COVID-19 di Luar Negeri Masih Berisiko, Australia Perpanjang Penutupan Perbatasan

ABC Australia - detikNews
Kamis, 04 Mar 2021 17:31 WIB
Jakarta -

Pemerintah Australia mengumumkan akan tetap menutup perbatasan internasional hingga 17 Juni mendatang, sementara kalangan pengusaha mendesak pembukaan kembali karena vaksinasi COVID-19 sudah berjalan.

Rabu kemarin, Menteri Kesehatan Australia, Greg Hunt dalam pernyataan konferensi persnya menyebutkan keputusan ini diambil setelah mendengar masukan dari Komite Perlindungan Kesehatan Australia (AHPPC) serta pejabat tertinggi bidang medis.

"AHPPC menyampaikan ke pemerintah bahwa situasi COVID-19 di luar negeri terus menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat Australia," jelas Menkes Hunt.

"Termasuk munculnya varian baru lebih menular," tambahnya.

Federal health Minister Greg Hunt

Menteri Kesehatan Greg Hunt mengumumkan perbatasan Australia baru akan dibuka pada 17 Juni mendatang. (One Plus One)

Ketua BCA Jennifer Westacott kepada pers mendorong pemerintah untuk mengubah sistem pelaporan COVID-19 dari jumlah kasus menjadi jumlah orang yang telah divaksinasi.

"Sektor-sektor seperti pariwisata yang mengalami pengurangan lapangan kerja hingga setengahnya, akan terus menderita selama perbatasan internasional ditutup," ujar Jennifer.

Menurut perhitungan BCA, pembukaan kembali perbatasan akan menghindarkan Australia dari kerugian ekonomi AU$170 miliar seperti yang telah terjadi.

Laporan BCA bertajuk Shifting gear: three steps to safely, quickly and permanently reopen Australia in 2021 disusun dari hasil penelitian lembaga Accenture.

"Sekarang kita sudah tahu lebih banyak mengenai virus ini, vaksinasi juga sudah berjalan, seharusnya tidak perlu lagi tindakan-tindakan reaktif," kata Jennifer.

"Penutupan perbatasan domestik saja telah merugikan Australia AU$2,1 miliar perbulan," jelasnya.

"Lebih dari 52 persen warga Australia mengaku tidak mau bepergian, bukan karena takut virus, melainkan takut terjadi penutupan perbatasan secara tiba-tiba," tambahnya.

Penerbangan internasional ke Melbourne

Sementara itu, Menteri Utama negara bagian Victoria, Premier Daniel Andrews hari Kamis menegaskan pihaknya tidak dapat memastikan kapan penerbangan internasional ke Melbourne bisa kembali dibuka.

"Saya tidak dalam posisi untuk memastikan kapan penerbangan internasional bisa datang lagi di Melbourne," ujar Premier Andrews.

"Alasannya karena kami meminta saran ahli medis mengenai risiko varian baru virus ini terhadap keamanan hotel karantina," katanya.

"Setelah hal itu selesai dan mereka dapat meyakinkan saya bahwa risikonya sangat rendah, barulah penerbangan internasional bisa dimulai kembali," jelas Premier Andrews.

"Saya mengerti hal ini membuat tidak nyaman, namun ketidaknyamanan itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan adanya virus yang sangat menular, sangat mudah ditularkan, virus yang berubah, tantangan yang berubah, dan kemungkinan harus lockdown lagi," tuturnya.

Negara bagian New South Wales saat ini menerima sekitar 3.000 warga Australia yang kembali dari negara lain.

Sementara negara bagian lainnya menerima ratusan atau ribuan orang per minggu.

Pemerintah federal sebelumnya memastikan program vaksinisasi akan selesai pada Oktober.

Maskapai penerbangan Qantas mengumumkan rencana memulihkan kembali penerbangan internasional pada 31 Oktober.

"Kami yakin alasannya cukup baik untuk dibuka kembali pada Oktober, ketika vaksinasi sudah dilakukan semua penduduk," kata Dirut Qantas Alan Joyce pada hari Kamis.

Simak artikel lainnya di ABC Indonesia.

Tonton Video: Nihil Kasus Baru, Melbourne Longgarkan Lockdown

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)