DetikNews
Jumat 19 Oktober 2018, 00:00 WIB

Ajak Milenial Ikut Koperasi, Cara Pemerintah Hadapi Bonus Demografi

Advertorial - detikNews
Ajak Milenial Ikut Koperasi, Cara Pemerintah Hadapi Bonus Demografi (Foto: dok. Kemenkop UKM)
Jakarta -

Diperkirakan pada 2020 Indonesia akan mengalami bonus demografi, yaitu kondisi penduduk sebagian besar akan diisi oleh generasi muda atau usia produktif. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian bagi semua pihak, khususnya pemerintah.

Plt Deputi Bidang SDM Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM), Rulli Nuryanto, mengatakan dalam menghadapi bonus demografi tersebut, harus disediakan cukup sarana untuk generasi muda berkreasi dan menggali potensi yang ada pada dirinya.

"Kalau generasi muda yang banyak ini tidak diberikan ruang, tentu akan ada dampak negatifnya. Kedua, kalau kita bicara bonus demografi saat ini, kita juga harus siap ke depannya, yang usia - usia produktif ini ke depan akan menjadi usia-usia tidak produktif," papar Rulli dalam keterangan tertulis, Jumat (19/10/2018).

Ajak Milenial Ikut Koperasi, Cara Pemerintah Hadapi Bonus Demografi(Foto: dok. Kemenkop UKM)

Hal tersebut diungkapkan Rulli dalam acara Forum Tematik Bakohumas 'Koperasi Milenial Mendorong Perekonomian Masyarakat Melalui ICT' yang diselenggarakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM, di Bandung, Kamis (18/10/2018).

Dalam kesempatan itu, Rulli juga menjelaskan bahwa kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan besar bagi dunia ekonomi Indonesia, khususnya bagi perkembangan koperasi dan UKM. Namun yang menjadi perhatian, generasi milenial dinilai masih enggan menyentuh sektor bisnis koperasi.

Dalam upaya menggalakkan koperasi di kalangan milenial, Rulli mengatakan koperasi milenial seharusnya diisi oleh anak-anak muda yang produktif dan kreatif. Sayangnya hal ini justru menjadi salah satu permasalahan yang masih sulit diselesaikan, mengingat minimnya pemahaman mengenai koperasi di kalangan milenial.

Padahal menurutnya secara pengembangan bisnis, koperasi memiliki posisi yang sama dengan PT karena dapat melakukan ekspor, dapat bergerak di bidang industri kreatif, dan melakukan usaha-usaha yang sama seperti yang dilakukan PT.

"Koperasi juga memiliki nilai tambah, yaitu koperasi bisa memiliki PT, namun PT tidak bisa memiliki koperasi. Di dalam perusahaan, koperasi karyawan tidak dapat dinyatakan milik perusahaan, melainkan milik karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut," jelas Rulli.

Meski koperasi yang digarap oleh kalangan muda juga sudah ada di universitas-universitas seperti koperasi mahasiswa, namun menurut Rulli, koperasi mahasiswa lebih kepada pembelajaran semata.

"Yang kita inginkan, koperasi berkembang seperti perusahaan dengan badan usaha lain. Bisa kok koperasi. Seperti kita lihat ada Kospin Jasa yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia, Koperasi Karyawan Telkomsel, dan lain sebagainya," ujarnya.

Koperasi memang harus mengikuti perkembangan teknologi. Bahkan rapat anggota tidak harus hadir, tetapi memanfaatkan teknologi informasi. Karena menurutnya apabila semua anggota berkumpul, biayanya akan mahal.

Dalam kesempatan yang sama, Staff Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Hukum, Henri Subiakto mengatakan bahwa untuk menarik milenial berkoperasi, para pelaku koperasi dan UKM harus mampu mengembangkan Internet of Change (IOC) atau lebih memanfaatkan teknologi. Hal ini mengingat milenial lebih cenderung kepada bisnis berbasis teknologi.

"Kita yang bergelut di bidang UMKM, mau tidak mau harus dapat mengetahui perkembangan teknologi, dan harus tahu bagaimana memanfaatkan teknologi," tegas Henri.

Henri juga mengimbau agar para pelaku koperasi dan UKM dapat mengembangkan sektor usahanya dengan melakukan kolaborasi ataupun business sharing.

"Dengan kolaborasi atau kerja sama dengan startup unicorn (sebutan bagi startup bernilai di atas USD 1 miliar) UMKM yang jumlahnya jutaan itu tidak harus menyewa tempat, namun hanya dengan memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia. UMKM tidak harus membuat aplikasi atau ahli teknologi, cukup dengan bekerja sama," jelasnya.

Henri juga mengutip kata-kata Bos Alibaba, Jack Ma, yang mengatakan manusia akan terancam oleh keberadaan mesin. Sebab, mesin dapat melakukan berbagai hal tanpa lelah.

"Maka ke depan, kita harus mengembangkan dan mengajarkan kepada generasi kita untuk melakukan hal yang tidak dapat dilakukan oleh mesin, seperti bagaimana kita berkreativitas, berkolabaorasi, sharing, dan sebagainya yang tidak bisa dikerjakan oleh mesin," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Biro Umum Kementerian Koperasi dan UKM Hardiyanto menambahkan kemajuan koperasi bukan hanya menjadi tanggung jawab Kementerian Koperasi dan UKM, melainkan harus menjadi fokus semua pihak. Koperasi juga bukan sekadar isu sektoral, melainkan isu nasional.

"Untuk itu, pertumbuhan dan perkembangan koperasi harus menjadi tanggung jawab semua pihak," ujar Hardiyanto.


(adv/adv)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed