DetikNews
Senin 06 November 2017, 15:19 WIB

Belum Diketahui Penyebab Meningkatnya Gonorea di Australia

Australia Plus ABC - detikNews
Belum Diketahui Penyebab Meningkatnya Gonorea di Australia
Canberra -

Warga diminta melakukan tes berkala untuk penyakit menular seksual (PMS) karena data baru menunjukkan penyakita gonorea dan sifilis kini meningkat di Australia. Jumlah penderita virus HIV menunjukkan adanya kesenjangan di kalangan warga Aborigin dan non Aborigin.

Kirby Institute pada Universitas New South Wales mengumumkan laporan tahunan mengenai PMS yang menunjukkan dalam lima tahun terakhir, kasus gonorea meningkat 63 persen terutama di perkotaan.

"Sampai saat ini, gonorea jarang terjadi pada orang muda heteroseksual yang tinggal di kota besar," kata Rebecca Guy dari institut tersebut.

Jumlah tertinggi dialami kelompok usia 15-24 tahun, namun kenaikan terbesar terjadi pada kelompok usia 25-40 tahun.

Dr Guy mengatakan belum diketahui mengapa kenaikan tersebut terjadi namun hal itu bukan karena pengujian lebih lanjut.

Dia mengatakan tidak ada data yang menunjukkan berkuranganya penggunaan kondom atau karena meningkatnya hubungan seks bebas karena maraknya aplikasi kencan.

ABC menghubungi pihak Keluarga Berencana New South Wales dan layanan kesehatan seksual remaja Yeah. Namun kedua lembaga itu mengatakan tidak tahu mengapa gonorea mengalami peningkatan.

"Data dari survei perilaku seksual telah dilakukan beberapa tahun lalu sehingga kondisi ini belum didata dalam beberapa tahun terakhir ketika perubahan terjadi," kata Dr Guy.

"Ada beberapa survei yang direncanakan tahun depan jadi saya kira itu akan menjelaskan," katanya.

Otoritas kesehatan baru-baru ini melaporkan adanya peningkatan gonorea yang tahan pengobatan namun Dr Guy menjelaskan bahwa hal itu bukan penyebab kenaikan.

Dia mengatakan gonorea mudah disembuhkan dengan antibiotik tapi jika tidak diobati bisa menyebabkan penyakit radang pinggul atau infertilitas.

Masalahnya, menurut Dr Guy, kebanyakan orang tidak memiliki gejala apapun, jadi mungkin tidak pernah tahu mereka menderita penyakit ini.

"Oleh karenanya perlu meningkatkan kesadaran untuk melakukan tes, memeriksakan pasangan untuk melakukan tes dan perawatan, dan juga menggunakan kondom," katanya.

Kesenjangan penderitaHIV

Laporan ini juga menunjukkan diagnosis HIV meningkat sebesar 33 persen di kalangan masyarakat Aborigin dan Torres Strait Islander, dan turun 22 persen untuk penduduk non pribumi.

"Selama 30 tahun terakhir, tingkat diagnosis HIV hampir sama dengan populasi non Aborigin. Saat ini, dan selama lima tahun terakhir, telah meningkat dua kali lipat," kata Professor James Ward dari South Australian Health and Medical Research Institute.

"Kami menyerukan perlunya langkah politik lebih besar terkiat HIV di masyarakat Aborigin dan Torres Strait Islander karena kita berada pada titik yang bisa mengarah menjadi endemik," jelasnya.

"Hal ini akan sangat memalukan bagi Australia pada 2017 karena kita memiliki semua perangkat yang diperlukan untuk menghentikannya. Kita menciptakan kesenjangan yang seharusnya tidak perlu," tambah Prof Ward.

Dia mengatakan hal ini karena selama lima tahun terakhir pria gay di Australua mendapatkan pengobatan HIV atau menggunakan PrEP - obat yang diminum setiap hari untuk mencegah HIV.

Dr Ward mengatakan langkah ini belum diadopsi dengan baik oleh masyarakat Aborigin, yang memiliki diagnosis lebih tinggi karena penggunaan narkoba suntik dan hubungan seks heteroseksual.

"Ada dua populasi berbeda yang terdampak di komunitas Aborigin dan Torres Strait Islander. Hampir separuh separuh antara pria heteroseksual dan gay," katanya.

"Dan di kalangan populasi heteroseksual, terdapat mereka yang memakai narkoba suntik dengan proporsi lebih tinggi daripada orang non Aborigin," jelasnya.

"Jadi strategi untuk kaum wanita sangat terbatas dan kita belum mendapatkan strategi tepat untuk mereka yang memakai narkoba suntik," kata Prof Ward.

Kasus sifilis

Dr Ward mengatakan kasus sifilis juga meningkat sekitar 200 persen di kalangan masyarakat pribumi heteroseksual yang tinggal di daerah terpencil Queensland, NT, Australia Barat dan Australia Selatan selama lima tahun terakhir.

Dia menjelaskan semuanya berawal dari wabah yang terjadi di tahun 2011.

"Tidak ada penanganan cepat terhadap wabah tersebut," katanya.

"Penanganannya bahwa semakin tertunda karena saat itu pelayanan kesehatan masyarakat di pedalaman Queensland dihapuskan oleh Pemerintah Queensland waktu itu, Pemerintahan Newman Campbell," ujarnya.

Dia mengatakan pihak Depkes berusaha memantau penyakit ini, dan kampanye penyadaran sedang berlangsung, serta para dokter diminta melakukan pemeriksaan. Namun jalannya masih panjang.

"Masalah besar dengan sifilis menular adalah sejak mewabah pada tahun 2011, ada lima bayi yang meninggal akibat sifilis kongenital. Itu seharusnya tidak boleh terjadi di negara maju seperti Australia," kata Dr Ward.

Kabar baik

Meskipun klamidia masih menjadi jenis PMS yang paling umum di Australia, namun Dr Guy mengatakan tingkat penderitanya tetap stabil selama lima tahun terakhir.

Periode antara Maret dan Desember 2016 diperkirakan ada 30.343 orang disembuhkan dari hepatitis C karena terapi antiviral yang baru, yang tersedia secara umum di Australia tahun lalu.

"Jadi periode pertama ini sangat menggembirakan. Kita melihat pengobatan yang lebih banyak, juga untuk pertama kalinya terjadi pengurangan dalam beberapa penyakit seperti penyakit liver," kata Dr Guy.

Diterbitkan oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris di sini.




(ita/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed