Tingkat Kematian Corona Indonesia Tertinggi di Dunia, Lantas ke Mana Arahnya?

ABC Australia - detikNews
Selasa, 24 Mar 2020 17:40 WIB
Jakarta -

Di tengah pandemi virus corona, Indonesia mencatat jumlah 'fatality rate', atau tingkat kematian, tertinggi di dunia. Sejumlah ilmuwan Indonesia berusaha membaca angka-angka dari data yang mereka dapatkan untuk memproyeksi dan mengantisipasi situasi ke depan.

Sejak awal Maret lalu hingga laporan ini diturunkan, Indonesia telah mencatat lebih dari 579 kasus COVID-19.

Dari data terakhir yang diakses Senin malam (23/03), 49 diantaranya meninggal dunia dan hampir 30 pasien telah dinyatakan sembuh.

Salah satu lembaga yang ikut menganalisis wabah corona di Indonesia adalah 'Eijkman-Oxford Clinical Research Unit' (EOCRU) yang menggunakan metode urutan geometri.

Metode ini dipakai untuk melihat berapa lama jumlah kasus positif corona di Indonesia bertambah dua kali lipat.

Puncaknya diperkirakan akhir April 2020

Untuk Indonesia, jumlah kasus COVID-19 meningkat dua kali lipat dalam tiga hari, melonjak dari 172 diagnosis positif pada 17 Maret menjadi 369 pada hari Jumat lalu (20/03).

Sementara waktu penggandaan untuk Italia dan Iran, yang saat ini memiliki angka kematian COVID-19 tertinggi, masing-masing adalah lima dan tujuh hari.

"Semakin pendek waktu penggandaan, semakin berbahaya," kata Iqbal Ridzi Fahdri Elyazar dari EOCRU.

Berdasarkan perhitungan EOCRU, Indonesia bisa menghadapi maksimal 71.000 COVID-19 kasus pada akhir April.

Prediksi ini, kata Iqbal, dimaksudkan agar pemerintah mengambil langkah besar dan efektif untuk menangani wabah, termasuk kesadaran pentingnya social distancing.

Tren di Indonesia mengarah ke negara mana?

Lembaga lain yang juga ikut mencermati dan menghitung kondisi COVID-19 di Indonesia adalah Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) Institut Teknologi Bandung (ITB).

Para ilmuwan P2MS ITB membangun model representasi jumlah kasus COVID-19 dengan menggunakan model Richard's Curve.

"Pendekatan model matematika ini digunakan untuk secara kasar memproyeksikan puncak dan akumulasi kasus yang bertujuan untuk meningkatkan perhatian semua elemen masyarakat," kata Dr Nuning Nuraini, salah satu peneliti yang terlibat dalam riset ini kepada Hellena Souisa dari ABC News.

Dr Nuning Nuraini

Dr Nuning Nuraini mengatakan situasi di Indonesia sekarang mirip dengan model Kurva Amerika Serikat. (Supplied: ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak)

Model ini terbukti berhasil dalam memprediksi awal, akhir, dan puncak penyakit SARS endemik di Hong Kong pada tahun 2003.

Kurva Richard kemudian diuji pada berbagai laporan kasus COVID-19 dari berbagai negara, seperti China, Iran, Italia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Secara matematis, temuan awal menunjukkan model Kurva Korea Selatan sebagai yang paling mendekati dengan data kasus terlapor COVID-19 di Indonesia.

Namun menurut Nuning, kurva yang mendekati Korea Selatan ini hanya mengacu pada data sampai 14 Maret 2020.

"Berdasarkan data hingga 14 Maret melalui pemodelan ini, tren COVID-19 di Indonesia mirip dengan Korea Selatan, tetapi setelah jumlah kasus menjadi 369, trennya menjadi lebih mirip dengan di Amerika Serikat," kata Nuning.

Nuning menambahkan, faktor data yang sangat dinamis akan mempengaruhi proyeksi waktu puncak dan akumulasi data, apalagi usai pelaksanaan rapid test corona.

"Saya curiga setelah tes cepat diterapkan, hasilnya bisa melonjak lagi. Karena itu, kami masih membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyesuaikan hasil proyeksi, mengikuti data terbaru."

Belakangan ITB memperbaharui proyeksinya mengikuti data terbaru.

Jumlah kasus baru dengan menggunakan data sampai 21 Maret diperkirakan bisa mencapai 2.000 pasien per hari.

Sementara jumlah total kasus positif COVID-19 bisa mencapai 60.000 kasus sampai akhir Mei 2020.

'Fatality rate' tertinggi di dunia

Sejalan dengan Nuning dan Iqbal, Johny Setiawan, ilmuwan Indonesia yang kini menetap di Berlin, Jerman, juga membangun model matematika untuk memproyeksi COVID-19 di Indonesia.

