DetikNews
Senin 13 Februari 2017, 12:00 WIB

Warga RI di Perth Rayakan Festival Cap Go Meh

Australia Plus ABC - detikNews
Warga RI di Perth Rayakan Festival Cap Go Meh
Perth -

Festival Cap Go Meh, hari kelima belas setelah Tahun Baru Imlek banyak dirayakan oleh komunitas Tionghoa di seluruh dunia, begitu juga tahun ini di Perth Australia Barat oleh masyarakat asal Indonesia. Berikut laporan Abi Sofyan Ghifari, seorang mahasiswa di sana.

Suatu pemandangan yang berbeda terlihat di South Perth Community Centre pada hari Minggu (12/02/2017). Suasana di dalam gedung semarak dengan dekorasi berwarna merah menyala di seantero ruangan.

Tak begitu mengherankan, karena ternyata pada siang hari itu tengah dilangsungkan festival Cap Go Meh, suatu perayaan yang menandakan berlalunya lima belas hari setelah Tahun Baru Imlek (Chinese Lunar New Year).

Acara yang diselenggarakan oleh Indonesia Diaspora Network Western Australia (IDNWA) ini berlangsung semarak dengan dihadirkannya beragam pertunjukan seni, tidak hanya dari budaya Tionghoa Peranakan, tetapi dari berbagai kebudayaan di Indonesia.

Salah satu pertunjukan yang ditampilkan ialah pentas angklung yang memainkan musik daerah dan nasional Indonesia serta lagu khas Peranakan Tionghoa di Indonesia.

Pentas ini dibawakan oleh para siswa-siswi Indonesia yang tergabung dalam Persaudaraan Pertiwi yang datang dari Tangerang, Indonesia.

Tak hanya itu, dalam perayaan ini juga ditampilkan pertunjukan naga (liong), seni bela diri, hingga tarian dari berbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera, Jawa, dan Bali.

Lim Eka Setiawan, Ketua Panitia Perayaan Imlek Cap Go Meh Diaspora Indonesia Perth menyatakan acara ini memang didesain untuk menghargai beragam kebudayaan yang telah menambah kekayaan Indonesia yang senantiasa berkembang dari waktu ke waktu.

Ia juga berharap pengunjung yang datang tidak hanya menikmati suguhan acara namun juga turut merayakan kekayaan kultural Indonesia sekaligus memicu ketertarikan akan kekayaan sejarah dan budaya Tionghoa Indonesia.

Selain pertunjukan seni, acara yang mengambil tema " Embracing the Culture, Enriching the Nation" ini semakin disemarakkan dengan kehadiran stall makanan khas Indonesia sate ayam, bakso, dan makanan khas Minang serta penggalangan dana sosial melalui donasi dan penjualan cinderamata.

Salah satu penari Bali yang tampil di Festival Cap Go Meh di Perth
Salah satu penari Bali yang tampil di Festival Cap Go Meh di Perth (Foto: Abi Sofyan Ghifari)

Pada salah satu sudut pengunjung juga dapat melihat prediksi peruntungan masing-masing shio di Tahun Ayam Api ini. Shio merupakan sistem zodiak asal Tiongkok yang diwakili oleh 12 jenis binatang dan merepresentasikan 12 siklus tahunan.

Siklus ini menggunakan penanggalan yang didasarkan atas revolusi bulan terhadap bumi (lunar system), berbeda dari kalender Masehi yang menggunakan siklus revolusi bumi terhadap matahari (solar system).

Bagi penggemar sejarah, acara ini juga memamerkan banner mengenai Black Armada, sekelumit sejarah antara IndonesiaAustralia pada masa akhir Perang Dunia II yang tak banyak diketahui masyarakat Indonesia.

Pada masa itu Australia memberi dukungan atas kemerdekaan Indonesia melalui beragam cara, salah satunya adalah dengan memboikot kapal laut milik Belanda yang melalui perairan Australia dan hendak melancarkan agresi militer terhadap Indonesia.

Kemeriahan ini tidak hanya dihadiri oleh komunitas diaspora dan masyarakat Indonesia di Perth tetapi juga masyarakat Australia setempat yang ingin menikmati pertunjukan seni maupun makanan khas Indonesia.

Konsulat Jenderal RI Perth, Ade Padmo Sarwono juga terlihat hadir bersama dengan Prof David T. Hill, Direktur Australian Consortium for InCountry Indonesian Studies (ACICIS).

Turut hadir pada acara ini Udaya Halim, seorang aktivis sejarah Tionghoa dan pendiri Museum Benteng Heritage serta Anthony Liem yang merupakan anggota Australia Indonesia Association yang menggagas penelitian sejarah mengenai Black Armada di Australian National Maritime Museum.

Dalam kata sambutannya pada buku panduan program, Ade Padmo Sarwono berharap bahwa gelaran budaya Cap Go Meh ini dapat mempererat hubungan antar masyarakat Tionghoa Indonesia di Australia Barat serta membuka koneksi dengan komunitas Indonesia lainnya dan masyarakat setempat.

Menurutnya, tradisi Imlek yang telah menjadi hari libur nasional di Indonesia dirayakan dengan penuh tenggang rasa dan kegembiraan yang mewakili beragamnya kebudayaan di berbagai penjuru kepulauan.

Tradisi Cap Go Meh yang mengikuti perayaan Tahun Baru Imlek memang lazim ditemui di berbagai pelosok Nusantara.

Meski terutama dirayakan oleh masyarakat Tionghoa, akulturasi dengan budaya lokal kerap terjadi dan melibatkan masyarakat setempat. Seperti misalnya kehadiran lontong Cap Go Meh yang merupakan kuliner khas percampuran budaya Tionghoa dengan Jawa.

*Abi Sofyan Ghifari adalah mahasiswa master di The University of Western Australia (UWA), Perth dan Ketua Departemen Litbang The Association of Indonesian Postgraduate Students and Scholars in Australia (AIPSSA).




(nwk/nwk)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed