DetikNews
Selasa 09 Mei 2017, 09:48 WIB

Teknologi Buah Kering Bantu Kurangi Limbah Makanan

Australia Plus ABC - detikNews
Teknologi Buah Kering Bantu Kurangi Limbah Makanan
Queensland -

Makanan kering pernah menjadi makanan pokok astronot, namun teknologi ini bisa menjadi solusi untuk menghemat limbah produk buah Australia yang terbuang sia-sia senilai miliaran dolar.

Warga Australia menghabiskan sekitar $ 10 miliar (atau setara Rp 100 triliun) makanan setiap tahun dan menurut lembaga Foodwise, $ 2,76 miliar dari makanan itu adalah produk segar.

Itu termasuk 'produk buangan' pertanian, yang dianggap tak terlalu menarik untuk dijual di supermarket dan sering dihancurkan bahkan sebelum meninggalkan lahan pertanian.

Antara 20 sampai 40 persen buah dan sayuran yang ditanam di pertanian biasanya ditolak karena alasan penampilan, namun seorang pengolah makanan asal Queensland sedang dalam misi untuk mengubahnya.

'Freeze Dry Industries' di wilayah Sunshine Coast dibuka awal tahun ini, dan dengan cepat menjadi outlet bagi petani lokal yang ingin menghasilkan uang dari hasil panen yang tadinya masuk tempat sampah.

"Pengeringan adalah proses yang sangat ilmiah, yang berawal dari NASA sebagai makanan luar angkasa," kata CEO Michael Buckley.

"Inspirasi saya berasal dari kecanggihan murni teknologi dalam mengubah sampah, karena saya benci membayangkan kita membuang buah dan sayuran segar yang masih layak makan."

Michael Buckley
MichaelBuckley dari pabrikFreezeDryIndustries di ruang pemrosesan. (ABCRural:MartyMcCarthy)

Proses produksi pengeringan makanan sangatlah rumit.

Buah segar ditempatkan di pengeringan besar, bertekanan dan kemudian dibekukan.

Suhu di ruangan kemudian sedikit ditingkatkan, memungkinkan es di buah berubah menjadi uap dan terlepas, dalam proses yang dikenal sebagai sublimasi.

Uap tersedot keluar dari pengering, dan hanya tersisa buah kering, tanpa kelembaban apapun.

"Anda mengubah bentuk padat kembali ke bentuk padat tapi tak pernah melewati bentuk cair, jadi anda menghasilkan potongan buah yang sangat kering tanpa ada air di dalamnya," kata Buckley.

"Ini berubah dari potongan buah atau sayuran biasa menjadi renyah."

Ada sekitar empat operasi pengeringan komersil di Australia, namun Buckley mengatakan, pabriknya adalah yang terbesar dari jenis serupa, dengan rencana untuk melipatgandakan kapasitasnya.

"Kami berencana untuk menjadi yang terdepan di dunia dan menunjukkan energi pengeringan makanan yang efisien dari sini di Sunshine Coast," terangnya.

Teknologi pengeringan menginspirasi petani

Freeze Dry Industries dimulai dengan membeli dan mengolah beberapa produk buangan pertanian seperti stroberi, pisang, mangga dan apel, lalu menjual versi keringnya secara daring.

Namun, perusahaan yang baru beroperasi tiga bulan ini telah berhasil menangkap imajinasi petani setempat, dan saat ini berusaha memenuhi permintaan dari para petani untuk bereksperimen dan memberi nilai tambah pada produk buangan dari pertanian mereka.

'Kripik' buah naga
'Kripik' buah naga bisa dikonsumsi sebagai alternatif sehat dari kripik kentang. (ABC Rural: Marty McCarthy)

Seorang peternak susu lokal telah mencoba mengeringkan susu untanya, sementara petani kebun buah naga di lingkungan itu menggunakan pabrik tersebut untuk menghasilkan kripik buah naga.

Tapi ketimbang hanya menginginkan kripik buah atau buah kering, para petani juga membekukan bagian buah yang kering yang tak bisa dimakan, seperti bagian inti nanas, atau kulit buah.

"Kulit buah naga digiling sebagai percobaan. Warnanya merah mudah yang menawan dan pengetahuan yang melingkupinya begitu menarik, tadinya itu hanyalah produk buangan," kata Buckley.

Kulit buah naga berpotensi sebagai zat pewarna, atau sebagai bahan untuk membuat minuman smoothies dan produk kesehatan.

"Kami juga telah menggunakan bagian inti dari buah nanas, karena kadar serat dan bromelain-nya yang tinggi," kata Buckley.