Proyeksinya juga didasarkan pada data jumlah kasus dan kematian yang dilaporkan dan terkonfirmasi.

Selain proyeksi, Johny juga menyertakan jendela masa krisis yang bisa menjadi titik balik dalam situasi seperti sekarang.

"[Periode masa krisis] ini sangat menentukan apakah kemudian angkanya akan terus naik, atau terkendali," kata Johny.

Dalam masa krisis itulah, baik pemerintah maupun masyarakat sama-sama memegang kendali intervensi untuk bisa membalikkan keadaan melalui banyak hal, misalnya 'social distancing'.

"Ibarat mobil yang sedang melaju kencang, critical period ini adalah waktu di mana kita harus menginjak rem."

"Remnya bisa apa saja, tapi yang jelas harus dilakukan dengan cepat oleh pemerintah dan rakyat," kata Johny.

Johny juga menganalisis 'fatality rate' Indonesia dalam kasus pandemi corona.

Indonesia sekarang memiliki fatality rate 9,3 persen dari wabah corona, tertinggi di dunia, setelah jumlah kematian meningkat hingga akhir pekan lalu, menjadi 48 kasus dari total 514 kasus yang terkonfirmasi.

"Tingginya fatality rate ini merupakan indikasi bahwa sebenarnya yang terinfeksi lebih banyak dari angka yang dilaporkan," kata Johny.

"Salah satu indikasi yang membuktikannya adalah adanya kasus di mana orang dalam kasus dalam pengawasan kemudian meninggal dan baru diketahui positif corona setelah meninggal," tambah Johny.

Argumen Johny ini mengingatkan kita juga pada beberapa kasus COVID-19 yang sempat tidak terdeteksi, misalnya di Cianjur dan Denpasar.

Direktur Medik dan Keperawatan RSUP Sanglah Denpasar, Ketut Sudartana, akhirnya membenarkan penyebab kematian seorang wisatawan asing, yang ditemukan tewas di atas motor, hari Minggu (15/03).

"Ya, PCR confirm Covid-19," ujarnya, Sabtu (21/3/2020).

Padahal, sebelumnya Gubernur Bali, Wayan Koster membantahnya dan mengatakan penyebabnya adalah minuman keras jenis tuak.

"Itu tidak ada kaitan dengan Corona (Covid-19). Itu sebelumnya, saya dapat fotonya, ternyata habis minum tuak. Mungkin pening jalannya, di sepeda motor jatuh. Orang teledor dikaitkan dengan Corona (Covid-19)," kata Koster saat memberikan keterangan resmi di rumah dinasnya pada Senin (16/3/2020).

Ini bukan pertama kalinya pemerintah tergesa-gesa memberi keterangan yang di kemudian hari terbukti salah.

Seorang warga Cianjur yang meninggal dunia dan dinyatakan negatif COVID-19, belakangan diakui Gubernur Jawa Barat positif.

"Satu warga Cianjur yang meninggal dunia yang dulu disampaikan Bupati Cianjur, ternyata data terakhir yang kami terima pasien positif," kata Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, Minggu (15/3/2020).

Jumlah yang tak terdeteksi dan tes yang kurang

Tingkat kematian yang tinggi di Indonesia juga menunjukkan ada lebih banyak kasus daripada yang dilaporkan, karena tidak cukup banyak tes yang dilakukan.

Angka prediksi dan proyeksi yang dihitung oleh para ilmuwan sebelumnya juga hanya mengacu pada data yang dilaporkan.

Berkaca dari negara lain seperti China dan Jepang dengan angka kematian 3 persen, maka menurut Johny kemungkinan besar jumlah kasus positif corona yang ada sebenarnya adalah 1.700 kasus.

Sementara itu Dr Makhyan Jibril dari University College London menggunakan pemodelan epidiemologi milik Tomas Pueyo untuk menghitung jumlah estimasi penderita COVID-19 di Indonesia.

Dari model tersebut, Makhyan menemukan formula bahwa jumlah penderita COVID-19 di lapangan sebenarnya 27 kali lebih banyak dari jumlah kasus yang dilaporkan.

Itu berarti jika per hari Senin (23/03) malam jumlah kasus positif yang tercatat adalah 579, maka sesungguhnya di Indonesia ada 15.633 penderita COVID-19.

Indonesia mengkonfirmasi dua kasus pertama coronavirus pada 2 Maret, setelah kecurigaan berminggu-minggu bahwa virus itu sudah menyebar dengan cepat dan tidak terdeteksi.

Sampai akhir pekan lalu tercatat hanya 1.727 tes yang telah dilakukan.

Mengacu pada populasi Indonesia, ini berarti dalam tiap 156.000 orang, hanya dilakukan satu tes, atau setara dengan sekitar 160 tes untuk seluruh populasi Australia.

