Kenaikan Kasus Melambat, Australia Optimis Atasi Virus Corona

ABC Australia - detikNews
Selasa, 07 Apr 2020 06:24 WIB
Canberra -

Pejabat Medis Tertinggi di Australia Profesor Brendan Murphy menyatakan pihaknya sangat yakin bisa mengatasi COVID-19. Ia mengatakan Australia akan terhindar dari kondisi COVID-19 seperti yang terjadi di Italia dan Amerika Serikat.

Profesor Murphy menyatakan posisi Australia sudah tepat, meski jumlah kasus COVID-19 terus meningkat tapi laju pertumbuhannya kini melambat.

Tidak lama setelah keterangan pers Profesor Murphy yang disampaikan hari Minggu kemarin (5/04), seorang penumpang kapal pesiar Ruby Princess di Queensland meninggal dunia.

Total warga di Australia yang meninggal akibat COVID-19 kini sudah mencapai 40 orang.

Brendan Murphy stands at a podium in a courtyard with an Australian flag behind him

Pejabat medis tertinggi di Australia Brendan Murphy menyatakan pihaknya sangat yakin bisa mengatasi COVID-19 dan menghindarkan negara ini dari kondisi seperti yang dialami Italia dan AS. (ABC News: Tom Maddocks)

Dalam 24 jam hingga 8:00 malam hari Minggu, ada 57 kasus baru di NSW, sehingga totalnya menjadi 2.637 yang positif.

"Tampaknya tindakan kita mencari kasus dan melacak kontaknya telah berhasil," katanya.

Dr McAnulty menambahkan, meski penurunan angka infeksi terbaru di NSW cukup menggembirakan, namun jumlah tes yang dilakukan pada akhir pekan mengalami penurunan.

NSW Health mendorong para dokter dan klinik untuk memperluas tes COVID-19 ke kawasan pedalaman yang sudah terjadi penularan lokal.

"Jadi orang dengan gejala infeksi pernapasan akut, batuk, sesak napas, sakit tenggorokan atau demam harus pergi ke dokter atau klinik untuk dites," kata Dr McAnulty.

Isolasi paling cepat berakhir Juli

Banyak warga Australia kini telah memilih untuk tinggal dan bekerja di rumah.

Lalu, sampai kapan isolasi mandiri yang dijalankan warga Australia akan berakhir?

Menurut suatu pemodelan yang dilakukan University of Sydney, paling cepat anjuran diam di rumah sampai akhir Juli, jika langkah-langkah yang dilakukan sekarang tetap berjalan.

Model matematis, seperti yang pernah diunggah di Facebook ABC Indonesia menunjukkan langkah 'social distancing' yang ketat mulai menampakkan hasil dan 90 persen warga telah mematuhinya.

Mengurangi penerapan 'social distancing', katanya, akan menyebabkan jumlah kasus melonjak secara dramatis.

Disebutkan, dengan tetap menerapkan langkah ketat saat ini, Australia seharusnya sudah mendekati masa puncak.

Profesor Mikhail Prokopenko dari University of Sydney membandingkan model ini dengan apa yang terjadi di dunia nyata.

Menurutnya, model ini menunjukkan sekitar 90 persen warga Australia patuh dengan anjuran social distancing.

Menurut pemodelan ini, jika tingkat kepatuhan tetap 90 persen, maka masa puncak kasus virus corona seharusnya sudah terjadi sekarang.

Namun ekor grafik itu menunjukkan apa yang bisa terjadi jika langkah-langkah 'social distancing' dicabut lebih awal.

Dampaknya bisa berupa peningkatan kasus yang cepat.

Pemerintah Australia sendiri meminta warga untuk mengantisipasi perubahan besar dalam kehidupan mereka setidaknya untuk tiga bulan.

Profesor Prokopenko mengatakan perlunya pengujian yang lebih baik dan lebih efisien serta penelusuran kasus yang baik.

"Bahkan orang tanpa gejala pun sebaiknya dites untuk segera menangkap semua kasus yang ada," katanya.

Sejauh ini Australia telah memesan 1,5 juta alat tes untuk mendeteksi mereka yang terinfeksi virus corona.

Bagaimana pemodelan dilakukan?

Peneliti University of Sydney membuat simulasi dari seluruh populasi dengan menggunakan informasi lokasi tempat tinggal, jumlah orang dewasa dan anak-anak di setiap rumah, bagaimana warga bergerak di kota mereka, dan rincian lainnya seperti lokasi sekolah dan bandara.

Tim ini kemudian menambahkan kasus COVID-19 ke dalam simulasi itu, mengamati bagaimana penyebarannya, dan bereksperimen bagaimana langkah-langkah berbeda dapat mengubah kenaikan kasus.

Pemodelan dibuat oleh bagian Penyakit Menular dan Biosecurity di University of Sydney dan telah dipublikasikan, meski belum melalui proses 'peer-review'.

Dalam pemodelan ini, 'social distancing' merujuk pada orang yang tinggal di rumah, tidak melakukan kontak fisik dengan rekan kerja atau orang lain yang tidak tinggal satu rumah.

Simulasi ini mengambil patokan awal sejak 24 Maret, ketika Perdana Menteri Scott Morrison meminta warga Australia untuk tinggal di rumah dan menghindari kerumunan.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

(ita/ita)