Menurut Pusat Medis Universitas Maryland, bromelain begitu efektif untuk menghilangkan peradangan akibat luka dan infeksi.

Walau bromelain ditemukan di dalam jus, kandungan ini lebih terkonsentrasi pada bagian inti nanas, yang seringkali terlalu keras dimakan dan biasanya dibuang.

Buckley melihat sebuah pasar dari pengolahan inti nanas dan menggilingnya menjadi bentuk bubuk.

"Saya menguji beberapa inti nanas dan membungkusnya dan mengirimkannya ke naturopati, dan sangat mengasyikkan setelah mengujinya dan sekarang memesannya dalam jumlah komersil, yang merupakan hasil yang bagus," sebutnya.

Buckley telah melakukan percobaan serupa dengan daging kelapa, kulit alpukat, rumput laut dan bahkan keju.

Para petani yang telah bereksperimen dengan proses pengeringan sering menemui ahli teknologi pangan, ahli gizi atau ahli nutrisi untuk melihat apakah produk mereka memiliki klaim manfaat kesehatan, yang membantu membuatnya lebih bisa dipasarkan.

Dibekukan atau tidak?

Buah kering bisa mahal untuk diproduksi dan oleh karena itu lebih mahal untuk dibeli.

Sebungkus pisang kering beku berisi satu pisang kecil dan harganya $ 3,95 (atau setara Rp 39.500), jauh lebih mahal daripada harga pisang segar di supermarket.

Bubuk Buah Naga
Susu unta bubuk dan bubuk kulit buah naga diproduksi di wilayahSunshineCoast,Queensland. (ABCRural:MartyMcCarthy)


Menurut Dr Nenad Naumovski, spesialis ilmu pangan dan gizi di Universitas Canberra, hal itu terjadi karena teknologinya mahal.

"Mesin pengering bisa seharga mulai dari $ 50.000 (atau setara Rp 500 juta) lebih, dan dari perspektif industri, ada yang bisa menghabiskan biaya hingga $ 300.000 (atau setara Rp 3 miliar)," katanya.

Namun, Buckley berpendapat, konsumen siap membayar lebih untuk pengalaman mengonsumsi makanan ringan hasil proses pengeringan.

Bagi para petani, pilihan untuk mendapatkan uang dari produk limbah, meski harganya mahal, merupakan sebuah insentif.

Namun, ada beberapa tantangan yang perlu dipertimbangkan petani, menurut Dr Naumovski.

"Salah satu masalahnya adalah sebelum buah bisa dikeringkan agar benar-benar beku, buah yang lebih besar perlu dipotong kecil-kecil agar cepat membeku," jelasnya.

Dr Naumovski mengatakan, beberapa petani mungkin tidak memiliki kemampuan untuk membekukan produk segera setelah dipetik, dan mungkin juga memiliki masalah transportasi saat mencoba mengirimnya ke fasilitas pengeringan.

Terlepas dari tantangannya, Buckley mengharapkan minat pada buah kering meningkat, sebagian besar didorong oleh permintaan dari orang tua dan industri makanan kesehatan.

Keju dan stroberi kering
Keju dan stroberi dikeringkan dan dimasukkan ke plastik vakum. (ABC Rural: Marty McCarthy)


Manfaat kesehatan buah kering

Dr Naumovski sedang meneliti cara terbaik untuk melestarikan komponen bioaktif buah, sayuran dan tumbuhan dalam proses produksi pangan.

Ia mengatakan, tak seperti produk yang dimasak, buah dan sayuran kering mempertahankan kualitas nutrisi yang sama dengan produk segar.

"Manfaat pengeringan adalah Anda meningkatkan masa simpan. Mereka bisa disimpan lebih lama tanpa menjadi basi dan kehilangan manfaat gizi," katanya.

"Dalam ilmu pangan, pengeringan dianggap sebagai standar emas untuk melestarikan nutrisi dan komponen bioaktif, namun bisa memengaruhi rasa."

Dr Naumovski mengatakan, manfaat tambahannya adalah lebih banyak buah bisa dikonsumsi jika dikeringkan dan digiling menjadi bubuk.

"Buah mengandung sekitar 75 persen air, jadi dengan mengkonsumsi buah segar Anda mengisi perut anda lebih banyak," sebutnya.

Diterjemahkan pukul 09:05 AEST 9/5/2017 oleh Nurina Savitri dan anda bisa menyimak artikelnya dalam bahasa Inggris di sini.


(ita/ita)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed