DetikNews
Selasa 17 April 2018, 00:00 WIB

Mandiri Jogja Marathon: Lari Sehat Sinergi dengan Wisata Budaya

Advertorial - detikNews
Mandiri Jogja Marathon: Lari Sehat Sinergi dengan Wisata Budaya Menteri BUMN Rini Soemarno melepas peserta Mandiri Jogja Marathon 2018 (Dok. Detikcom)
Yogyakarta -

Tak seperti hari-hari biasanya, suasana di pelataran Candi Prambanan pada Minggu (15/4/2018), tampak berbeda. Meski langit pagi masih gelap gulita, ribuan orang sudah berjejalan di lapangan rumput di sisi Selatan dan Barat candi Hindu tertinggi di Asia Tenggara tersebut.

Mereka adalah para peserta lomba lari Mandiri Jogja Marathon 2018. Kebanyakan berkaus putih, pelari-pelari yang berdatangan dari dalam dan luar negeri ini sudah bersemangat melakukan pemanasan sejak pukul 04.00 pagi. Keriuhan di Prambanan sebelum terbitnya matahari tersebut menjadi penanda semaraknya marathon yang baru kick-off pada pukul 04.45 itu.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno pun didapuk untuk melepas peserta ajang lari marathon itu. Tercatat, sebanyak 8.000 orang ambil bagian dalam empat kategori lari di Mandiri Jogja Marathon 2018, yaitu full marathon (42,195 kilometer), half marathon (21 kilometer), 10 kilometer, dan 5 kilometer. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2017 sebanyak 6.000 orang.

Menurut Rini, ajang lari jarak jauh ini bisa menjadi kalender agenda tahunan marathon internasional. Mandiri Jogja Marathon menjadi sarana efektif untuk mengangkat promosi pariwisata di Candi Prambanan. Keikutsertaan pelari asing paling banyak berasal dari Kenya, Jepang, dan Malaysia. Kemudian disusul negara lain seperti Brasil, China, Singapura, Filipina, Australia, dan Brunai Darussalam.

 Mandiri Jogja Marathon: Lari Sehat Sinergi dengan Wisata BudayaPara peserta marathon melewati komplek Candi Sewu (Dok. Detikcom)

"Kami berharap Mandiri Jogja Marathon bisa meningkatkan awareness terhadap Prambanan. Betapa cantiknya spot di Prambanan, sehingga wisatawan dari dalam dan luar negeri dapat memanfaatkan spot tersebut," kata Rini.

Yang unik dibandingkan lomba marathon lainnya, panitia Mandiri Jogja Marathon sengaja menampilkan kesenian di sejumlah desa yang dilintasi pelari, dari mulai kesenian Jathilan, Barongan, Badui, Gejog Lesung, karawitan, dan keroncong.

 Mandiri Jogja Marathon: Lari Sehat Sinergi dengan Wisata BudayaKesenian tradisional di Mandiri Jogja Marathon 2018 (Dok. Detikcom)

Trek lari pun sengaja dibuat melewati persawahan, aliran sungai, dan pedesaan yang asri, membuat marathon ini memiliki daya tarik sendiri. Sepanjang lintasan marathon, banyak peserta yang berhenti sejenak menonton pertunjukan seni. Tak jarang pula mereka berhenti mengatur nafas sembari berswafoto saat melewati komplek Candi Sewu, Plaosan, dan Bubrah.

Tak cukup mengenalkan pada wisata seni budaya dan sejarah, pantia pun sengaja menghadirkan jajanan tradisional yang kerap ditemui di pasar di kawasan Prambanan. Buah pisang yang sudah akrab jadi pengganjal perut saat marathon, juga disediakan di Mandiri Jogja Marathon. Yang berbeda, pisang-pisang tersebut berasal dari pisang yang dipanen petani lokal.

"Di kilometer terakhir lihat Candi Prambanan. Megah dan cantik, lega sudah mau sampai," kata Rini yang juga menyempatkan mengikuti marathon untuk jarak 5 kilometer.

 Mandiri Jogja Marathon: Lari Sehat Sinergi dengan Wisata BudayaPeserta lari marathon melewati pedesaan dengan latar pemandangan persawahan (Dok. Detikcom)

Sementara itu, Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo, menjelaskan Mandiri Jogja Marathon memang sengaja menonjolkan aspek budaya dan sejarah sekaligus mempromosikan pariwisata Prambanan. Kekhasan kesenian budaya lokasi, makanan, hingga produk UKM di Prambanan otomatis ikut terangkat.

Menurut Tiko, panggilan akrabnya, konsep Mandiri Jogja Marathon 2018 sangat atraktif. Peserta tak melulu hanya mendapat kesenangan dan badan sehat, namun juga pengalaman seru dari seni budaya serta sejarah di candi-candi dan pedesaan di kawasan perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta tersebut.

"Seru, semua orang happy. Juga ada kuliner keraton dan makanan tradisional disiapkan. Tidak hanya olahraga, tetapi para peserta juga berwisata," terang Tiko.

Lanjut Tiko, gelaran Mandiri Jogja Marathion tak lepas dari kerja sama antara Bank Mandiri dengan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Ini dilakukan agar masyarakat dan komunitas di Prambanan bisa dilibatkan menyukseskan event tersebut. Harapannya, sektor pariwisata Yogyakarta bisa terdongkrak.

Kegiatan itu juga menggandeng Pemkab Sleman, Pemprov Jateng, Polda DIY, serta PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko untuk mendukung kelancaran acara, termasuk pengaturan lalu lintas agar tidak mengganggu pelari dengan tetap menjaga kelancaran aktivitas masyarakat.




(adv/adv)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed