Belajar dari Rumah, Masih Ada Kesenjangan Pendidikan di Indonesia?

ABC Australia - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 11:07 WIB
Jakarta -

Artikel ini diproduksi oleh ABC Indonesia

Belajar dari rumah telah menjadi bagian dari 'new normal' warga Indonesia dalam menjalani kehidupan di tengah pandemi virus corona. Namun kendala infrastruktur dan teknologi membuat adanya kesenjangan pendidikan antar daerah.

Sherly Lewerissa, warga di Ambon sudah hampir tiga bulan punya tanggung jawab tambahan di rumah.

Selain harus mengajar dengan metode online sebagai dosen di Universitas Pattimura, ia juga harus mendampingi kedua anaknya belajar dari rumah.

Putera sulungnya, Hillary de Queoljoe sekarang duduk di kelas 7 SMP Negeri 6, sementara adik Hillary, Marchella de Qoeljoe adalah murid kelas 1 Sekolah Citra Kasih, di Ambon, Maluku.

Sherly and Kids

Sherly (kiri) merasakan perbedaan metode belajar di rumah yang dijalani anaknya, Marchella, dan Hillary. (Supplied: Sherly Lewerissa)

Saat mendampingi kedua anaknya, Sherly menemukan perbedaan antara penggunaan teknologi internet di sekolah swasta dan negeri.

Hillary yang sekolah di SMP negeri tidak pernah mengalami proses belajar mengajar lewat daring, hanya menggunakan buku pelajaran dan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang diinstruksikan guru melalui aplikasi WhatsApp.

Sementara bagi adiknya, Marchella, setidaknya ada tiga pertemuan dalam sepekan lewat aplikasi Zoom, selain seratus persen materinya tersedia online.

Inovasi Anak Bangsa di Tengah Pandemi COVID

Sejumlah ilmuwan serta beberapa warga Indonesia telah menghasilkan penemuan berbasis teknologi untuk membantu tenaga kesehatan dalam menangani penularan virus corona.

Salah satu tugas yang diterima Marchella untuk pelajaran pendidikan kesehatan adalah senam mengikuti gerakan sesuai link yang disediakan.

Aktivitas ini kemudian direkam dan videonya dikirimkan kepada guru sebagai bukti tugas tersebut telah dikerjakan.

Meski mengaku tugas-tugas dari sekolah swasta lebih interaktif dan menarik, sebagai orangtua, Sherly justru merasa lebih mengalami kesulitan dalam aplikasinya.

"Semua aktivitas tersebut harus didampingi, belum lagi saya juga harus menguasai teknologi, dan bahasa pengantar di sekolahnya adalah Bahasa Inggris," tutur Sherly.

Karena masih harus bekerja sebagai dosen yang mengajar dari rumah, Sherly mengaku perlu berupaya mengatur waktu agar tanggung jawabnya dan tugas anak-anaknya terselesaikan dengan baik.

"Saya hanya takut anak-anak lama-lama bisa mulai bosan, karena memang [belajar di rumah] berbeda dengan belajar di sekolah," katanya.

PIC TEASER Berserah Diri Pada Alam

'Tak menuntut murid'

Di Kalimantan Barat, Vincent dan Wilson yang duduk di sekolah dasar belajar dari rumah lewat tayangan program TVRI, yang juga menampilkan pertanyaan-pertanyaan yang bisa mereka jawab.

Tapi menurut ibu mereka, jawaban tidak dikumpulkan kepada guru. Belum lagi jika mereka tidak mau menonton, sehingga kegiatan belajar di rumah tidak berlangsung lama.

"Rata-rata anaknya tidak mau. Namanya nonton TV, anak-anak maunya nonton film. Bukan pelajaran."

Meski memahami keterbatasan aktivitas akibat pandemi COVID-19, sebagai orangtua, Siau Tan merasa khawatir anak-anaknya akan tertinggal jauh dari siswa di sekolah swasta.

Pertanyaan Seputar Virus Corona

Namun banyak guru yang sudah menyadari belajar dari rumah sebagai sebuah 'new normal' yang harus dilakukan, setidaknya selama beberapa bulan ke depan.

"Kita tidak terlalu menuntut siswa, tugas yang diberikan lebih sederhana, karena kita tahu keadaan mereka," ujar Siti, guru madrasah di Aceh yang sudah mengajar dari rumah sejak pertengahan Maret.

Menurutnya ada hal lain yang masih bisa dipelajari saat ini oleh anak-anak di rumah, jika materi pembelajaran tidak dapat efektif dilakukan.

"Salah satunya adalah informasi seputar virus corona dan yang paling penting adalah penguatan karakter," tambahnya.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di dunia lewat situs ABC Indonesia

(ita/ita)