DetikNews
Jumat 08 Agustus 2014, 00:00 WIB

Komunitas Pebisnis Bandung :

Amaro Cheese Cake : Lezat di Lidah, Indah di Pandang

- detikNews
Amaro Cheese Cake : Lezat di Lidah, Indah di Pandang
Jakarta -

Bicara kuliner Bandung memang tidak akan ada habisnya. Kota yang kerap menjadi destinasi warga Jakarta dan sekitarnya saat weekend ini memang banyak menawarkan ragam kuliner. Mulai dari makanan tradisional khas Sunda, hingga menu-menu favorit dari daerah lain maupun menu internasional dapat ditemukan di cafe, resto atau toko oleh-oleh yang tumbuh subur di kota kembang ini. Tak pelak, setiap mengunjungi Bandung, selalu saja ada yang baru hasil kreasi orang Bandung. Peluang bisnis di bidang kuliner, terutama oleh-oleh “khas” Bandung ini pula yang ditangkap oleh pasangan suami istri Totong Darmawan(38) dan Deisy Hermawaty (37) melalui produknya yang diberi label Amaro Cake.

Sekalipun terbilang pendatang baru, brand kue keju yang mulai dipatenkan sejak Juli 2012 lalu itu segera dikenal sebagai salah satu ikon oleh-oleh khas Bandung. Berawal dari Deisy yang gemar membuat sendiri kue keju untuk anak-anaknya. Karena keempat anaknya menyukai kue keju home made itu, Deisy dan Totong pun tak ragu untuk menghidangkan kue favorit keluarganya pada acara-acara pertemuan keluarga besar atau relasi mereka. “Awalnya istri saya hanya ingin makanan yang sehat bagi anak-anak. Kalau dibuat sendiri, tentu kebersihan dan kualitas bahan-bahannya lebih terjaga. Makanan itu tanpa pengawet, tanpa bahan kimia, dan tanpa pewarna buatan yang berbahaya. Tapi ternyata kue dengan resep hasil modifikasi istri saya ini banyak pula diminati saudara-saudara kami,” ungkap Totong.

Pucuk dicinta ulam tiba. Pada satu kesempatan, salah satu sepupu Totong yang memiliki cita rasa yang tinggi sangat terkesan dengan rasa kue keju buatan Deisy. Tak disangka, sang sepupu itu kemudian memesan 40 buah kue keju made in Deisy untuk acara kumpul-kumpul di rumahnya. “Itu merupakan pesanan pertama kami, hingga akhirnya kami memutuskan untuk segera mencari brand, dan terpilihlah ‘Amaro’ yang berarti gagah berani,” jelas Totong. Keduanya pun serius menangani pesanan itu dengan mendesain aneka kemasan yang cantik agar penampilan kue keju Amaro semakin menarik.

“Kami merancang desain kemasan Amaro agar tampil beda. Salah satu kotak kue ada yang terbuat dari bahan kain dengan asesoris cantik dan dapat disesuaikan dengan momen-momen khusus. Jadi ketika beredar di pasaran, Amaro tak cuma lezat di lidah, tapi juga indah dipandang dan bisa dijadikan oleh-oleh yang berkesan,” lanjut Totong.



Tak perlu menunggu terlalu lama, nama kue keju Amaro segera dikenal berbagai kalangan melalui pemasaran dari mulut ke mulut. Soal rasa, kue bolu bertekstur empuk dan berwarna kuning keemasan itu memang maknyusss. Dengan taburan keju melimpah diatasnya, membuat taste of cheese-nya tersebar keseluruh mulut saat memakannya.

Baik Totong maupun Deisy dibesarkan di sebuah keluarga yang memiliki bisnis trading bahan-bahan kue. Pria lulusan Amerika ini hingga kini masih aktif bekerja di perusahaan milik keluarganya sebagai distributor produk-produk Unilever, Nestle, Bogasari, Sania, dan lainnya. Namun demikian, bukan berarti Totong tak serius menekuni bisnis Amaro Cake. Terbukti saat ini kue produksinya sudah menjamah Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Amerika melalui para pelancong yang memesannya sebagai oleh-oleh.

Disamping bolu keju khas Amaro, kini Totong dan Deisy juga memproduksi varian kue lain seperti kue kering, tart untuk ulang tahun/pernikahan, kue lapis Malang, lapis apricot, dan beberapa jenis kue lainnya. Demi menjaga kualitas produknya, Totong hanya menerima pesanan, dan tidak menstok produk atau menitipkannya di toko kue atau toko oleh-oleh. “Saya harus menjaga kualitas. Jadi tidak ada kue yang terbuang dan berkurang kualitasnya karena tidak fresh from the oven,” jelasnya. Kue-kue Amaro dibanderol dengan kisaran harga Rp 35 ribu hingga Rp 350 ribu. “Namun untuk kue tart seperti ulang tahun tergantung pada order. Jika ukuran yang diminta besar dan banyak asesoris yang digunakan harganya bisa sampai Rp 1 juta lebih,” tandas Totong didampingi istri saat diwawancarai.

Dengan banyaknya pesanan yang terus mengalir bahkan meningkat pesat menjelang Lebaran, Natal dan Imlek, Totong mengaku akan segera membuka toko kuenya, sehingga produksi tidak hanya by order.

Soal pemasaran, sejauh ini Totong mengaku hanya memanfaatkan broadcast BBM, facebook, selebaran serta dari mulut ke mulut. Namun ia optimis peluang bisnis ini sangat besar setelah melihat tren pasar produk Amaro terus berkembang 2 tahun ini. Banyaknya kompetitor bisnis sejenis pun tak membuat Totong gentar karena ia yakin bisnis kuliner di Bandung akan terus meningkat, dan kehadiran sebuah brand baru bukan menjadi pesaing melainkan saling melengkapi.

Di dalam berbisnis tentu bukan tanpa kendala. “Sejauh ini tantangannya soal pengiriman karena hampir semua pesanan kue kami delivery. Sehingga kami harus menjaga agar on time diterima pemesan. Dan soal pembayaran umumnya dilakukan dengan transfer via bank BCA,” kata Totong yang sudah menjadi nasabah sejak 1998 dan mengaku akan menggunakan mesin EDC BCA untuk kemudahan transaksi di tokonya jika telah dibuka.

“Menjadi nasabah BCA itu rasanya luar biasa. BCA bisa diajak berdiskusi mengenai perencanaan keuangan pribadi maupun bisnis, sehingga saya juga merasa lebih dekat, nyaman, mudah, dan lebih banyak fasilitas dan manfaat yang bisa didapat. Produknya pun banyak sesuai dengan kebutuhan kami, “ ujar Totong. “Untuk pembelian mobil operasional, saya juga memanfaatkan fasilitas kredit kepemilikan kendaraan bermotor dari BCA, “ tambahnya. (AE-08)

BCA Senantiasa di Sisi Anda


(adv/adv)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed