WNI di Sydney Menikmati Kebebasan Usai 'Lockdown' Selama Lebih dari 3 Bulan

ABC Australia - detikNews
Senin, 11 Okt 2021 15:30 WIB
Lilian Tanpian (kiri) berharap bisa lagi menikmati lebih banyak kegiatan di luar ruangan seperti berjalan kaki setelah NSW melonggarkan pergerakan warga. (Supplied)
Sydney -

Negara bagian New South Wales (NSW) memutuskan untuk mencoba hidup dengan virus Corona, ketimbang terus-menerus memberlakukan 'lockdown' untuk menekan angka penularan.

Mulai pergantian hari Senin (12/10), negara bagian dengan ibu kota Sydney ini melonggarkan aturan 'lockdown'.

Kepada Sastra Wijaya dari ABC Indonesia, Lilian Tanpian mengatakan hal pertama yang akan dilakukannya setelah status 'lockdown' dicabut adalah pergi ke salon untuk potong rambut.

"Setelah itu ya lihat dulu pelan-pelan, take it easy mungkin ketemu teman-teman dan mungkin ke pusat kota lagi untuk jalan-jalan," kata Lilian asal Manado yang sudah tinggal di Sydney sejak tahun 2002.

Lilian yang bekerja di bidang informasi dan teknologi sudah terbiasa dengan bekerja di rumah, karena sudah dilakukannya sebelum pandemi.

Tapi ia mengaku tetap saja melewati masa-masa yang berat selama 'lockdown', terutama secara psikologis karena semuanya menjadi tidak pasti.

"Ada hari-hari di mana rasanya suram sekali. Sebagai manusia kita ingin mendapat kepastian, rencana ke depan yang bisa kita ketahui," ujar Lilian.

Menteri Utama NSW, Premier Dominic Perrottet menyatakan hari Senin ini sebagai "freedom day" dan menegaskan negara bagiannya tidak bisa terus menerus ditutup.

Tapi ia juga sudah memperingatkan jika jumlah penularan dan orang yang akan dirawat di rumah sakit akibat COVID-19 akan meningkat.

"Jumlah kasus akan meningkat, rawat inap akan meningkat karena pergerakan akan meningkat saat kita membuka [melonggarkan aturan]. Kita tidak bisa tutup turus. Kita perlu belajar untuk hidup dengan virus," katanya.

"Hari ini, New South Wales adalah negara bagian pertama [di Australia] yang melakukannya. Kami akan memimpin negara ini keluar dari pandemi."

Adi Santoso adalah pengusaha asal Indonesia di Sydney yang memiliki bisnis antara lain pemasangan solar panel di rumah-rumah.

Selama 'lockdown' ia mengaku bisnisnya menurun hingga 30 hingga 40 persen.

"Teknisi saya tiga orang tidak boleh keluar dari kawasan tempat tinggalnya," ujarnya.

"Juga kalau ada order pemasangan panel ke daerah di mana kasusnya tinggi, para teknisi juga tidak mau ke sana," tambahnya.

Tapi Adi mengatakan dengan dibukanya kembali NSW tidak berarti bisnisnya akan segera kembali normal seperti sebelum pandemi.

"Sekarang harga solar panel dari China sedang mahal-mahalnya, naik 25 persen dalam beberapa pekan terakhir," katanya, merujuk pada hubungan bisnis dan politik yang kurang baik antara Australia dan China saat ini.

Sejumlah pembatasan yang dilonggarkan

Lilian mengaku jika ia merasa kesal dengan 'lockdown' di tahun ini karena tidak menyangka akan begitu panjang, yakni lebih dari 100 hari.

"Kita tahu keadaan bisa lain, bahwa lockdown tidak akan sepanjang ini, bila pemerintah melakukan kerja yang benar berkenaan dengan karantina, vaksin, dan hal-hal lain selama 12 bulan terakhir," ujarnya.

Vaksinasi di Australia memang sempat terlambat, tapi kini Australia semakin dekat mencapai target agar perbatasan internasional bisa dibuka kembali dibuka.

Akhir pekan lalu, lebih dari 90 persen warga berusia di atas 16 tahun di NSW setidaknya sudah menerima satu dosis vaksinasi.

Lebih dari 70 persen sudah mendapatkan vaksinasi penuh dan menjadi alasan NSW untuk melonggarkan' 'lockdown'.

Dengan target vaksinasi di NSW yang sudah tercapai, warga kini sudah boleh kembali berkumpul di luar ruangan dengan maksimal 20 orang.

Restoran juga sudah kembali dibuka dengan kapasitas satu orang per 4 meter persegi untuk di dalam restoran dan 2 meter persegi di luar.

Tapi mereka yang belum mendapat dua dosis vaksinasi hanya boleh melakukan 'takeaway'.

Warga juga sudah boleh pergi ke pusat hiburan, seperti bioskop, atau teater, yang kembali di buka dengan maksimal 75 persen dari kapasitas.

Sementara itu sekolah baru akan dibuka pada 25 Oktober dan mereka yang duduk di bangku taman kanak-kanak, kelas 1 dan kelas 12 bisa melakukan pertemuan tatap muka di kelas secara penuh.

Namun hingga saat ini belum ada tanggal kepastian Australia akan membuka perbatasan dan hal ini berdampak pada Lilian yang sudah kangen bertemu sanak saudaranya di Indonesia.

"Jadi sampai sekarang saya tidak tahu kapan saya bisa ke Indonesia lagi. Padahal bagus sekali kalau bisa tahu misalnya, saya bisa bepergian lagi dalam beberapa bulan mendatang."

Sementara itu Adi mengatakan selama 'lockdown' dan harus tinggal di rumahnya di Sydney, ia tetap bisa mengalihkan ke hal-hal yang positif.

Salah satunya adalah bisa mengurus rumah dengan lebih baik.

"Rumah saya jadi rapi, kebunnya jadi teratur. Sebelum lockdown kita keluar rumah terus lima hari seminggu."

"Pas lockdown kita tidak bisa ke mana-mana. Debu di atap langit-langit rumah pun dibersihkan," kata Adi.

(nvc/nvc)