Pekerja Asal Indonesia Sambut Kenaikan Upah Kurir Makanan di Australia

Pekerja Asal Indonesia Sambut Kenaikan Upah Kurir Makanan di Australia

ABC Australia - detikNews
Jumat, 21 Agu 2026 15:05 WIB
Sejumlah pengirim makanan berbasis aplikasi di Australia menyambut baik aturan upah, tapi mereka berharap bisa diterapkan dengan baik. (ABC News: Erwin Renaldi)
Sejumlah pengirim makanan berbasis aplikasi di Australia menyambut baik aturan upah, tapi mereka berharap bisa diterapkan dengan baik. (ABC News: Erwin Renaldi)
Jakarta -

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia

Untuk mendapat tambahan penghasilan di tengah biaya hidup di Australia yang semakin mahal, Alvien Arief, warga Indonesia yang tinggal di Sydney, bekerja sebagai kurir makanan bersama Uber Eats.

Tapi, Alvien mengaku pengemudi ojol lepasan di Australia seringkali mendapatkan penghasilan yang tidak menentu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada kalanya saya bisa mendapatkan lebih dari AU$32 [lebih dari Rp400 ribu] per jam, tetapi di waktu lain pendapatannya juga bisa jauh lebih rendah, tergantung order, jam kerja, dan kondisi di lapangan," ujarnya.

Senin kemarin (17/08), untuk pertama kalinya di Australia, pengantar makanan berbasis aplikasi, seperti Uber Eats anda Door Dash, mendapatkan upah minimum setidaknya AU$31,30 per jam. Angka ini di atas upah minimum nasional sebesar AU$26,44 atau lebih dari Rp330 ribu.

ADVERTISEMENT

Sekitar 250.000 pengemudi ojol di Australia akan terpengaruh dengan perubahan ini, yang tidak hanya akan menerima upah minimum lebih tinggi, tapi juga mendapat perlindungan asuransi.

Alvien berharap perubahan ini setidaknya akan lebih memberikan kepastian bagi para pengirim makanan.

"Dengan adanya perubahan ini, kami sebagai gig workers jadi bisa merasakan pendapatan yang lebih mendekati pekerja pada umumnya, terutama karena ada kepastian mengenai minimum earnings per hour [pendapatan per jam]," kata Alvien kepada Erwin Renaldi dari ABC Indonesia.

"Dengan adanya minimum payment [upah minimum] yang lebih pasti, setidaknya sekarang kami punya kepastian bahwa setiap jam yang kami habiskan untuk bekerja akan mendapatkan bayaran yang lebih layak."

Sammy, warga Indonesia di Melbourne dengan hanya satu nama, juga menyambut perubahan upah minimum bagi kurir makanan, karena menurutnya bisa membantu meningkatkan kesejahteraan pengemudi.

"Terutama karena sebelumnya driver tidak dibayar untuk waktu tunggu di restoran atau saat drop off yang kalau diakumulasikan jumlahnya bisa cukup banyak," ujarnya.

Tidak langsung tertarik kerja full time

Meski upah minimum untuk sopir pengantar makanan sudah naik, Sammy mengaku tidak tertarik untuk menjadi kurir makanan penuh waktu di Australia karena pekerjaan lain yang ia lakukan masih menawarkan bayaran yang lebih tinggi.

Menurutnya, ada sejumlah hal yang menjadi pertimbangan, seperti kesempatan mengembangkan karier dan jalan untuk menjadi penduduk tetap Australia yang tidak tentu.

"Karena almost impossible saya bisa mendapatkan PR [permanent resident] di Australia apabila bekerja sebagai full time food delivery driver," ujar Sammy.

Alvien mengatakan kurir makanan berbasis aplikasi menghadapi sejumlah tantangan, seperti menunggu pesanan, menghadapi kondisi restoran yang sedang penuh, sampai berhadapan dengan pelanggan.

"Saya sendiri menggunakan e-bike [sepeda listrik], jadi secara fisik mungkin lebih melelahkan dibandingkan menggunakan motor atau mobil," ujarnya.

Ia mengatakan belum terpikir untuk menjadi pengirim makanan full time, karena masih ingin melihat bagaimana sistem dan penerapannya.

Perjuangan panjang para pengemudi

Reformasi untuk pekerja gig economy diperkenalkan dua tahun lalu oleh pemerintah federal Australia, yang memberi wewenang kepada lembaga Fair Work Commission untuk menetapkan standar minimum bagi kurir makanan agar bisa "mirip karyawan."

Hingga saat ini, sebagian besar dari mereka adalah kontraktor independen, yang membuat mereka tidak mendapat perlindungan dari tempat kerja.

Sekretaris nasional Transport Workers Union (TWU), Michael Kaine, mengatakan perubahan ini sudah direncanakan selama satu dekade.

"Ini benar-benar sejarah yang sedang dibuat, bukan hanya di Australia, tetapi di seluruh dunia," kata Michael.

Sementara terkait keselamatan pengirim makanan, menurut Serikat Pekerja Transportasi, setidaknya 25 pekerja lepas telah meninggal sejak 2017.

Direktur pelaksana Uber Eats di Australia dan Selandia Baru, Ed Kitchen, mengatakan reformasi ini berupaya untuk mempertahankan fleksibilitas pekerjaan lepasan, sekaligus meningkatkan kondisi pekerja.

"Standar ini memberikan jaring pengaman yang terjamin sekaligus melindungi fleksibilitas yang menurut para pengantar makanan adalah hal yang paling mereka hargai," kata Ed.

Seorang juru bicara DoorDash mengatakan standar minimum baru ini adalah contoh dari industri dan serikat pekerja yang menemukan titik temu.

"Ini adalah regulasi modern yang akan melindungi pekerja tanpa menghilangkan fleksibilitas yang membuat mereka tertarik pada pekerjaan ini sejak awal," kata juru bicara DoorDash.

Simak juga Video 'Alasan TKI Dianiaya 20 Tahun di Malaysia Belum Dipulangkan':

(ita/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini