detikNews
Senin 28 Oktober 2019, 14:37 WIB

'Saya Juga Diselundupkan Masuk ke Eropa Menggunakan Truk dari Afghanistan ke Austria'

ABC Australia - detikNews
Saya Juga Diselundupkan Masuk ke Eropa Menggunakan Truk dari Afghanistan ke Austria
London -

Tewasnya hampir 40 orang - sebagian besar warga Vietnam di Inggris pekan lalu - mengingatkan Nasir Ahmad akan pengalaman yang sama yang dilakukannya di tahun 2015.

Berikut kisah Nasir Ahmad yang harus meninggalkan negerinya Afghanistan, dan sekarang tinggal di Austria, perjalanan berhari-hari di atas truk.

Empat tahun lalu, saya juga diseludupkan masuk ke Eropa menggunakan truk bersama keluarga, dan melihat wanita dan anak-anak mengalami kesulitan bernapas di dalam truk yang tertutup.

Ketika mendengar cerita mengenai puluhan orang yang tewas dalam sebuah truk di Inggris baru-baru ini, saya ingat lagi perjalanan saya sendiri dari Afghanistan ke Austria.

Kami dengan mudah bisa menjadi korban seperti mereka. Istri saya, saya dan anak-anak kami hanya bisa menangis mendengar cerita mereka.

Nasir Ahmad Ahmani, his wife Nasrin (39) and six of their seven children.

Nasir Ahmad Ahmani dan istrinya Nasrin (39) dan enam anak mereka sekarang tinggal di Austria. (Reuters, file photo)

"Kami diterima dengan baik di Yunani"

Keesokan harinya kami naik truk yang sama, dan berjalan selama 20 jam untuk mencapai Turki.

Kami harus menyeberangi danau penuh ilalang dengan batu sebagai jalan.

Diperlukan waktu lima jam untuk menyeberang, dan saya harus menggendong salah seorang putri saya yang kakinya cedera.

Dua kali istri saya jatuh ke dalam danau, semua kami kedinginan karena hujan, dan basah.

Kami kehilangan seluruh tas bawaan kami dan anak-anak menangis.

Ketika berhasil menyeberang kami harus berlari menghindari polisi dan kemudian 80 diantara kami naik truk lagi.

Setelah empat jam lagi kami sampai di sebuah desa di Turki.

Di situ kami belum bisa merasa lega, dan bahkan situasinya lebih buruk lagi

Kami dibawa ke sebuah rumah dengan hanya tiga kamar, dua kamar mandi, dan sekitar 300 orang di dalamnya.

Kami tidak diijinkan meninggalkan rumah tersebut sampai para penyeludup manusia ini mendapat bayaran mereka.

Saya beruntung karena setelah tiga hari sepupu saya membayar sehingga kami bebas.

Perjalanan berikutnya adalah ke Yunani.

Kali ini kami naik sebuah perahu karet kecil berisi 80 orang.

Saya harus membawa anak-anak satu per satu, lari dalam air yang semakin lama semakin dalam, dan anak-anak di atas kepala agar mereka tidak tenggelam.

Saya kadang masih bermimpi buruk akan hal ini.

Setibanya di Yunani semuanya berubah.

Tiba-tiba kami disambut dengan baik.

Ada wartawan, ada orang-orang lain yang mau membantu kami.

Kami mendapatkan pakaian.

Di Kabul saya bekerja dengan organisasi HAM namun baru di Yunani saya belajar apa sebenarnya arti hak asasi manusia.

Dari Yunani menuju ke Austria lebih gampang.

Perbatasan terbuka dan saya sekarang sudah tinggal di sini selama hampir empat tahun bersama istri dan anak-anak.

Ini fase baru dalam hidup saya.

Saya harus mulai dari nol: negeri baru, bahasa baru, budaya baru.

Tidak ada teman, tidak ada sanak keluarga. Sendirian dan banyak masalah-masalah lain.

Namun saya belajar bahasa di sini. Dan saya punya pekerjaan. Saya bisa melakukan semua ini.

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com