Cerita Ratna Merindukan Nyala Listrik untuk Hidupkan Perbatasan

Advertorial - detikNews
Jumat, 22 Nov 2019 00:00 WIB
Area Pantai Pelawan di Karimun (Foto: detikcom/Rengga Sancaya)
Jakarta - Ratna (39) meneruskan usaha bapaknya berjualan di warung kecil di area Pantai Pelawan, Meral, Karimun untuk menopang perekonomiannya. Dia yang hidup sendirian jadi salah satu saksi kehidupan masyarakat yang ada di wilayah terdepan Indonesia ini.

Kabupaten Karimun yang masuk Provinsi Kepulauan Riau merupakan daerah kepulauan terdepan Indonesia dan bertetanggaan langsung dengan Malaysia dan Singapura. Sementara Pantai Pelawan merupakan salah satu destinasi wisata yang ada di Karimun.

Namun, ada satu hal yang tak berubah dan tak kunjung datang ke Pantai Pelawan sampai sekarang, yaitu nyala listrik. Selama ini, kata Ratna, masyarakat sekitar Pantai Pelawan memanfaatkan bantuan genset yang hanya nyala dari jam 6 sore hingga jam 12 malam.

"Dari kemarin ingin listrik. Banyak yang nyaranin coba ibu anjurkan, tapi kita tak pandai cakap (bicara). Sudah lapor dan diusahakan juga sama Pak RT," ujar Ratna.

"Itu aja anak saudara pengen listrik masuk. Dah lame ga masuk api (listrik) sampai sekarang," tegas Ratna.

Menurut Ratna, absennya listrik ini turut berpengaruh terhadap tanggapan wisatawan Pantai Pelawan yang kerap singgah di warungnya. Apalagi, jika akhir pekan, tak jarang wisatawan mancanegara berkunjung ke beberapa destinasi di Karimun.

Cerita Ratna Merindukan Nyala Listrik untuk Hidupkan Perbatasan

Ratna, warga Pantai Pelawan yang merindukan listrik (Foto: 20detik/Wirsad Hafiz)

"Siang-siang nanya, bu numpang nge-charge. Saya jawab, maaf kami tak ada listrik, kami cuma hidup malam," ujar Ratna.

Saat tim detikcom berkunjung ke Pantai Pelawan, terlihat area warung dan gazebo terlihat sejuk karena tertutupi pohon kelapa yang berjejer sepanjang pantai. Ada juga beberapa pengunjung yang bergerombol di gazebo, ada yang main pasir, dan bermain air laut sambil berenang.

Namun, salah seorang wisatawan dari Medan, Meli, menyayangkan tak adanya fasilitas listrik di area pantai ini. Ia datang ke Karimun untuk mengunjungi dua temannya, lalu menyempatkan berwisata ke Pantai Pelawan.

"Bisa dibikin lebih indah lagi, dipercantik. Fasilitasnya agak kurang, lebih diperbarui, penerangan di daerah pariwisata, terutama tempat beristirahat sama tamu," ucap Meli.

Sementara itu, Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah mengonfirmasi bahwa pihaknya sebenarnya sanggup untuk memberi sambungan listrik kepada warga Pantai Pelawan. Apalagi, kata Dwi, PLN Tanjung Balai Karimun (TBK) memiliki surplus daya.

Cerita Ratna Merindukan Nyala Listrik untuk Hidupkan PerbatasanListrik di Pantai Pelawan hanya nyala di malam hari dari genset (Foto: detikcom/Rengga Sancaya)

Namun, Pantai Pelawan masuk zona terbatas buat PLN karena regulasi yang berlaku. Dwi menjelaskan, selain PLN, ada dua penyedia listrik lain di Karimun yang berasal dua perusahaan swasta. Regulasi tersebut membagi zonasi atau area masing-masing perusahaan untuk mengaliri listrik sekitarnya.

"Kita klarifikasi kenapa PLN tidak mengaliri listrik, jawabannya karena regulasi. Awal 2018 sudah ada estafet rapat, ke pusat, ke dirjen juga. Terakhir kita dapat MoU, bahwa kita hanya melayani rumah tangga," ucap Dwi.

"Meskipun sebenarnya kita juga ingin dan sanggup untuk memberikan masyarakat Pantai Pelawan listrik," pungkas Dwi.

Dwi juga menjelaskan, yang disebut wilayah usaha adalah batasan pemilik wilayah usaha itu bisa menyediakan pasokan listrik yang dikonsumsi atau dibutuhkan pada masyarakat. PLN masuk dalam wilayah usaha zonasi 3 untuk masyarakat dan 2 zonasi lainnya diisi oleh perusahaan swasta untuk kelistrikan industri di Karimun.

"Pada tahun 2014, PLN masih kekurangan pasokan, dipasok melalui sewa PLTD. Namun, semenjak tahun 2015 dengan dicanangkan program 35 MW, secara bertahap Pulau Karimunbesar mendapat tambahan investasi penyediaan pembangkit PLTD 15 unit x 1 MW," ujar Dwi.

"Pada saat itu, tahun 2017 sewa (PLTD) hilang, sudah tidak ada mesin pembangkit yang sewa. Untuk mencukupi kebutuhan listrik masyarakat, rumah tangga, dan bisnis maupun industri pada kondisi 2017-2019 sangat cukup dan tentunya menjadi modal untuk pertumbuhan ekonomi di Pulau Karimunbesar," imbuhnya.

Ia juga menjelaskan, pertumbuhan pelanggan PLN di Karimun mencapai sekitar dua ribu per tahun dengan peningkatan permintaan kapasitas 2 MW setiap tahunnya serta peningkatan konsumsi listrik dari 7 hingga 7,2%.

"Kita ketahui di Karimun sudah tumbuh, baik kawasan bisnis, perumahan maupun perhotelan. Geliat ekonomi cukup tumbuh meningkat meskipun ini merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Malaysia maupun Singapura," ujar Dwi.

Detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

(adv/adv)