Politisi Dunia Ajak Minum Wine Australia Untuk Lawan Pemerintah China

ABC Australia - detikNews
Kamis, 03 Des 2020 07:38 WIB
Jakarta -

Sebuah aliansi anggota parlemen di berbagai negara menyerukan ajakan untuk minum wine Australia sebagai upaya melawan "intimidasi otoriter" Pemerintah China.

Aliansi bernama Inter-Parliamentary Alliance on China (IPAC) dalam seruan yang dirilis hari Selasa (1/12) meminta warganya untuk tidak minum wine produksi nasional mereka selama bulan Desember demi mendukung industri minuman anggur Australia.

IPAC terdiri atas 200-an anggota parlemen dari 19 negara dan menyebut organisasinya sebagai kelompok legislator lintas partai negara-negara demokratis yang berusaha menyusun langkah menghadapi China.

Miriam Lexmann, seorang anggota Parlemen Eropa dari Slovakia, mengundang rekan-rekannya untuk "menentang penindasan otoriter yang dilakukan Xi Jinping".

Politisi Swedia Elisabet Lann kemudian menambahkan, minum satu atau dua botol minuman anggur Australia merupakan cara memberitahu "Partai Komunis China bahwa kami tidak bisa dikerjai".

Produk minuman anggur Australia merupakan salah satu industri yang paling terpukul di tengah memburuknya hubungan bilateral antara China dan Australia.

Pekan lalu, Beijing memberlakukan tarif impor yang sangat berat, mulai dari 107 hingga 200 persen, untuk semua minuman anggur Australia.

Langkah itu diambil menyusul temuan awal penyelidikan 'anti-dumping' oleh China, yang menuduh produsen minuman anggur Australia menjual produk di bawah biaya produksi, sehingga menyebabkan "kerugian besar" bagi produsen anggur China.

Pemerintah Australia telah berkali-kali membantah tuduhan tersebut.

Kenaikan tarif impor minuman anggur diberlakukan setelah Kementerian Perdagangan China menginstruksikan kepada para importir untuk menangguhkan pesanan minuman anggur dan enam produk ekspor Australia lainnya awal bulan lalu.

Dalam seruan berupa video tersebut, Senator Kimberley Kitching dari Partai Buruh Australia mengatakan tindakan China adalah upaya "menggertak" Australia agar "meninggalkan nilai-nilainya".

"Ini bukan hanya serangan terhadap Australia. Ini serangan terhadap negara-negara bebas lainnya," kata Senator Kitching.

Belakangan,

Pukulan berat bagi Australia

Industri minuman anggur Australia memperoleh pendapatan $7 miliar atau sekitar Rp70 triliun pada tahun anggaran lalu.

Pengamat industri wine Matthew Reeves menjelaskan kepada ABC kenaikan tarif ini merupakan pukulan berat karena 36,7 persen dari wine Australia diekspor ke China.

Ia memperkirakan permintaan wine Australia di China akan anjlok dengan adanya tarif impor hingga 200 persen.

Penyelidikan 'anti-dumping' yang dilakukan pihak China sebenarnya masih berjalan, namun Kementerian Perdagangan negera itu telah mengumumkan mulai 28 November, importir wine Australia di China diwajibka membayar "uang jaminan anti-dumping".

Uang jaminan yang secara efektif sama dengan tarif impor, akan berkisar antara 107 persen hingga lebih dari 200 persen, tergantung pada produk wine tertentu.

Uang jaminan anti-dumping tersebut akan dibebankan kepada importir China yang memesan minuman anggur dalam botol berukuran 2 liter atau kurang.

Two glasses of red wine.


Produk wine Australia turut menjadi sasaran dari China dalam ketegangan hubungan dengan Australia. (Flickr: Matt Kowalczyk)

Kym Anderson, direktur Wine Economics Research Center, menjelaskan 90 impor wine di China merupakan minuman anggur merah.

Namun secara keseluruhan, minuman anggur merah dan anggur putih hanya menyumbang 4 hingga 5 persen dari konsumsi minuman beralkohol di sana.

Ia mengatakan, konsumsi minuman beralkohol di China masih didominasi minuman arak dari beras dan bir tradisional.

Konsultan industri anggur China Lu Jiang kepada ABC menjelaskan masyarakat lokal tidak selalu suka untuk minum wine.

"Industri wine China memiliki titik awal yang rendah, tidak ada tradisi minum wine, kebanyakan orang mengkonsumsi minuman keras buatan China," katanya.

Namun, seiring pertumbuhan kelas menengah di negara itu, industri wine pun telah tumbuh dalam beberapa tahun belakangan ini.

Menurut Lu Jiang, industri wine China mengalami "transformasi paksa" untuk bersaing dengan wine impor dari Eropa dan Australia dengan "keseimbangan yang lebih baik antara harga dan kualitas".

ABC/Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim.

Ikuti berita seputar hubungan China dan Australia hanya di ABC Indonesia.

(ita/ita)