China dan India Berebut Pengaruh Politik Lewat Diplomasi Vaksin COVID-19

ABC Australia - detikNews
Jumat, 26 Feb 2021 18:02 WIB
Jakarta -

Para pakar mengatakan China dan India mengirimkan jutaan dosis vaksin COVID-19 ke berbagai negara sebagai bagian dari usaha diplomasi meningkatkan reputasi mereka.

Persaingan India dan China

Beberapa pengamat menilai ada peluang sekaligus risiko yang dihadapi Indonesia dalam berhubungan dengan China, termasuk soal vaksin.

Negara mencari mitra baru

Persaingan strategis ini tampak sekali terjadi di negara-negara yang menjadi tujuan China dan India untuk memperkuat pengaruhnya.

Nepal yang secara geografis terletak antara kedua negara sudah menjadi pusat pergerakan geopolitik ini.

China dan India mengirimkan vaksin ke Nepal.

Menurut Ariel, ada pertanyaan tidak resmi dari Perdana Menteri Nepal KP Sharma Oli, jika negaranya lebih "menyukai" vaksin India dibandingkan China dan itu sudah disebarluaskan oleh media India.

"Versi dari pernyataan itu muncul di Instagran di mana ada enam unggahan yang mendapatkan 65 ribu interaksi, menurut platform pemantau CrowdTangle," katanya.

Kedua negara juga berusaha mencari negara-negara baru di luar mitra tradisional yang ada.

Pradeep Taneja mengatakan Kamboja selama ini dipandang sebagai sekutu terdekat China di Asia Tenggara, namun PM Hun Sen menelpon PM India untuk meminta bantuan soal vaksin.

Sementara China sudah menawarkan satu juta dosis vaksin Sinopharm ke Kamboja, dengan ratusan ribu sudah dikirimkan.

Tapi ada permintaan juga dari Kamboja ke India yang "menunjukkan Kamboja tidak sepenuhnya percaya bahwa China akan bisa memenuhi permintan mereka," kata Taneja.

India juga bersaing pengaruh dengan pesaing utamanya, yakni Pakistan.

Setengah juta dosis vaksin AstraZeneca sudah tiba di Afghanistan bulan ini, negara di mana India dan Pakistan sedang berebut pengaruh.

Hanya ada satu negara yang bisa memenuhi permintaan dunia

Pengiriman vaksin dari China ke luar negeri sejauh ini menghadapi beberapa kendala dan sudah terjadi penundaan dalam pengiriman vaksin ke Turki dan Brasil.

Namun di Afrika, China memiliki jaringan diplomatik lebih luas dibandingkan India sehingga bisa mendistribusikan vaksin lebih cepat.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron pekan ini memperingatkan jika tidak ada vaksin dari negara-negara Barat yang tiba dalam enam sampai 12 bulan mendatang, maka beberapa negara Afrika akan menghadapi "tekanan dari rakyat mereka sendiri" untuk membeli dari China atau Rusia.

"Dan kekuatan negara Barat hanya tinggal konsep saja, bukan realitas lagi," katanya.

India sekarang menggunakan kemampuan manufakturnya yang besar untuk meningkatkan kekuatan diplomasi mereka.

Duta besar Australia untuk India, Barry O'Farrell bulan Desember lalu mengatakan "hanya ada satu negara di dunia yang memiliki kemampuan manufaktur untuk memasok ke seluruh negara di dunia" dan "negara itu adalah India'.

"India memiliki kapasitas dalam masalah produksi vaksin, namun kapasitas diplomatik mereka yang menjadi masalah karena India memiliki korps diplomatik paling kecil dalam perbandingan besarnya negara," kata Taneja.

Namun menurut Pradeep, dalam distribusi vaksin ini India akan bisa menandingi China.

"India menggunakan kekuatan utama yang dimiliki dengan menggambarkan diri sebagai hal yang berbeda dari China, bahwa mereka adalah sebuah negara demokrasi yang mau membantu negara tetangga dan membantu negara berkembang lain menangani pandemi."

ABC sudah berusaha mendapatkan komentar dari Departemen Luar Negeri China.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dan lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

(ita/ita)