Saat masyarakat masih kesulitan untuk mengikuti tes, sebanyak 575 anggota DPR beserta anggota keluarganya sudah dijadwalkan akan mengikuti rapid test tersebut hari Jumat mendatang.

Sekjen DPR Indra Iskandar mengatakan, kemungkinan terdapat lebih dari 2.000 orang yang akan mengikuti rapid test tersebut.

"Kan jumlah anggota dewan 575 kalau kali 4 saja (total anggota keluarga), rata-rata sekitar di atas 2.000 keseluruhan dengan pembantu dan driver mungkin," kata Indra, Senin (23/03).

Korban terus bertambah, termasuk petugas medis

Sampai hari Senin (23/03) jumlah kasus positif corona di Indonesia tercatat sebanyak 579 kasus.

Dari jumlah tersebut, 30 orang dinyatakan sembuh sementara 49 lainnya meninggal dunia.

Dari 48 kasus yang meninggal dunia, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat lima orang di antaranya berprofesi sebagai dokter.

"IDI berduka cita yang amat dalam atas berpulangnya sejawat-sejawat anggota IDI sebagai korban Pandemi Covid-19."

Demikian keterangan dalam unggahan foto enam dokter di akun media sosial Instagram milik IDI.

Enam dokter itu adalah, Hadio Ali, Djoko Judodjoko, Laurentius, Adi Mirsaputra, Ucok Martin, dan Toni D. Silitonga

Dari enam dokter tersebut, diketahui lima orang dokter meninggal dunia karena COVID-19, sementara dr Toni Silitonga karena serangan jantung akibat kelelahan dalam menangani kasus COVID-19 di Jawa Barat.

Menurut Sekjen IDI Adib Khumaidi, salah satu faktor lain yang menjadi sebab kematian dokter IDI diduga karena kurangnya jumlah Alat Pelindung Diri (APD), apalagi sekarang persediaannya sangat minim.

Kelengkapan APD ini, menurut Adib, harus diperhatikan bukan saja untuk rumah sakit rujukan, karena dokter di rumah sakit bukan rujukan juga mungkin menghadapi pasien positif corona.

"APD yang kurang itu bukan karena dia merawat pasien di rumah sakit rujukan saja, tapi di rumah sakit lainnya, " kata Adib seperti yang dilansir CNN Indonesia (22/03).

"Sebelum dirujuk rumah sakit rujukan itu kan kita sudah berhadapan dengan pasien, yang bisa saja dia positif," tambahnya.

Selain lima orang dokter yang meninggal dunia, IDI menyebut sebanyak 32 tenaga kesehatan lainnya juga terpapar COVID-19 akibat merawat pasien.

Apakah tindakan pemerintah bantu cegah penyebaran?

Indonesia sejauh ini telah mengambil langkah-langkah terbatas untuk mencegah memburuknya epidemi.

Misalnya, dengan melarang wisatawan yang datang dari negara-negara dengan kasus corona yang besar seperti Italia, China, Iran dan Korea Selatan.

Namun Presiden Joko Widodo terkesan mengesampingkan pilihan mengunci Jakarta, tempat sebagian besar kasus dan angka kematian dilaporkan.

Meski tidak diberlakukan jam malam di Jakarta, polisi nasional telah memerintahkan penutupan acara keagamaan massal, serta kegiatan olahraga dan hiburan.

Gubernur Jakarta Anies Baswedan telah menyatakan keadaan darurat di ibukota, dan mendesak kantor-kantor untuk tutup, orang-orang untuk bekerja atau belajar dari rumah.

Pemerintah telah menunjuk lebih dari 130 rumah sakit dan 161 rumah sakit militer dan kepolisian untuk merawat pasien COVID-16.

Mulai Senin (23/03) kampung atlet Asian Games 2018 telah diubah menjadi rumah sakit darurat untuk setidaknya 4.000 pasien.

Jokowi juga telah memesan beberapa juta dosis obat antimalaria chloroquine dan Avigan anti-virus, meskipun tidak ada bukti bahwa obat ini efektif menyembuhkan COVID-19.

Mengingat jeda antara kasus infeksi awal dan kematian, mungkin perlu waktu untuk melihat apakah upaya pemerintah ini mampu meredam penyebaran virus.

Apalagi pemerintah juga kerap mengirim sinyal yang salah sehingga masyarakat masih belum terlalu menganggap serius wabah ini.

Misalnya dengan seremonial besar-besaran saat 3 pasien pertama positif COVI-19 dinyatakan sembuh.

Besar kemungkinan Indonesia akan kewalahan menghadapi beban berat sistem kesehatan akibat peningkatan kasus dari pandemi global COVID-19.

(nvc/nvc)