detikNews
Sabtu 21 September 2019, 15:13 WIB

Warga Indonesia yang Banting Setir dan Jadi Sopir Bus di Australia

ABC Australia - detikNews
Warga Indonesia yang Banting Setir dan Jadi Sopir Bus di Australia
Canberra -

Tidak sedikit warga Indonesia yang pergi ke Australia untuk mengadu nasib sebagai mahasiswa ataupun berharap untuk bekerja di bidang tertentu sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki.

Menjadi sopir bus di Australia
  • Mantan kepala keuangan perusahaan di Jakarta akui jadi sopir bus beri waktu luang dan cukup uang
  • Mantan koki hotel bintang lima suka jadi sopir bus karena lebih rileks
  • Pekerjaan sopir bus tuai reaksi kurang baik dari teman dan keluarga di Indonesia

Namun bagi sebagian, menduduki posisi pemimpin ataupun pekerjaan yang terkesan "mewah" justru mendatangkan rasa lelah dan tidak puas.

Bagaimana kisah warga Indonesia yang sudah memiliki jabatan "bergengsi" namun justru banting setir dan bekerja sebagai sopir bus di Australia?

Edwin Kusuma dan Rita Gunawan adalah sepasang suami istri asal Indonesia yang bekerja sebagai sopir bus untuk perusahaan transportasi di Sydney, Australia bernama Busways.

Sebelum mengadu nasib di negara tetangga, Edwin pernah bekerja sebagai di bidang IT di Bank Indonesia di Jakarta selama delapan tahun.

Sedangkan, juga di Jakarta dengan jangka waktu yang sama, Rita pernah menduduki jabatan sebagai kepala keuangan perusahaan distributor listrik sebelum akhirnya pindah ke Australia di tahun 2010.

Rita Gunawan

"Tidak perlu pintar secara akademik untuk bisa mempunyai kehidupan layak," kata Rita Gunawan. (Foto: supplied)

Teman dan keluarga terkejut

Selain tantangan, Rita dan Edwin serta Charles harus menghadapi reaksi dari teman-teman dan anggota keluarga mereka di Indonesia.

Rita yang kini memegang izin tinggal Warga Tetap Australia pernah menerima reaksi yang dilihatnya bersifat "meremehkan" di samping dari reaksi positif beberapa anggota keluarga.

"Pandangan keluarga sebagian kaget, sebagian kagum dan ada juga yang meremehkan pekerjaan kami sebagai pekerjaan yang memalukan leluhur."

Seperti keluarga Rita, kebanyakan teman-teman Charles di Indonesia juga terkejut mengetahui pekerjaannya di Australia. Keluarganya namun tidak memberi tanggapan demikian.

"Teman-teman melihat [pekerjaan saya] pasti terkejut. Mereka berkata, 'Hanya jadi sopir bus di Australia?" tapi kan mereka tidak tahu uang [yang dihasilkan] seperti apa," kata Charles.

"Kalau keluarga sih tidak masalah. Istri pun tidak masalah yang penting saya senang."

Laki-laki yang pindah ke Australia demi kualitas pendidikan anak-anaknya itu mengatakan meski bekerja sebagai sopir bus, ia tetap dapat memiliki kualitas hidup yang baik di negara tersebut.

"Kalau orang di Indonesia melihatnya begitu. Sedangkan di Australia kita kerja sebagai pekerja penuh waktu bisa membayar biaya hidup di sini. Normal, maksudnya."

"Contoh, saya sebagai sopir bus memiliki total waktu libur dalam satu tahun sebanyak sembilan minggu lamanya yang adalah lebih dari cukup. Gaya hidupnya juga tidak kalah. Walau kerja sebagai sopir tetap bisa liburan dan jalan-jalan."

"Sedangkan di Indonesia [bila menjadi sopir bus] makan saja belum tentu cukup." tambahnya.

Rita melihat reaksi tidak menyenangkan dari beberapa teman ini sebagai inspirasi bagi dirinya beserta suami untuk selalu melangkah ke depan.

Prinsip ini mereka genggam melihat perjuangan yang harus mereka lalui saat hendak pergi ke Australia, saat Rita dan suaminya tidak punya modal untuk berangkat dan akhirnya harus menjual rumah dan seisinya yang saat itu hanya cukup membayar semester pertama tiket asuransi.

"Tapi buat kami cemoohan justru cambukan untuk membuktikan kamu bisa maju dan tentu saja punya kehidupan yang lebih baik," kata Rita yang saat ini telah memiliki rumah sendiri dan tinggal bersama suami, anak-anak dan orangtuanya.

"Setelah tiga sampai enam bulan [menjadi sopir bus], semua jauh lebih mudah. Kami merasa modal utama menjadi sopir bus adalah untuk tidak mudah menyerah."

Siimak berita-berita lainnya dari ABC Indonesia




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com