detikNews
Jumat 20 September 2019, 14:51 WIB

Benci Payudaranya, Penyanyi Melbourne Lakukan Operasi Untuk Menghilangkannya

ABC Australia - detikNews
Benci Payudaranya, Penyanyi Melbourne Lakukan Operasi Untuk Menghilangkannya
Melbourne -

Payudara bagi banyak wanita dipandang sebagai sumber kepercayaan diri dan kecantikan. Tidak sedikit wanita yang rela mengeluarkan uang cukup besar untuk memperindah payudaranya. Namun seorang wanita di Melbourne justru sangat benci dengan payudara, sehingga ia sengaja menghilangkan organ kewanitaannya itu.

Selina JenkinsMasektomi tanpa alasan medis:
  • Selina Jenkins memiliki mastektomi ganda penuh sukarela, yang mengangkat semua jaringan payudaranya
  • Penyanyi ini menampilkan penampilan fisik barunya di sebuah pertunjukan kabaret bernama Boobs di Melbourne
  • Jenkins harus ke Florida di Amerika Serikat untuk melakukan operasi pengangkatan payudara

Selina Jenkins, penyanyi dan penulis lagu asal Melbourne menganggap payudara sebagai organ yang mengganggu.

Ia mengibaratkan payudara miliknya sebagai tamu tidak diundang yang menyusahkan hidupnya.

Oleh karena itu meski tidak mengidap kanker, tidak hendak berubah menjadi transgender atau lainnya, ia nekat memutuskan untuk menghilangkan organ tersebut dari tubuhnya.

Pada usia 31 tahun ia melakukan operasi pengangkatan payudara atau masektomi ganda yang mengangkat seluruh jaringan payudaranya dengan hanya menyisakan bagian putingnya saja.

Tujuh tahun setelah menjalani operasi itu ia mengaku semakin mencintai tubuhnya saat ini.

"Ini adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat dalam hidup saya," tuturnya kepada ABC.

"Saya merasa demikian setiap hari, waktu mandi, ketika ganti baju atau ketika sedang bercermin, atau ketika melakukan gerakan yoga," katanya.

Tidak nyaman dengan payudara

Jenkins mengaku sudah merasa tidak nyaman dengan sepasang payudara di dadanya sejak dia masih remaja.

"Saya merasakan itu sejak payudara saya semacam menyembul begitu saja ketika saya berusia 12 tahun, dan saya merasa keberadaannya tidak pas di tubuh saya," ungkapnya.

"Ketika masih anak-anak, saya mengira, adalah sebuah kesalahan bagi seseorang untuk memiliki payudara,"

"Dan seiring saya dewasa dan melewati masa pubertas, saya tidak kunjung merasa nyaman dengan keduanya."

"Payudara ini tidak memberi manfaat apapun bagi saya, baik secara fisik maupun seksual, saya tidak paham mengapa mereka harus melekat di tubuh saya,"

"Ketidaksukaan ini terus berkembang, terlebih lagi ketika kehadirannya terasa semakin mengganggu aktivitas saya ketika berolahraga, melakukan yoga atau menunggang kuda."

"Saya merasa sangat tidak nyaman, saya sering menderita sakit di punggung. Bagi saya tidak ada kebaikan apapun dari payudara ini," katanya.

Selina Jenkins
Selina Jenkins pasca operasi pengangkatan payudaranya. (Supplied: Selina Jenkins)

Namun keinginan Jenkins untuk menyingkirkan kedua organ payudaranya ini tidak berjalan mudah.

Tahun 2012, sejumlah dokter bedah plastik yang didatanginya di Australia menolak melakukan operasi pengangkatan payudara miliknya kecuali untuk alasan medis atau bagian dari proses peralihan dirinya menjadi seorang laki-laki.

Jenkins mengaku dirinya merasa menjadi orang pertama yang menghendaki tindakan operasi nekat semacam itu di Australia.

Ia akhirnya berhasil menemukan seorang ahli bedah plastik di Florida, AS yang bersedia membantu dirinya melakukan operasi itu.

Baru setelah menjalani operasi, seorang dokter bedah plastik di Melbourne, Andrew Ives, bersedia mengobservasi dirinya.

Bagi Jenkins sendiri, ini adalah sebuah keputusan mengenai kepemilikan atas tubuhnya sendiri dan juga citra dirinya.

Oleh karena itu ia sempat mempertanyakan respon berbeda dari ahli medis atas keinginannya untuk menghilangkan payudara.

Ia menilai keputusannya itu tidak berbeda dengan keputusan jutaan perempuan untuk melakukan operasi pembesaran payudara.

"Saya sangat tidak bahagia dengan bagian tubuh saya yang satu ini dan tersedia pilihan bagi saya untuk mengubahnya," katanya.

"Orang melakukan operasi bedah plastik setiap hari, dan mereka tidak pernah dipertanyakan keputusannya. Mungkin karena memperbesar payudara dan menyuntik botox itu dianggap proses yang normal," katanya.

Dr Andrew Ives sepakat dengan pendapatnya dan menilai keinginan Selina untuk menghilangkan kedua payudaranya memang sesuatu yang tidak normal yang dapat memicu perbedaan ahli medis dalam menyikapinya.

"[Sekarang] seseorang bisa mendatangi klinik bedah plastik mana saja dan meminta pembesaran payudara. Dan itu adalah hal yang normal. Sementara apa yang diinginkan Selina, bukan hal yang normal,"

"Dan sesungguhnya itu adalah standar ganda...mengapa anda bersedia melakukan operasi pembesaran payudara pada seseorang tapi tidak bersedia melayani permintaan untuk menyingkirkan payudara mereka. Mengapa menilai keinginan itu tidak wajat?

Namun Dr Ives meyakini di masa mendatang sikap para ahli bedah plastik ini lambat laun akan berubah. Seseorang yang memiliki keinginan serupa dengan Selina di kemudian hari akan lebih mendapat dukungan, seiring berevolusinya 'standar operasi bedah plastik yang dianggap normal' di masyarakat.

Dirangkum dari artikel berbahasa Inggris disini.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com