliki deposit daripada membayarnya kembali," kata perempuan berusia 27 tahun itu.

Tran, seorang insinyur, telah menyisihkan antara $100-$ 500 (atau setara Rp 1-5 juta) hampir setiap bulan selama satu dekade terakhir.

Ia memutuskan untuk menggunakan tabungan tersebut untuk pensiun orang tuanya saat ia menyadari bahwa ia tak mampu membelikan rumah untuk mereka.

"Mereka saat ini baik-baik saja secara finansial, tapi mereka tak punya banyak simpanan untuk masa pensiun mereka," katanya.

"Dulu dan sekarang, itu adalah ide bagus karena mereka telah bekerja keras untuk membesarkan saya dan saudara perempuan saya dan tanpa kami, mereka akan jauh lebih baik secara finansial."

"Ini hanya sesuatu yang kecil yang bisa saya lakukan untuk membalas jasa mereka sebagai ucapan terima kasih karena telah merawat kami."

Tran mengatakan bahwa orang tuanya telah membantunya dengan uang deposit untuk membeli apartemen dengan satu kamar tidur miliknya tahun lalu.

Meskipun orang tuanya tak mengharapkannya mengembalikan uang itu, ia juga berupaya menggunakan tabungan bulanannya sebagai rencana pelunasan.

Helen Wong, bersama dengan suaminya, menghargai pengorbanan yang orang tuanya lakukan untuknya.
Helen Wong, bersama dengan suaminya, menghargai pengorbanan yang orang tuanya lakukan untuknya. (Supplied: Helen Wong)


Anak membayar tagihan bulanan

Ibu dari dua anak di Melbourne, Helen Wong, dan saudara kandungnya berkontribusi pada kebutuhan orang tua mereka dengan cara mereka sendiri, seperti membayar tagihan termasuk asuransi kesehatan.

Wong, yang saat ini sedang istirahat dari karirnya, mengatakan bahwa orang tuanya tidak mengharapkan anak-anak mereka untuk mendukung mereka secara finansial.

"Mereka tahu bahwa kami memiliki keluarga sendiri untuk dirawat," katanya.

"Mereka dengan tanpa pamrih selalu menempatkan kebutuhan dan keinginan kami di atas keinginan mereka sendiri - dan masih berlanjut hingga sekarang."

Wong mengatakan, merawat orang tuanya, yang keduanya pensiun dan tinggal di Melbourne, berakar dari nilai budaya dan keluarga.

"Saya tahu betapa sulitnya membesarkan kami - keluarga imigran."

"Saya tahu apa yang orang tua saya korbankan untuk saya dan saudara kandung saya sehingga sekarang saya mampu, saya bisa melakukan apa yang saya bisa untuk mereka sehingga mereka dapat menikmati masa tua mereka tanpa khawatir."

"Menitipkan orangtua saya ke pantai jompo bahkan tak pernah terpikir. Sebaliknya, kami [saudara kandung dan saya] berbicara tentang siapa yang memiliki ruang ekstra untuk menampung mereka."

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.


(ita/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed