Australia Ubah Sistem Pengupahan, Petani dan Pemetik Buah Keberatan

ABC Australia - detikNews
Jumat, 17 Jan 2020 13:37 WIB
Canberra -

Petani, yang sekaligus pemilik perkebunan buah dan sayur di Australia, serta beberapa pekerjanya mengaku kehilangan pendapatan, akibat perubahan sistem upah.

Sejak April 2019, pemilik kebun dan petani harus membayar upah lembur pada pekerja kasual, jika mereka bekerja lebih dari 38 jam seminggu.

Mereka juga harus membayar penalti, atau tambahan uang, kepada mereka yang bekerja lebih dari 12 sehari atau saat kerja malam.

Petani sebenarnya sudah menyampaikan keberatan sejak rencana ini digulirkan di tahun 2018, dengan memperingatkan pemerintah jika beberapa dari mereka terancam keluar dari bisnis.

Industri mangga di Kawasan Australia Utara, yang bernilai lebih dari AU$ 90 juta, menurut Pemerintah, baru saja memasuki musim panen pertama sejak aturan diberlakukan.

Salah satu perusahaan buah terbesar di Australia, Piata Farms, mengatakan mereka mengalami kerugian dua kali sejak adanya perubahan aturan upah, karena di musim panen membutuhkan jam kerja lebih panjang.

"Kami harus membayar tambahan upah 15 persen untuk pemetik yang kerja di malam hari," kata Stephen Curr dari perusahaan tersebut.

Menurutnya kerja di malam hari menjadi pilihan yang lebih baik bagi para petani dan buah mangga.

"Uang tambahan itu harus dikeluarkan dari biaya kami sendiri, karena harga untuk konsumen tidak jadi naik 15 persen, sehingga akhirnya petani yang terkena dampaknya".

"Kami memotong gaji sendiri, untuk bisa diberikan pada pekerja pemetik."

ABC telah berbicara kepada banyak petani dan pemilik kebun di Kawasan Australia Utara dan mereka mengaku harus mengubah jam kerja, untuk menghindari pemetiknya bekerja lembur atau lebih lama.

a man standing in the door of a truck next to a mango tree.

Pemetik buah asal Timor Leste, Calisto Dos Santos De Jesus saat berada di perkebunan mangga di Darwin. (ABC Rural: Daniel Fitzgerald)

Seorang politisi dari Partai Buruh, Murray Watt, mengatakan masalah bayaran lembur sebenarnya tidak akan terjadi, jika ada banyak pekerja yang tersedia di industri hortikultur Australia.

"Masalah utamanya adalah bagaimana mendapatkan jumlah pasti orang yang dibutuhkan untuk memetik buah," ujarnya.

"Saya rasa orang kerja lebih dari 38 jam sehari saat cuaca panas dan lembab sudah selayaknya mendapat uang tambahan."

Tapi Stephen dari perusahaan pertanian Piata Farms menolak pernyataan Murray.

Menurutnya, saat pemilik kebun kesulitan mendapat warga Australia sebagai pemetik buah, mereka bisa mencari tenaga kerja dari negara-negara Pasifik lewat Program Pekerja Musiman.

"Kita mendatangkan 50 atau 60 pekerja, yang hanya diperlukan selama enam sampai delapan minggu, artinya kita butuh banyak akomodasi dalam waktu singkat," ujarnya.

Baca laporannya dalam Bahasa Inggris di sini.


Simak Video "Australia Selamatkan Pinus Purba dari Kebakaran Hutan"

[Gambas:Video 20detik]

(ita/ita)