Marak Tawaran Jasa Membuat Tugas Kuliah Bagi Mahasiswa China di Australia

Marak Tawaran Jasa Membuat Tugas Kuliah Bagi Mahasiswa China di Australia

ABC Australia - detikNews
Senin, 02 Des 2019 18:24 WIB
Melbourne -

Mahasiswi asal China Joyce Fung menghabiskan waktu selama enam bulan untuk menelusuri salah satu sisi gelap yang terjadi dalam industri pendidikan di Australia. Yaitu, maraknya jasa pembuatan tugas kuliah bagi mahasiswa asal China, yang kemampuan bahasa Inggrisnya tidak memadai. Berikut ulasannya.

Jasa Layanan Pembuatan Esai
  • Kebanyakan layanan mengatakan jasa mereka 100 persen tidak bisa dideteksi
  • Beberapa jasa memasang tarif lebih mahal bagi esai yang lebih bagus kualitasnya
  • Australia sedang merancang UU baru untuk menangkal praktek kecurangan seperti ini

Di sebuah toilet kampus Monash University di Melbourne, saya pernah melihat iklan dalam bahasa Mandarin menawarkan jasa membuatkan esai yang ditempel di pintu.

Setiap kali saya melihat di media sosial China, iklan serupa juga bermunculan.

Mahasiswa internasional yang kesulitan dengan bahasa Inggris bisa membayar sehingga tugas esai mereka bisa dibuatkan oleh 'penulis gelap.'

Dua setengah tahun lalu, saya tiba di Melbourne dari Shanghai untuk melanjutkan S2 di bidang jurnalistik.

Dengan mutu pendidikan yang tinggi, saya pada awalnya menduga lingkungan pendidikan di sini akan terbuka dan penuh kejujuran.

Namun yang saya temukan adalah adanya industri yang menawarkan jasa-jasa untuk membuatkan tugas-tugas kuliah.

A ghost writing ad written in Chinese is stuck to the back of a toilet door.

Tawaran pembuatan esai dalam bahasa Mandarin : Kami sudah melayani selama 10 tahun, angka kelulusan tinggi, 100 persen bukan plagiat (ABC News: Joyce Fung)


Meski banyak universitas di Australia menggunakan perangkat yang tersedia di internet Turnitin, untuk mengecek apakah ada tindakan plagiat dalam karya mahasiswa, mereka tidak bisa mengecek apakah tugas itu dikerjakan orang lain.

Ai adalah seorang mahasiswi di Melbourne yang sedang belajar S1.

Dia berasal dari China dan mengatakan alasannya meminta orang lain untuk mengerjakan tugas adalah karena dia merasa tidak bagus dalam menulis dalam bahasa Inggris.

Namun alasan terbesarnya adalah karena dia 'malas.'

Dia mengatakan sejauh ini sudah menghabiskan uang Rp 7 juta untuk meminta orang lain mengerjakan empat tugas, dan selama ini belum pernah ketahuan.

"Mahasiswa yang saya kenal, hampir semua diantara mereka pernah menggunakan jasa ini dan mereka juga tidak pernah ketahuan," katanya.

"Ini sudah menjadi budaya di kalangan mahasiswa internasional."

Wakil Rektor Universitas Deakin di Melbourne Liz Johnson dalam reaksinya mengatakan bahwa dia kecewa mendengar adanya mahasiswa yang berusaha berbuat curang, dengan meminta orang lain mengerjakan tugas.

Dia mengatakan universitasnya secara aktif berusaha menyelidiki kemungkinan adanya tindakan curang seperti itu.

"Realitasnya adalah tidak ada universitas yang kebal dari kemungkinan mahasiswa melakukan kecurangan, apakah mahasiswa itu dibantu pihak ketiga atau tidak," kata Professor Johnson.

"Kami bekerja sama dengan asosiasi mahasiswa untuk menghilangkan mitos mengenai kecurangan, dan bahwa tindakan tersebut tidak akan bisa dideteksi," katanya.

Lihat artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris di sini



(nvc/nvc)