detikNews
Kamis 12 September 2019, 10:52 WIB

'Terharu Bisa Yasinan di Makam', Kisah Muslim Indonesia Ibadah di China

ABC Australia - detikNews
Terharu Bisa Yasinan di Makam, Kisah Muslim Indonesia Ibadah di China
Beijing -

Beribadah di negeri orang terkadang menjadi sebuah tantangan bagi sebagian Muslim Indonesia. Susahnya mencari masjid atau ruangan sholat hingga tidak tersedianya makanan halal berada di antara tantangan itu.

Poin Utama Muslim di China

Tapi rupanya, kondisi itu tak dirasakan Prima Nurahmi, peneliti Muslim yang baru kembali dari studi di China.

"Ya Allah...bisa yasinan di China, di makam Islam, itu rasanya...terharu banget," ujar Prima dalam sebuah diskusi buku tentang Muslim Indonesia dan China di Jakarta, pekan lalu.

Buku yang terbit April 2019 itu sendiri membahas kehidupan Muslim di China dan dinamika hubungan China-Indonesia, utamanya terkait isu Islam dan kebebasan beribadah Muslim.

Kepada ABC, perempuan berhijab itu lantas menceritakan kisahnya mengunjungi makam murid Nabi (Muhammad SAW) di kota Quanzhou, Fujian, tak jauh dari tempatnya belajar.

Apa yang dilakukannya saat itu adalah bagian dari aktivitas ziarah makam bersama teman-temannya.

"Seingat saya, cuma izin masuk buat ziarah ke pengelola kompleks makam Islam di Quanzhou."

"Lokasi kompleksnya kan luas banget. Dan enggak mengganggu masyarakat," tutur penerima beasiswa One Belt One Road untuk pegawai negeri sipil ini.

Pengalaman beribadah lain yang pernah dirasakan Prima di China adalah menggelar peringatan Maulid Nabi atau diba'an di komplek kampusnya.

Ahmad Zuhri di depan Masjid Jiang An di kota Wuhan, China.

Ahmad Zuhri di depan Masjid Jiang An di kota Wuhan, China. (Supplied)

Dari 55 etnis minoritas yang terdapat di China, 10 di antaranya beragama Islam.

Populasi minoritas Muslim itu terkonsentrasi pada etnis Hui dan Xinjiang.

Antropolog agama dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Saiful Hakam, mengatakan identitas etnis dipandang lebih penting dan signifikan ketimbang identitas agama di China.

"Etnis Hui itu dari sisi jasmani dan sisi budaya mirip dengan etnis mayoritas Han."

"Etnis Hui jarang ada masalah dengan etnis Han dan identitas nasional China," jelas peneliti antropologi yang juga pernah belajar di China selama setahun ini.

Berbeda dengan Hui, etnis Uyghur di Xinjiang, sebut Hakam, tak berbagi sentimen yang sama.

"Sama sama Muslim dengan Hui tapi jasmani mereka lebih mirip orang Turki. Makanan, pakaian, bahasa sangat sangat berbeda," katanya.

Simak informasi terkait komunitas Indonesia di Australia lainnya hanya diABC Indonesiadan bergabunglah dengankomunitas kami di Facebook.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com