DetikNews
Rabu 13 September 2017, 09:29 WIB

Keluarga Militan ISIS Dianggap Berpotensi Ancam Keamanan Australia

Australia Plus ABC - detikNews
Keluarga Militan ISIS Dianggap Berpotensi Ancam Keamanan Australia
Melbourne -

Perlakuan terhadap keluarga anggota kelompok ISIS manapun ternyata menimbulkan masalah besar bagi badan keamanan Australia, mengingat istri dan anak-anak para militan asing tersebut ditemukan di Irak dan Suriah.

Irak menahan lebih dari 1.000 anggota keluarga militan asing ISIS di sebuah kamp padang pasir di selatan Mosul.

Levi West, seorang dosen terorisme dan keamanan nasional di Universitas Charles Sturt, Melbourne, Victoria mengatakan, meski tidak ada angka "resmi", ada sekitar 150 militan asal Australia yang tinggal di Irak dan Suriah, beberapa di antaranya dengan keluarga muda.

West mengatakan, banyak masalah keamanan sekarang ini sedang diungkap, termasuk siapa yang menimbulkan ancaman internal.

"Pada usia berapa kita menilai anak-anak dari keluarga militan ISIS ini terlalu berisiko, mengingat mereka mungkin telah terpapar dan secara substansial terpengaruh atau justru berkomitmen terhadap kerangka ideologis ISIS yang akan menyebabkan masalah besar saat kami membawa mereka kembali ke Australia," jelasnya.

West mengatakan, ada juga kerusakan psikologis.

"Ada biaya terkait yang sangat besar begitu mereka kembali [ke Australia] karena mereka memerlukan perawatan substansial untuk hal-hal seperti gangguan stres pasca trauma dan sebagainya," sambungnya.

Baca juga:

Pertama Kalinya Hukuman Cambuk Dilaksanakan di Lhokseumawe

Departemen Jaksa Agung Federal Australia mengatakan bahwa pihak mereka tahu ada beberapa militan Australia di luar negeri yang memiliki keluarga di zona konflik.

"Prioritas kami adalah menjaga agar masyarakat Australia tetap aman dari mereka yang berusaha membahayakan kami," ujarnya.

"Begitu penting bahwa kami mengidentifikasi dan mengurangi risiko potensial apapun. Setiap anak harus mematuhi hukum dan diperiksa oleh badan keamanan berdasarkan kasus per kasus sesuai dengan risiko yang bisa mereka hadapi."

Direktur kebijakan dan advokasi UNICEF Australia, Amy Lamoin, mengatakan bahwa ini adalah situasi yang sangat kompleks bagi Pemerintah Australia.

"Ini adalah keseimbangan kepentingan dan penting bagi kami untuk mempertimbangkan keamanan sebagai bagian dari masalah ini, tapi kita juga perlu mempertimbangkan hak anak untuk kembali," sebutnya.

"Agar mereka diberi dukungan yang tepat untuk pulih, melanjutkan kehidupan reguler, pendidikan dan berkontribusi pada anggota masyarakat."

"Jika Anda melihat kehidupan anak-anak ini, kemungkinan mereka tidak memiliki pilihan dalam masalah ini. Pertama-tama mereka harus dianggap sebagai anak sebelum dianggap sebagai ancaman."

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterbitkan: 18:20 WIB 12/09/2017 oleh Nurina Savitri.




(ita/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed