DetikNews
Senin 21 Agustus 2017, 17:39 WIB

Kisah Para Pemburu Kerbau Liar di Australia Utara

Australia Plus ABC - detikNews
Kisah Para Pemburu Kerbau Liar di Australia Utara
Darwin -

Berburu kerbau liar di daerah pedalaman Arnhem Land di Australia Utara, bukanlah pekerjaan bagi mereka yang lemah.

Profesi ini melibatkan berbagai tahap, mulai dari penggunaan helikopter untuk menemukan lokasi kerbau, menggiring mereka ke para penangkap, yang mengejar dari sisi seekor kerbau yang sedang berlari, kemudian menjebak binatang itu dengan lengan bionik.

Kegiatan ini memompa adrenalin para penangkap kerbau, melewati semak belukar, menghindari tanduk kerbau seberat 400 kg lebih, dan hari-hari yang berat dan sulit di bawah sinar matahari.

Jed Fawcett sitting in the driver's seat of a stripped-down jeep with no windscreen.
Jed Fawcett telah berburu kerbau liar sepanjang hidupnya di kawasan Top End Australia. (ABC Rural: Daniel Fitzgerald)


Setiap musim kemarau selama 30 tahun terakhir, JedFawcett meninggalkan rumahnya diAdelaideRiver di Australia Utara dan menghabiskan berbulan-bulan untuk menangkap kerbau liar dengan kru penangkap kerbau.

Kru ini sudah seperti keluarganya sendiri - makan bersama, tidur di sekitar api unggun, dan saling mengandalkan satu sama lain untuk melakukan pekerjaan mereka dengan aman setiap hari.

Kawasan Top End merupakan tempat bagi 100.000 ekor kerbau liar yang menyebabkan masalah besar bagi para petani dan peternak, menghancurkan pagar, berkubang, dan mengikis tepian sungai.

Kerbau tangkapan terutama dikirim langsung Malaysia dan Vietnam, dan sebagian kecil dikirim ke pemotongan hewan Australian Agricultural Company di dekat Kota Darwin.

A stripped-down jeep drives alongside a running water buffalo through scrub.
Pemburu menggunakan tangan bionik untuk menghentikan kerbau liar. (ABC Rural: Daniel Fitzgerald)

Jed berasal dari keluarga yang memiliki hubungan panjang dengan penangkapan banteng dan kerbau liar di Top End.

Ayahnya, Tom Fawcett, mulai menangkap banteng liar di tahun 1960an sebelum beralih ke kerbau liar. Tahun lalu dia dianugerahi Medal of the Order of Australia untuk jasanya dalam industri transportasi ternak.

Kru yang bekerja untuk Jed saat ini melakukan subkontrak untuk perusahaan kerbau Gulin Gulin milik pribumi di dekat Bulman, 300 kilometer sebelah timur laut Kota Katherine.

Danny Clarris
Pilot helikopter Danny Clarris mengatakan lebih sulit menggiring kerbau liar dari udara dibandingkan sapi. (ABC Rural: Daniel Fitzgerald)

Dia mengatakan berada di hutan, berkemah dan bekerja di alam terbuka - sering bersama ketiga putrinya dan pasangan mereka - jauh lebih baik daripada bekerja di kantor.

"Menangkap kerbau membuat saya pergi dari pekerjaan saya membawa truk. Bagus untuk kesehatan kita, saya rasa," kata Jed.

"Saya menyukai kehidupan di hutan dan orang-orang yang bekerja dengan kami," ujarnya kepada ABC.

Jed menjelaskan bahwa mengemudikan kendaraan penangkap kerbau membutuhkan keterampilan dan refleks yang cepat.

"Anda harus memperhatikan tanah tersebut, kemana arahnya, pastikan tidak menuju ke sungai, bebatuan, pohon, kayu. Banyak hal yang terjadi sekaligus," katanya.

A water buffalo caught in a catcher's bionic arm is walked up to a ramp onto a livestock transport truck.
Kerbau tangkapan ini diekspor ke Asia Tenggara khususnya Malaysia dan Vietnam. (ABC Rural: Daniel Fitzgerald)

Gairah mengejar kerbau liar membuat Roley Cronin, warga dari Daly River, menjalani profesi ini lebih dari 40 tahun.

Dia mulai menangkap kerbau pada usia 17 tahun, bekerja untuk ayah Jed di Fish River, Elizabeth Downs, dan di peternakan Litchfield Stations.

"Ini semua menyangkut kesenangan," kata Roley.

"Lebih baik dari pekerjaan lain, saya rasa. Anda harus benar-benar terampil tapi pekerjaan ini yang sangat menggairahkan. Membuat kita tetap konsentrasi," jelasnya.

"Kita selalu berkemah di pinggir sungai atau danau, namun selalu ada waktu untuk memancing. Itu yang saya suka," tambah Cronin.

Wayne Runyu leans on the edge of a ute tray, smoking a cigarette.
Wayne Runyu bercita-cita membuka perusahaan ternak kerbaunya sendiri. (ABC Rural: Daniel Fitzgerald)

Wayne Runyu baru saja bergabung dengan kru tersebut dan belum pernah menangkap kerbau ketika mulai beberapa minggu yang lalu.

Dia tinggal di perkampungan Barunga, namun daerah perburuan para kru merupakan kampung ibunya dan dia memiliki keluarga di kampung terdekat.

Wayne mengatakan sedikit gugup saat pertama kali bergabung sebagai pemburu kerbau.

"Sangat sulit saat kita mengejar kerbau melalui semak belukar, menabrak sarang semut, pohon besar, jatuh ke lubang. Tapi begitulah adanya," katanya. "Kita harus terbiasa dengan itu."

Timothy Martin leans against the door of a livestock transport truck.
Timothy Martin mengatakan satu-satunya kejelekan pekerjaan ini adalah menghabiskan banyak waktu jauh dari kampungnya, Peppimenarti. (ABC Rural: Daniel Fitzgerald)

Wayne memiliki tugas menegangkan yaitu mengikatkan tali di sekitar kepala kerbau sehingga bisa dimasukkan ke dalam truk.

"Ketika mereka jadi liar, mereka menggerakkan kepalanya. Kita harus mencoba memasukkan tali di sekitar tanduk mereka. Itu yang sedikit menakutkan," katanya.

Mitch Young sits on top of the 'cage' of a livestock transport truck.
Mitch Young mengatakan jika bisa tahan bau kerbau di atas truk, Anda bisa berkarir di bidang ini. (ABC Rural: Daniel Fitzgerald)

Mitch Young meninggalkan sekolah saat berusia 15 tahun dan bekerja ikut dengan Tom Fawcett menangkap kerbau di daerah Daly.

Setelah empat musim, dia berhenti atas saran Tom. Dia mencari pekerjaan di Darwin dan kini telah 24 tahun di sana. Namun pada musim ini, dia memutuskan kembali berburu kerbau dan sekarang mengemudikan truk terbuka.

Timothy Martin sprays water over a tethered water buffalo.
Kerbau-kerbau tangkapan dimandikan agar lebih tenang sebelum diangkut dengan truk. (ABC Rural: Daniel Fitzgerald)

Mitch mengatakan keakraban di antara para kru membuat pekerjaan ini jauh lebih menyenangkan.

"Kita bisa saling menjatuhkan. Orang nyaris terbunuh tapi kita bisa tertawa terbahak-bahak jika dia masih selamat," katanya.

"Kami mengalami hari-hari buruk tapi saat kembali ke perkemahan, tidak ada lagi permusuhan, hanya kesenangan," tambahnya lagi.

Diterbitkan Senin 21 Agustus 2017 oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News di sini.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed