Hubungan Manusia dengan Laut Ditampilkan Seniman Indonesia di Festival Seni Australia Selatan

ABC Australia - detikNews
Rabu, 27 Okt 2021 12:10 WIB
Jumaadi (kanan) dan Michael Toisuta adalah dua seniman Indonesia di Australia yang berkolaborasi dalam pertunjunkan PERAHU-PERAHU (Koleksi OzAsia Festival 2021)
Jakarta -

Jumaadi adalah seniman Australia kelahiran Indonesia yang mengaku jika ia dibesarkan menjadi seniman justru saat berada di Australia.

Ia sudah banyak menampilkan karyanya di museum, galeri, serta panggung di penjuru dunia, bahkan beberapa di antaranya mendapatkan penghargaan.

Jumaadi mengawali karirnya di bidang seni sebagai pelukis dan seni pertunjukan.

"Saya merasa Australia ini adalah rumah saya," kata Jumaadi, lulusan National Art School tahun 2008.

"Australia secara budaya masih terbuka, sehingga ada banyak ruang bagi kita para seniman dari seluruh penjuru dunia untuk berkiprah di sini," ujarnya.

Seni yang ia tampilkan juga tidak hanya sebatas seni tradisional, tapi lebih menggabungkan antara seni klasik dan kontemporer.

"Saya pikir karena seni kontemporer ini lebih fluid dari seni tradisional, artinya kita juga mengambil referensi dari kebudayaan dan cabang seni lainnya," jelas Jumaadi yang pernah mewakili Australia di ajang Gwangju Biennale di Korea Selatan.

Jumaadi akan menampilkan karya terbarunya, PERAHU-PERAHU di OzAsia Festival, yang pertunjukan perdananya akan digelar Rabu malam (27/10) di Space Theatre, Adelaide.

Kepada ABC Indonesia, Jumaadi mengatakan pertunjukan berdurasi sekitar 60 menit ini akan didominasi oleh visual bayang-bayang, seperti 'shadow play'.

"Tapi ini bukan wayang, hanya tekniknya saja mirip dengan wayang," kata Jumaadi.

Dalam pertunjukan ini, penontonnya nantinya akan dibawa untuk melihat hubungan manusia dengan laut, yang melibatkan transportasi perahu melewati perairan Eropa, India, Nusantara, hingga ke Australia.

"Nanti akan ada juga cerita kapal pesiar yang turun di Sydney,mengangkut penumpang yang banyak tertular penyakit corona," kata Jumaadi yang mengatakan cerita yang ditampilkan juga memotret peristiwa terkini.

Pertunjukan bayang-bayang akan disertai dengan alunan musik karya Michael Touista, seniman dan musisi Australia yang dibesarkan di Indonesia.

Michael memiliki seorang ibu asal Australia dan bapaknya berasal dari Nusa Tenggara Timur.

"Dari bayi sampai lulus SMA saya tinggal Indonesia, kebanyakan di Salatiga," kata Michael.

"Saya waktu SMP dan SMA di Indonesia juga sudah mulai nge-band," ujarnya yang pernah mengambil diploma di bidang musik kontemporer.

Sebagai Musical Director dalam pertunjukan PERAHU-PERAHU, Michael mengatakan musik yang disuguhkannya malam nanti akan menggabungkan alat musik tradisional dan modern, seperti gitar listrik, biola, dan drum, dengan banyak irama musik rock.

"Saya bukan pemusik tradisional atau terlatih main musik tradisional, tapi saat di Indonesia banyak menonton pertunjukan tradisional, seperti wayang," ujarnya.

Menurut Michael saat ini semakin banyak warga Australia yang tidak hanya ingin menonton atau mendengarkan seni budaya Eropa, setidaknya dari pengalamannya di bidang teater.

"Walau pun mereka masih sangat respek dengan budaya klasik Eropa, seperti Shakespeare, tapi mereka selalu mencari sesuatu yang baru."

Karenanya Michael merasa masih ada ruang untuk aliran musik, termasuk dari Indonesia untuk bisa diterima di pasaran Australia.

Tapi bagi Michael, ia mengaku jika tak ingin kemudian terpaku pada yang akan digemari dan laku di pasaran.

"Buat saya pribadi, saya selalu berusaha membuat karya yang jujur pada diri sendiri dan yang terbaik."

"Dan tentunya kita haru selalu push ourselves [terus bekerja keras]."

OzAsia Festival adalah festival seni tahunan yang digelar di Adelaide, Australia Selatan, dengan lebih menampilkan karya-karya dari para seniman Asia atau berdarah Asia di Australia.

Festival yang digelar selama tiga minggu di musim semi ini sempat tidak diadakan pada tahun kemarin karena pandemi COVID-19.

Simak artikel menarik lainnya di ABC Indonesia.

(ita/ita)